RADARSEMARANG.ID, Tegal - Suasana Pos Kesehatan Desa (PKD) Sumingkir, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, tampak berbeda. Ruangan yang biasanya digunakan untuk rapat, kini disulap menjadi tempat stimulasi anak usia 0-6 tahun.
Stimulasi tumbuh kembang anak usia 0-6 tahun ini sangat penting untuk mengoptimalkan perkembangan motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan moral. Masa golden age ini menjadi waktu perkembangan otak yang sangat pesat. Karena itu, dibutuhkan stimulasi yang berkualitas pada anak.
Ruangan itu pun riuh oleh tawa anak-anak setiap ada kelas pada hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Di salah satu sudut, bocah usia 5-6 tahun sibuk merangkai puzzle warna-warni. Di sisi lain, beberapa anak bermain bola kecil sambil didampingi orang tua.
Pagi itu, Program Stimulasi Dini berlangsung dengan penuh antusias. Program ini dirancang untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal melalui deteksi dini dan stimulasi yang tepat, serta dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan Posyandu dan skema Integrasi Layanan Primer (ILP) di PKD Desa Sumingkir.
Fasilitator secara detail menjelaskan pola pengasuhan yang tepat sesuai tahapan usia anak. Para orang tua duduk melingkar, menyimak dengan serius. Sesekali mereka mencatat, lalu mempraktikkan langsung cara mendampingi anak bermain yang benar.
"Setiap usia beda perlakuannya. Stimulasi tidak harus mahal, bisa lewat bermain sederhana seperti menyusun puzzle atau permainan bola. Yang penting ada interaksi dan pendampingan," ujar Bidan Desa Sumingkir, Siti Mafruroh, yang juga merupakan Koordinator Desa Program SPRING di Desa Sumingkir.
Ia menjelaskan, Program Stimulasi Dini merupakan kolaborasi Tanoto Foundation dengan Pemerintah Kabupaten Tegal. Program ini melengkapi layanan posyandu yang selama ini fokus pada penimbangan, pengukuran tinggi badan, lingkar kepala, hingga pemberian vitamin. Sementara itu, di PKD ini ada kelas yang memang fokus pada stimulasi anak.
"Dengan Program Stimulasi Dini, layanan di PKD tidak hanya memantau fisik anak, tetapi juga perkembangan otak, bahasa, motorik, dan sosialnya. Ini bagian dari penguatan ILP," jelasnya.
Sebelum berjalan di PKD dan Posyandu, sebanyak 35 peserta yang terdiri dari kader posyandu dan tenaga kesehatan mengikuti pelatihan intensif selama lima hari pada Desember 2025. Mereka dibekali materi stimulasi perkembangan anak usia 0-6 tahun, teknik komunikasi, hingga pemanfaatan Buku KIA dan Alat Permainan Edukatif (APE).
Sejak Januari 2026, kelas stimulasi rutin digelar di PKD Sumingkir setiap Senin, Rabu, dan Sabtu. Satu kelas diisi 10-12 ibu dan anak sebagai percontohan.
Hasilnya mulai terlihat. Anak-anak yang sebelumnya malu kini lebih berani bersosialisasi. Orang tua pun lebih aktif bertanya dan memahami pentingnya stimulasi sejak dini.
"Anak yang awalnya pasif sekarang mulai aktif bermain dan mencoba APE sesuai usianya. Orang tua juga punya 'PR' untuk melanjutkan stimulasi di rumah," tambah Siti.
Siti menjelaskan bahwa dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), pendekatan Integrasi Layanan Primer (ILP) dirancang menyeluruh dan berkesinambungan, mencakup seluruh siklus kehidupan ibu dan anak, mulai dari masa kehamilan, persalinan, bayi, balita, hingga usia sekolah. Pendekatan ini menekankan pentingnya kesinambungan layanan promotif dalam satu sistem pelayanan yang terpadu. Dalam konteks stimulasi tumbuh kembang, stimulasi otak untuk usia 0-12 bulan berfokus pada sensorik hingga ikatan emosional. Misalnya, orang tua perlu menatap mata bayi saat berbicara, mengajaknya berbicara, mengulangi ocehan anak, hingga memutar musik yang lembut untuk menguatkan koneksi saraf sensorik.
Lalu, stimulasi pertumbuhan otak untuk usia 1-2 tahun berfokus pada bahasa dan eksplorasi. Misalnya, dengan membacakan buku bergambar, bermain sebab-akibat dengan menyusun balok untuk melatih logika dasar, serta mengenalkan warna.
Kemudian, untuk usia 2-4 tahun, fokusnya pada imajinasi dan emosi. Misalnya, dengan mengajak anak bermain peran sebagai penjual dan pembeli, atau bermain masak-masakan. Dengan demikian, anak bisa mengembangkan kreativitas. Anak juga bisa diajak bermain puzzle untuk melatih kemampuan problem solving.
Sedangkan stimulasi otak untuk usia 4-6 tahun fokusnya pada kemampuan anak mengontrol diri, mengingat instruksi, serta menyelesaikan tugas. Pada usia ini, orang tua bisa mulai mengajak anak belajar membaca dan menulis. Kemudian juga berhitung, sehingga bisa menguatkan logika.
"Masa golden age ini sangat penting, jadi tumbuh kembang anak di usia ini benar-benar harus diperhatikan," akunya.
Salah satu peserta, Nur Sopiyatun, bahkan rela berjalan 15 menit dari rumahnya untuk mengikuti kelas stimulasi tentang tumbuh kembang anak. Ia datang bersama anak keduanya. Namanya Affan, usianya hampir enam tahun. Saat ditemui, Affan sedang bermain puzzle bersama Sopiyatun.
Dibantu ibunya, Affan sedikit demi sedikit menyusun potongan puzzle menjadi gambar yang utuh. Sesekali ia juga bermain bola kecil, belajar mengenali warna, hingga membaca dan menulis. Sementara ibunya, Nur Sopiyatun, diajari tentang pola pengasuhan yang baik untuk anak.
"Di sini diajari banyak pola pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Misalnya, kalau ngomong sama anak harus lembut dan nggak boleh pakai kata-kata 'jangan', karena itu tidak baik," ungkapnya.
Nur Sopiyatun mengaku merasa terbantu dengan adanya Program Stimulasi Dini ini. Ibu 48 tahun ini mengaku aktif ikut kelas. Sebab, anaknya bisa menjadi lebih percaya diri.
"Anaknya senang belajar di sini, bisa sambil main. Saya juga dapat ilmu tentang parenting," bebernya.
Sudah sebulan Sopiyatun mengikuti kelas. Ia mengaku sudah ada perbedaan yang signifikan pada anak keduanya. Selain lebih aktif, Affan juga lebih mudah diajak berkomunikasi. Anaknya juga lebih perhatian dan penurut.
"Kalau perbedaannya, anak kedua ini lebih aktif dan percaya diri dibanding kakaknya dulu. Dia juga lebih penurut, saya selalu memberikan pemahaman yang mudah ditangkap oleh pemikirannya," akunya.
Sementara itu, ia pun lebih bisa bersabar dalam mendampingi tumbuh kembang anaknya. Ia mengaku kini cara mendidiknya sudah berubah. Jika dulu mudah terpancing emosi saat anak rewel, sekarang ia memilih menenangkan diri dan mengajak anak berbicara pelan-pelan.
"Di rumah sering ngobrol sama anak. Jadi kalau saya lagi marah, anak tidak saya perlakukan kasar, lebih bisa sabar untuk ngurus anak," tandasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi