RADARSEMARANG.ID, Semarang - Siapa sangka, kemasan susu ultra high temperature (UHT) dan tiket kereta api bekas bisa menjelma menjadi media pembelajaran numerasi yang asyik dan bermakna. Di tangan Erwin Prastyo, guru SDN 1 Curugsewu, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, benda-benda itu disulap menjadi alat untuk mengasah numerasi dan literasi murid-murid kelas VI.
Pria yang akrab disapa Pak Erwin ini merupakan fasilitator untuk program numerasi Tanoto Foundation. Pengalamannya membimbing guru-guru, khususnya di kelas awal, menjadikannya figur yang gigih mengampanyekan bahwa numerasi tidak melulu tentang rumus matematika yang abstrak. Erwin bahkan menyulap susu UHT dan tiket kereta menjadi pembelajaran kontekstual yang dekat dengan kehidupan anak-anak.
"Numerasi itu sering disamakan dengan matematika. Padahal, numerasi itu lebih luas dari sekadar matematika. Ini tentang bagaimana kita menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Erwin.
Perjalanannya bersama Tanoto Foundation cukup panjang. Ia bergabung pertama kali pada tahun 2018 saat masih mengajar di MTs Darul Islah, Sukorejo. Kala itu, ia mendalami pendekatan MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi) yang hingga kini masih menjadi prinsip utama dalam mengajarnya. Setelah sempat vakum dan pindah tugas ke SD pada tahun 2023, ia kembali bergabung sebagai fasilitator numerasi pada tahun 2025.
“Saya merasakan sendiri bedanya. Dulu di MTs, fokusnya per mapel. Sekarang, sebagai fasilitator numerasi di SD, tantangannya beda, karena berhadapan dengan guru-guru kelas awal yang lembut. Tapi justru di sinilah pondasi penting dibangun,” cerita bapak tiga anak ini.
Salah satu inovasi yang baru saja ia terapkan adalah pembelajaran menggunakan kemasan susu UHT. Ide ini berawal dari kegelisahannya melihat murid-murid kelas VI yang masih lemah dalam penalaran. Ia pun mengajak setiap anak membawa satu kemasan susu UHT dengan merek berbeda.
Mereka kemudian berkelompok, mengamati komposisi, menghitung persentase susu segar, membandingkan harga, hingga membuat diagram batang dari data yang ditemukan. Diskusi pun hidup. Anak-anak saling bertukar informasi, mempresentasikan temuan mereka, dan pada akhirnya bisa menjawab pertanyaan besar: susu mana yang paling berkualitas?
“Itu penerapan MIKiR. Anak-anak mengalami langsung, berinteraksi dalam kelompok, berkomunikasi saat mempresentasikan, dan merefleksikan mana susu yang baik untuk dikonsumsi. Bahasa Indonesia-nya juga masuk, misalnya materi kata superlatif seperti lebih tinggi atau paling banyak,” bebernya.
Tak hanya susu, ia juga memanfaatkan tiket kereta api. Tiket perjalanannya sengaja difotokopi dan dijadikan lembar kerja. Dari situ, anak-anak belajar menghitung waktu tempuh, memahami informasi stasiun keberangkatan dan tujuan, hingga memperkirakan waktu berangkat dari rumah agar tidak ketinggalan kereta.
“Anak-anak di Sukorejo - Kendal mungkin jarang naik kereta. Lewat tiket ini, mereka belajar situasi nyata yang suatu saat akan mereka alami. Jadi, pembelajaran kontekstual itu penting,” tambahnya.
Kegigihannya dalam menerapkan pendekatan MIKiR juga pernah mengantarkan Erwin meraih Juara 3 Lomba Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2022. Lomba yang diikuti guru, kepala madrasah, pengawas, laboran, dan pustakawan se-Jawa Tengah ini menjadi ajang pembuktiannya.
Kala itu, ia menyusun praktik baik tentang pembelajaran kebencanaan tanah longsor yang terintegrasi dalam mata pelajaran IPA untuk siswa MTs. Perangkat pembelajaran yang ia buat, mulai dari RPP, LKPD, hingga bahan ajar, dirancang khusus dengan menyisipkan empat unsur MIKiR di setiap kegiatan.
“Saya integrasikan materi IPA tentang tanah dan peran tumbuhan dengan nilai-nilai mitigasi bencana. Murid tidak hanya belajar teori, tapi juga bagaimana menyiapkan diri jika bencana longsor terjadi,” kenangnya.
Di sela-sela tugasnya mengajar dan menjadi fasilitator, Erwin juga aktif menulis. Ia bahkan memiliki program tahunan menerbitkan buku kumpulan karya murid-muridnya. Tahun 2026 ini, ia tengah menyiapkan buku ketiga yang berisi cerita pengalaman belajar anak-anak, termasuk saat praktik dengan susu UHT.
“Saya senang membaca buku. Semangat itu yang ingin saya tularkan. Jadi, saya buat buku, anak-anak saya minta berani menulis dulu, tidak perlu sempurna. Hasilnya, mereka antusias dan orang tua pun sangat mendukung,” ujarnya.
Kepada rekan-rekan guru, terutama yang mengajar di kelas awal, Erwin berpesan untuk tak pernah lelah belajar. Menurutnya, pondasi yang kuat di kelas awal akan sangat menentukan masa depan anak.
“Jangan sampai ada guru yang berkata 'pokoke ngene' saat murid bertanya. Hindari itu. Belajarlah terus, cari pengalaman. Pondasi yang kuat di kelas awal akan sangat menentukan masa depan anak. Pesannya, jangan lelah untuk terus belajar, cari pengalaman. Demi kebaikan kelas dan pendidikan kita,” pungkasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi