Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Lahan Kebun dan Peternakanku, Cara Eko Prasetyo Jadikan Matematika Lebih Mudah dengan Discovery Learning

Khafifah Arini Putri • Selasa, 3 Februari 2026 | 17:36 WIB
Fasda Program PINTAR Tanoto Foundation Eko Prasetyo Nur Utomo sedang menjelaskan pembelajaran Lahan Kebun dan Peternakanku pada peserta didik.
Fasda Program PINTAR Tanoto Foundation Eko Prasetyo Nur Utomo sedang menjelaskan pembelajaran Lahan Kebun dan Peternakanku pada peserta didik.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Suasana pagi di halaman SD Negeri Pendrikan Lor 01 Semarang terasa berbeda. Alih-alih duduk rapi di dalam kelas, puluhan siswa kelas V justru berkumpul di teras depan kelas dan halaman sekolah. Mereka sibuk dengan kertas karton, penggaris, dan spidol warna-warni.

Di tengah mereka, seorang guru dengan semangat tinggi turut mendampingi. Ia juga menjelaskan pembelajaran dari satu siswa ke siswa lain. Sesekali ia jongkok, sesekali berdiri sambil bertanya, memastikan muridnya paham dengan soal yang diberikan. Dialah Eko Prasetyo Nur Utomo, S.Pd., M.Pd., Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation yang sedang menularkan praktik baik pembelajaran kontekstual. Ia menggabungkan matematika, imajinasi, dan dunia nyata.

Eko, sapaan akrabnya, membagi peserta didik secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas lima hingga enam orang. Hari itu, Eko mengajak 27 siswa kelas V belajar di luar ruangan melalui kegiatan bertajuk “Lahan Kebun dan Peternakanku”. Setiap siswa pun sibuk dengan tugasnya masing-masing: ada yang giat menghitung kotak, ada yang berdiskusi menentukan letak kebun sayur dan kandang ternak impian mereka, ada pula yang sedang menggunting gambar sapi dan sayuran. Suasananya riuh, namun penuh antusias.

“Matematika sering dianggap susah dan membosankan,” kata Eko.

Itulah kegelisahan awal yang mendorongnya untuk merancang pembelajaran berbeda. Meski ia rutin memberi “sarapan matematika” berupa latihan perkalian dasar, Eko merasa perlu cara lain agar anak-anak benar-benar memahami konsep, bukan sekadar menghafal rumus. Ia ingin menjadikan matematika sebagai pembelajaran yang menyenangkan dan mudah bagi siswa.

Eko menjelaskan, pembelajaran ini dibagi ke dalam kelompok kecil agar para siswa terlatih bekerja sama dalam tim. Mereka diberi permasalahan, yakni menjadi seorang pengusaha sukses yang memiliki lima lahan kebun dan lima peternakan. Setiap lahan memiliki luas tertentu yang harus mereka desain sendiri menggunakan bangun datar.

“Kalian adalah calon pengusaha sukses yang punya lima lahan peternakan dan lima lahan perkebunan. Katalog ini berisi luas total setiap lahannya. Tugas kalian, sebagai tim, mendesain bentuk lahan itu di kertas karton,” jelas Eko kepada siswa.

Di atas kertas karton ukuran A2 yang telah diberi garis kotak-kotak, para siswa yang sudah menentukan ukuran lahan untuk kebun dan ternak mulai menggambar. Setiap kotak disepakati bernilai satu meter persegi. Dari situlah proses berpikir dimulai. Anak-anak bebas menyusun lahan berbentuk persegi, persegi panjang, segitiga, hingga trapesium, asalkan luasnya sesuai.

“Silakan diatur desainnya, biar rapi dan tidak ada lahan yang kosong,” imbuhnya.

Tanpa disadari, anak-anak sedang belajar konsep luas bangun datar dengan cara mereka sendiri. Setelah menggambar, mereka menghitung ulang jumlah kotak untuk memverifikasi apakah luasnya sudah sesuai. Jika benar, lahan ditebalkan, diwarnai, lalu ditempeli ikon peternakan dan perkebunan, seperti sapi, kambing, kuda, hingga sayuran, sebagai penanda.

Menurutnya, pendekatan metode belajar ini selaras dengan discovery learning dan problem-based learning (PBL), di mana pembelajaran berangkat dari masalah nyata.

“Jadi (pembelajaran) ini adalah implementasi discovery learning dan problem-based learning,” jelas Eko usai memandu sesi.

Tahap berikutnya, anak-anak menuliskan langkah-langkah penyelesaian di buku tulis. Mereka tak hanya menyebut “8 kali 8”, tetapi juga menuliskan luas persegi = sisi × sisi. Di sinilah rumus tak lagi terasa asing, melainkan lahir dari proses berpikir. Sehingga tak hanya belajar numerasi, literasi siswa juga akan terasah.

“Saya hanya memberi masalah, luas lahan sekian. Mereka sendiri yang berkolaborasi mencari solusi dan menemukan konsep rumus luas melalui praktik langsung. Harapannya, selain paham matematika, pola pikir kewirausahaan dan kemampuan memecahkan masalah (problem-solving) juga tertanam. Literasi dan numerasi juga bisa berjalan beriringan,” tegasnya.

Lebih lanjut, makna kegiatan ini lebih jauh dari sekadar matematika. Eko mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak diajak membayangkan bahwa kelak mereka bisa menjadi petani atau peternak sukses.

Upaya Eko tak berhenti di satu metode. Ia dikenal konsisten menghadirkan pembelajaran aktif dan kontekstual. Mulai dari IPAS Lab Book, kegiatan Penjelajah Cilik Cerdik untuk literasi digital dan computational thinking, hingga pengembangan aplikasi OSI CERIA (Organ Sistem Pencernaan Manusia) berbasis augmented reality tentang sistem pencernaan manusia.

Tak heran, kiprahnya mendapat pengakuan. Melalui inovasi OSI CERIA pada 2025, Eko meraih Juara II Guru Berprestasi tingkat Kota Semarang.

Selain itu, bersama timnya, Eko tergabung dalam Fasper Berkelas (Fasilitator Perubahan Berkelas) yang menginisiasi EVI Map (Ethno Science Village Map), pembelajaran numerasi berbasis kearifan lokal.

Fasper Berkelas ini didampingi langsung oleh Tanoto Foundation. Di Kota Semarang, program ini diterapkan di empat kecamatan dengan menggandeng 30 guru. Para guru ini diberikan pelatihan untuk membuat buku tentang potensi kearifan lokal di sekitar sekolah. Menariknya, melalui pembelajaran EVI Map, terjadi peningkatan literasi dan numerasi pada peserta didik.

“Hasilnya, tes awal (baseline) dan tes akhir (endline) pada 300 siswa menunjukkan peningkatan kompetensi numerasi rata-rata 41,39 persen, melampaui target awal 20 persen,” bebernya.

Sejak 2021, Eko menjadi fasilitator daerah Tanoto Foundation. Perannya bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga menularkan praktik baik kepada rekan-rekan guru.

“Saya belajar menjadi fasilitator, belajar berbagi, belajar berbicara di depan banyak orang, sekaligus melatih public speaking,” akunya.

Dari situlah ia aktif mendampingi guru-guru melalui komunitas belajar, Kelompok Kerja Guru (KKG), dan forum-forum lainnya.

Menariknya, menjadi guru bukanlah cita-cita awal Eko. Saat duduk di bangku kelas V, ia sempat ditanya impian di masa depan oleh gurunya. Jawabnya singkat: guru adalah profesi yang tak disukai.

“Dan itu saya baru menyadari, ternyata yang tidak saya sukai justru menjadi sebuah pekerjaan yang saya geluti saat ini,” ungkapnya.

Lulusan S2 Pendidikan Dasar Unnes ini pun akhirnya menikmati pekerjaannya di dunia pendidikan. Ia menemukan jalannya sendiri.

“Ketemu anak-anak dengan berbagai karakter itu justru menantang. Dari situ saya terus berpikir, bagaimana caranya agar semua anak bisa belajar dengan bahagia,” pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#literasi dan numerasi #Kertas Karton #KOTA SEMARANG #Program Pintar #fasilitator daerah #tanoto foundation