RADARSEMARANG.ID, Kendal - Tak ada lagi laporan manual menumpuk di meja pengawas sekolah. Kini di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kendal, semua bisa dipantau lewat satu layar. Namanya E-Kendali. Bukan sekadar alat pelaporan. Platform digital ini menjadi jantung kendali dalam sistem pemantauan mutu pendidikan dasar di seluruh sekolah Kabupaten Kendal.
Terutama dalam memastikan pembelajaran literasi dan numerasi di setiap satuan pendidikan berjalan sesuai arah kebijakan daerah dan nasional.
Di bawah kepemimpinan Drs. Ferinando RAD Bonay, E-Kendali dirancang untuk menjawab kebutuhan akan sistem pembelajaran yang akuntabel, terukur, serta mendukung Peraturan Bupati Kendal Nomor 49 Tahun 2024 tentang Gerakan Peningkatan Kemampuan Literasi dan Numerasi.
“E-Kendali ini kami hadirkan agar setiap sekolah bisa melihat capaian mereka secara langsung, mengetahui indikator mana yang masih lemah, dan mendapat rekomendasi tindak lanjut berbasis data,” kata Kepala Disdikbud Kendal Ferinando RAD Bonay saat ditemui di Kantornya.
Lewat E-Kendali, setiap sekolah bisa melakukan self assesment. Mereka dapat melaporkan progres kegiatan literasi dan numerasi secara real-time. Sistem ini menampilkan dua kelompok besar indikator, yakni delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan 14 indikator implementasi literasi-numerasi dari Perbup Nomor 49 Tahun 2024.
Ke-14 indikator tersebut menggambarkan aktivitas strategis yang bisa dilakukan sekolah untuk meningkatkan budaya baca dan kemampuan berhitung siswa. Mulai dari program membaca 15 menit sebelum belajar, perpustakaan standar, pojok baca, kelas numerasi kontekstual (KNK), tantangan numerasi harian (TNH), penggunaan big book dalam pembelajaran, hingga festival literasi-numerasi sekolah (FLNS). Ada pula program kolaborasi bahan bacaan, literasi digital, hingga pengembangan lingkungan kaya sumber belajar. Semua data terekam rapi dan bisa langsung diakses oleh pengawas, kepala bidang, hingga kepala dinas.
"Kami ingin memastikan setiap program literasi dan numerasi di sekolah berjalan sesuai arah kebijakan Perbup 49 Tahun 2024. Dengan E-Kendali, pendampingan bisa dilakukan tepat sasaran,” jelas Feri sapaan akrabnya.
Tampilan dasbor E-Kendali ini sederhana, tapi fungsional. Ada grafik capaian tiap indikator, laporan kegiatan sekolah, hingga pemetaan wilayah berdasarkan tingkat ketercapaian. Setelah guru mengisi indikator, sistem akan menampilkan predikat capaian sekolah. Dengan begitu, Dinas Pendidikan bisa menentukan sekolah mana yang butuh pendampingan intensif.
"Kalau dulu kami hanya bisa menebak sekolah mana yang butuh bimbingan, sekarang kami bisa tahu pasti, sekolah mana yang unggul, mana yang perlu didampingi. Pendampingan jadi tepat sasaran," imbuhnya.
Feri menjelaskan misalnya, sekolah yang belum rutin menjalankan kegiatan sesuai indikator akan terdeteksi di dasbor E-Kendali. Petugas bisa langsung menghubungi kepala sekolah untuk membantu perbaikan.
"Data yang masuk itu jelas, indikatornya detail di setiap sekolah. Jadi kami tahu bagaimana praktik literasi dan numerasi itu benar-benar dilakukan,” jelas Rad Bonay.
Dari dashboard E-Kendali itu, sekolah juga bisa belajar dari sesama. Mereka dapat melihat sekolah lain yang menjadi rujukan praktik baik, mempelajari inovasi yang diterapkan, dan mengadopsinya sesuai kebutuhan.
“E-Kendali bukan hanya soal angka, tapi ruang belajar bersama,” tambahnya.
E-Kendali sendiri menaungi lebih dari 600 satuan pendidikan di Kendal terdiri dari 567 SD dan 130 SMP. Setiap jenjang punya target indikator berbeda. SD dan SMP wajib memenuhi minimal lima indikator dari aktivitas penunjang literasi dan numerasi sesuai dengan juknis. Menurut Feri dari jumlah sekolah tersebut, kini seluruh SD sudah melakukan self assesment di E-Kendali, sementara jenjang SMP masih dalam proses input data.
"Bagi jenjang PAUD itu tiga indikator, lalu untuk SD dan SMP lima indikator harus dijalankan, itu semua jadi ukuran capaian literasi-numerasi sekolah," bebernya.
Lebih lanjut, Feri menyebut Peraturan Bupati Nomor 49 Tahun 2024 lahir dari kebutuhan untuk memperkuat gerakan literasi dan numerasi lintas sektor. Ia menjelaskan, dasar pembentukannya bukan karena literasi di Kendal rendah, tapi karena literasi dan numerasi adalah tanggung jawab bersama, tidak hanya sekolah.
“Anak-anak Kendal tidak hanya belajar di sekolah di bawah Disdikbud, banyak juga yang di madrasah. Maka, perlu wadah bersama yang menaungi semua, itulah Perbup Nomor 49 Tahun 2024,” jelasnya.
Peraturan itu juga menggandeng berbagai pihak dalam peningkatan literasi dan numerasi. Seperti Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah, komunitas literasi, serta lembaga mitra Tanoto Foundation. Menurutnya kolaborasi ini memastikan budaya membaca dan berhitung tidak hanya tumbuh di ruang kelas, tapi juga di ruang publik dan keluarga.
Sebelum E-Kendali dioptimalkan, Disdikbud Kendal juga meluncurkan SPEKTRUM (Strategi Peningkatan Kompetensi dalam Literasi dan Numerasi). Melalui program ini, guru dan kepala sekolah mendapat pendampingan untuk memperkuat kualitas pembelajaran interaktif dan berpusat pada siswa. Menurutnya SPEKTRUM dan indikator dalam E-Kendali ini sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam (deep learning) yang digaungkan Kemendikdasmen.
“Kami kuatkan guru dengan metode pembelajaran kontekstual dan kreatif. Kepala sekolah juga kami dampingi agar memberi ruang inovasi. Dari situ, sekolah mulai punya budaya literasi yang hidup,” ujar Feri.
Dampaknya terlihat nyata. Berdasarkan rapor pendidikan daerah, Kendal naik dari kategori tuntas pratama menjadi tuntas madya pada 2025. Skor literasi-numerasi meningkat signifikan, dari 76,21 menjadi 83. Ia mempunyai target, tahun 2026 Kendal bisa mencapai tuntas utama.
“Kami berharap capaian 90 poin bisa diraih di tahun 2026, September lalu baru selesai penilaian, saat ini kita masih menunggu hasilnya,” tegasnya.
Feri menyebut kolaborasi dengan Tanoto Foundation menjadi kunci dalam membangun sistem E-Kendali. Tidak hanya membantu desain dan pendampingan teknis dashboard, tetapi juga menguatkan kapasitas guru melalui Program PINTAR Tanoto Foundation yang fokus pada peningkatan literasi dan numerasi.
"Tanoto Foundation sangat membantu, selain dari segi teknis. Ada guru yang menjadi fasilitator daerah melalui Program PINTAR Tanoto Foundation yang fokus berinovasi menularkan praktik baik di sekolahnya," ungkap Feri.
Perjalanan Ferinando RAD Bonay di dunia birokrasi terbilang panjang. Lulusan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) tahun 1993 ini pernah mengabdi di berbagai instansi, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, Kominfo, Kesbangpol, hingga menjabat Kepala Satpol PP pada 2010. Ia dikenal tegas namun terbuka pada inovasi.
Tahun 2023 menjadi titik baru ketika ia dipercaya memimpin Disdikbud Kendal. Tantangan besar langsung menanti, memperkuat mutu pendidikan dasar dan mendorong literasi numerasi di 600 sekolah di bawah naungan dinasnya. Namun dengan gaya kepemimpinan yang inklusif dan adaptif, ia menjadikan data, teknologi, dan kolaborasi sebagai fondasi.
“Bekerja di dunia pendidikan itu seperti menata masa depan. Saya ingin sistemnya kuat, bukan hanya programnya ramai sesaat,” tandasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi