RADARSEMARANG.ID, Kendal - Suasana kelas V SDN 1 Cepiring, Kendal, pagi itu berbeda. Para murid berdandan layaknya chef profesional dengan celemek dan topi kokinya.
Uniknya, celemek yang mereka kenakan adalah hasil daur ulang tas bekas yang dihiasi tempelan kain perca bermotif batik. Mereka bukan bersiap untuk memasak, melainkan mengikuti sebuah inovasi pembelajaran yang digagas guru mereka, Ulfatun Nadhifah.
Bu Ulfa, begitu ia disapa anak-anak, sering kali membuat inovasi pembelajaran yang disukai murid. Metodenya unik dan menarik serta mudah dipahami murid.
Ulfa merupakan Fasilitator Daerah (Fasda) Program PINTAR Tanoto Foundation. Berbekal pelatihan dari Tanoto Foundation itu, Ulfa sering menggabungkan beberapa program dalam satu kegiatan yang menggembirakan. Kali ini pembelajarannya berkaitan dengan materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) tentang sistem pencernaan dan makanan sehat.
Lewat kegiatan tersebut, Ulfa mengajarkan anak-anak akan pentingnya gizi seimbang, sekaligus cara menghitung kalori dari makanan yang mereka konsumsi sehari-hari.
"Tema makanan sehat itu memang sesuai dengan materi pembelajaran IPAS. Anak-anak sedang belajar tentang sistem pencernaan dan makanan sehat yang baik untuk tubuh," kata Ulfa.
Inovasi ini kemudian dikembangkan lebih jauh. Dalam penerapan pembelajarannya, Ulfa menyisipkan konsep numerasi, khususnya operasi hitung.
"Kebetulan juga anak-anak materi matematikanya itu tentang bilangan. Jadi saya sekaligus menyisipkan kepekaan bilangan pertama untuk operasi hitung, dengan menghitung kalori makanan," ungkapnya.
Ulfa pun menjelaskan lebih detail, sebelum kegiatan dimulai, anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Mereka diminta menempelkan gambar berbagai jenis makanan, mulai dari nasi, ayam goreng, tempe, sayur, hingga buah-buahan di kertas karton besar.
Kemudian secara bersama-sama mereka mencari tahu berapa jumlah kalori dari setiap makanan itu. Data kalori itu mereka dapatkan dari hasil pencarian di internet.
"Saya ajak anak-anak menghitung sendiri. Misalnya, satu piring nasi 175 kalori, tempe 90 kalori, ayam goreng 160 kalori. Dari situ mereka belajar operasi hitung sederhana sambil memahami bahwa tubuh butuh energi dalam jumlah tertentu,” jelasnya.
Ulfa tak ingin pelajaran berhenti di angka. Ia ingin anak memahami makna di balik angka itu.
“Jadi mereka tahu, kalau cuma makan nasi tanpa lauk dan sayur, gizinya tidak seimbang. Saya hubungkan juga dengan kebiasaan mereka makan di rumah, supaya bisa refleksi,” imbuhnya.
Tak hanya numerasi, literasi juga terintegrasi. Sebab sebelum menghitung jumlah kalori mereka akan menuliskan nama makanan tersebut. Selain itu murid juga harus teliti dalam membaca perintah.
"Murid akan menuliskan makanan yang ada di gambar, seperti ini juga literasinya dulu, nggih. Karena ketika mereka mengisi ini, mereka juga harus membaca teks informasi yang di papan, itu juga termasuk literasi," imbuhnya.
Menurut Ulfa, pendekatan itu selaras dengan metode MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, Refleksi) dari Program PINTAR Tanoto Foundation. Anak-anak tidak hanya mendengar teori, tapi juga mengalami dan menerapkan langsung konsepnya.
“Mereka mengalami sendiri bagaimana menghitung kalori dan memahami manfaatnya. Dari situ muncul kesadaran bahwa matematika itu dekat dengan kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Ia mengaku pendekatan lintas mata pelajaran seperti ini membuat anak tidak cepat bosan. Mereka juga akan lebih memahami pelajaran yang disampaikan.
"Kalau belajar cuma lewat buku, mereka cepat jenuh. Tapi kalau dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, anak-anak jadi lebih antusias,” ujarnya.
Ulfa mengaku, ide ini muncul dari pengalamannya saat mengawasi anak-anak makan. Ia melihat masih banyak murid yang tidak terbiasa makan sayur. Karena itu konsep Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan ia terapkan dalam pembelajaran ini.
“Dulu saya sempat mengawasi anak-anak saat makan siang. Ada yang cuma makan nasi sama kerupuk. Dari situ saya berpikir, mungkin berat badan mereka kurang karena asupan kalorinya juga kurang. Nah, dari situlah ide menghitung kalori ini muncul,” akunya.
Selain mengajar di kelas, Ulfa juga aktif membagikan praktik baiknya kepada guru lain di Kendal. Sebagai Fasilitator Daerah Tanoto Foundation, ia sering menjadi narasumber dalam pelatihan guru. Tak jarang, ide pembelajarannya ia bagikan di media sosial.
“Setiap kali saya posting kegiatan di media sosial, pasti ada teman guru yang minta lembar kerjanya. Mereka bilang mau menerapkan juga di sekolahnya,” bebernya.
Dengan cara sederhana namun penuh makna, Ulfatun Nadhifah membuktikan, di tangan guru yang kreatif, matematika, sains, hingga seni bisa berpadu menjadi pengalaman belajar yang berwarna. Baginya menjadi guru berarti terus berinovasi. Ia pun percaya, pembelajaran yang mendalam tidak harus mahal.
“Kita bisa pakai bahan di sekitar. Tas bekas, kain perca, gambar dari majalah, semua bisa jadi media belajar yang seru kalau kita mau berpikir kreatif,” tandasnya. (kap/web)
Editor : Baskoro Septiadi