Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Jepretan Panca Indra, Cara Kreatif Annisa Noviyani Menumbuhkan Literasi di Kelas

Khafifah Arini Putri • Rabu, 8 Oktober 2025 | 20:15 WIB
Fasda Program PINTAR Tanoto Foundation, Annisa Noviyani S.Pd dari SMPN 1 Patean Kendal sedang bercengkrama dengan siswa.
Fasda Program PINTAR Tanoto Foundation, Annisa Noviyani S.Pd dari SMPN 1 Patean Kendal sedang bercengkrama dengan siswa.

RADARSEMARANG.ID, Kendal - Setiap guru punya cara unik untuk membuat siswa lebih dekat dengan literasi. Bagi Annisa Noviyani S.Pd, guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Patean Kendal ini mengaku kunci utamanya ada pada pengalaman nyata siswa.

Sejak 2018, Annisa sapaan akrabnya dipercaya sebagai fasilitator daerah (fasda) Program PINTAR Tanoto Foundation. Tugasnya menularkan praktik baik dan inovasi kepada rekan sesama guru dan para siswa. Fokusnya adalah pada penguatan literasi dan numerasi. Ia pun percaya, pembelajaran bahasa bukan hanya soal teori di buku teks, melainkan juga pengalaman yang dirasakan langsung siswa.

"Kalau anak hanya diminta menulis tanpa mengalami peristiwa, mereka biasanya bingung memulai. Tapi ketika diberi pengalaman nyata, tulisan mereka akan lebih mengalir,” kata Annisa.

Salah satu inovasi yang dikembangkan Annisa dalam meningkatkan literasi siswa ialah “Jepretan Panca Indra”. Metode ini ia terapkan saat mengajarkan teks deskripsi di kelas IX. Kebetulan, momen HUT RI 17 Agustus 2025 lalu menjadi panggung nyata bagi para peserta didiknya.

Ia menerapkan pembelajaran kontestual. Sama halnya dengan metode MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi). Praktiknya, siswa diminta ikut dalam karnaval desa, mulai dari menyiapkan kostum hingga mengikuti parade. Setelah itu, mereka harus menuliskan pengalaman tersebut dalam bentuk teks deskripsi.

“Saya minta mereka merenungkan, lalu menuliskan peristiwa yang dialami, apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Minimal lima kalimat dalam satu paragraf,” jelasnya.

Hasilnya mengejutkan. Siswa yang biasanya kesulitan menuangkan ide, menjadi lebih lancar menulis ketika diminta menggambarkan pengalaman pribadi. Mereka menceritakan bagaimana membuat maskot karnaval, rasa lelah saat pawai, hingga kegembiraan bisa tampil di depan warga.

Menurut Annisa, metode ini bukan hanya melatih keterampilan menulis, tetapi juga membiasakan siswa untuk mengamati lingkungan sekitar secara detail.

“Kalau hanya disuruh menulis bebas, mereka banyak yang buntu. Tapi ketika diminta menulis pengalaman nyata, mereka jadi antusias,” ungkapnya.

Sebagai guru, Annisa juga memahami pentingnya menyeimbangkan literasi dan numerasi. Selain membaca dan menulis, siswa di sekolahnya juga dibiasakan berlatih numerasi dasar.

“Dulu ada program Gerimis, gerakan literasi Rabu dan Kamis. Sekarang diganti jadi literasi di hari Rabu, numerasi di hari Kamis,” terangnya.

Setiap sesi berlangsung 15 menit, siswa diminta membaca senyap dan merangkum bacaan di jurnal. Sementara numerasi berupa latihan dasar matematika yang ia terapkan saat mengajarkan teks eksplanasi. Annisa mengaitkannya dengan tema kewirausahaan.

Siswa diminta untuk mewawancarai pedagang kaki lima di sekitar sekolah. Lalu menghitung perkiraan modal, harga jual, dan keuntungan dari penjual. Dari situ, keterampilan bahasa sekaligus numerasi bisa berjalan beriringan.

"Melalui prkatik ini siswa tak hanya belajar literasi bercengkrama dan menuliskannya kembali, tapi numerasinya juga jalan," akunya.

Meski berbagai inovasi dilakukan, Annisa tetap menghadapi tantangan. Menurutnya, sebagian siswa masih memiliki keterbatasan kosakata, sehingga tulisan deskripsi mereka cenderung repetitif.

“Kalau sudah masuk majas, seperti personifikasi atau asosiasi, mereka masih bingung. Karena kosakata mereka terbatas,” kata Annisa.

Namun tantangan itu justru memotivasinya untuk terus berkreasi. Ia percaya bahwa keterampilan berbahasa bisa tumbuh seiring kebiasaan.

"Mereka sering mengulang kata yang sama dan masih sulit menggunakan majas untuk membuat tulisan lebih hidup. Ini yang perlu terus kita latih," tegasnya.

Lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini memang dikenal aktif dalam mengembangkan pembelajaran. Perannya sebagai fasda Tanoto Foundation membuatnya semakin mantap untuk berbagi praktik baik.

“Bagi saya, tugas guru bukan hanya mengajar, tapi juga menumbuhkan minat membaca, menulis, dan berpikir kritis pada siswa. Kalau mereka sudah terbiasa menulis dari pengalaman, mereka akan lebih percaya diri,” pungkasnya. (kap/web)

Editor : Baskoro Septiadi
#panca indra #literasi dan numerasi #Bahasa Indonesia #praktik baik #Program Pintar #tanoto foundation