Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Bidan Uli, Penjaga Tumbuh Kembang Anak di Desa Sokawera

Khafifah Arini Putri • Selasa, 7 Oktober 2025 | 01:49 WIB
Bidan Uli sedang memberikan materi pola asuh anak kepada ibu-ibu di Rumah Anak SIGAP di Desa Sokawera, Banyumas.
Bidan Uli sedang memberikan materi pola asuh anak kepada ibu-ibu di Rumah Anak SIGAP di Desa Sokawera, Banyumas.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas ada seseorang yang menjadi tumpuan ribuan warga. Namanya Fenti Uliviana atau akrab disapa Bidan Uli.

Langkah kakinya tak pernah lelah untuk menemui warga Desa Sokawera. Kadang ia menapaki jalan tanah, sering kali melewati gang sempit, bahkan harus mendaki jalan menanjak di perbukitan. Bukan sekadar silaturahmi, kedatangannya adalah untuk memastikan tumbuh kembang anak juga kondisi kesehatan masyarakat.

Selama 16 tahun, Bidan Uli mengabdi di Desa Sokawera. Ia mengurus sekitar 8.000 penduduk yang tersebar di sembilan RW dan 64 RT. Tak hanya melayani ibu hamil, balita, hingga lansia. Ia juga merangkul masyarakat melalui kegiatan PKK hingga posyandu dengan integrasi layanan primer (ILP). Namun, ada satu peran yang membuatnya sangat dekat dengan anak-anak dan para orang tua muda, yakni sebagai fasilitator Rumah Anak SIGAP.

"Bidan desa itu kan ujung tombak. Semua program Puskesmas larinya ke desa dan yang jadi garda depan ya bidan desa," jelas Uli.

Rumah pengasuhan anak usia dini yang digagas oleh Tanoto Foundation di Sokawera ini resmi berjalan sejak 2023. Dari awal, Uli sudah terlibat sebagai fasilitator. Ia memimpin kelas parenting dan stimulasi dini bagi anak-anak usia 0–3 tahun.

“Kalau dulu pembelajarannya menghadirkan dosen luar, sekarang lebih banyak ke saya,” katanya.

Di rumah sederhana yang dijadikan tempat belajar itu, anak-anak dibagi berdasarkan kelompok usia. Mulai dari 0–6 bulan, 6–12 bulan, 12–24 bulan, dan 24–36 bulan. Setiap kelas berlangsung seminggu sekali.

Materinya tak hanya menyentuh anak, tetapi juga orang tuanya. Mereka belajar pola asuh anak yang baik dan benar.


“Kalau bayi 0–6 bulan, fokusnya ke ibunya. Cara menyusui, pemberian ASI eksklusif, hingga MPASI. Kalau anak sudah di atas satu tahun, baru stimulasi motorik kasar dan halus,” jelas Uli.

Sementara Bidan Uli di Rumah Anak SIGAP secara khusus menangani kelas untuk anak usia dua hingga tiga tahun. Katanya, kelas ini terkenal ramai dan penuh energi.

“Anak-anak usia segitu sudah aktif sekali, kadang berebut mainan. Tantangannya adalah membuat mereka fokus sembari tetap memberikan materi kepada ibu-ibunya,” bebernya.

Pada usia 2-3 tahun ini, materi yang diberikan berfokus pada pengembangan motorik kasar dan halus. Untuk motorik kasar, anak-anak diajak bermain di papan titian. Ada juga kegiatan meronce, menempel, hingga mengenal warna sambil berlari. Sementara motorik halus dilatih lewat coretan awal hingga menulis.

Selain kelas, Bidan Uli dan fasilitator lainnya juga melakukan kunjungan rumah sebulan sekali. Mereka memeriksa apakah pembelajaran di Rumah Anak SIGAP diterapkan di rumah.

“Kita cek pola asuhnya, perkembangan anaknya, dan dengar keluhan orang tua. Kita tidak menciptakan anak yang sekadar pintar, tetapi anak yang baik secara akhlak, sikap, dan emosional. Itu yang lebih penting,” tegasnya

Lebih lanjut di Sokawera, Rumah Anak SIGAP bersaing dengan keberadaan bimbingan belajar yang juga diminati warga. Namun Uli menegaskan, perbedaannya sangatlah jelas. Tak hanya anak yang belajar, orang tuanya pun mendapatkan ilmu.

“Kalau di bimbingan belajar, hanya anak yang belajar. Ibunya tidak. Di Rumah Anak SIGAP, anak dapat stimulasi, ibu dapat pembelajaran parenting. Plus, di sini orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya,” ujarnya.

Karena itulah, peminat Rumah Anak SIGAP terus bertambah. Bahkan, saat ini, peserta datang dari desa tetangga seperti Sunyalangu, Karangtengah, hingga Gununglurah. Semua hanya karena kabar yang tersebar dari mulut ke mulut.

“Alhamdulillah, respon ibu-ibu bagus sekali. Mereka merasa terbantu,” kata Uli.

Kendati demikian, Bidan Uli mengakui, masih ada tantangan besar yang justru seringkali datang dari pola pikir orang tua dan lingkungan.

Termasuk mitos-mitos yang masih dipegang teguh masyarakat. Misalnya, tradisi bahwa bayi tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari, membuat kelas untuk bayi 0-6 bulan sepi peminat.

“Kita sudah beri penyuluhan dari kelas ibu hamil tentang mitos-mitos ini. Ibu-ibu muda sebenarnya sudah lebih modern, sering googling. Yang masih percaya mitos ini biasanya neneknya,” ujarnya.

Namun, ia tak menyerah. Sosialisasi dari mulut ke mulut dan pendekatan personal terus dilakukannya.

Perlahan, perubahan itu terlihat. Ibu-ibu yang rutin mengikuti pembelajaran di Rumah Anak SIGAP menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang pola asuh. Lalu yang paling membanggakan adalah anak-anak yang ikut pun tumbuh menjadi pribadi lebih percaya diri dan berani.

“Dibandingkan dengan anak yang tidak ikut, mereka lebih percaya diri, bisa memimpin doa, memimpin senam. Anak yang tadinya pemalu, jadi lebih berani,” ujar Bidan Uli dengan bangga.

Dalam upayanya menciptakan ekosistem pengasuhan yang komprehensif, Bidan Uli bahkan pernah menginisiasi “Kelas Bapake Mamake”. Program ini dirancang untuk melibatkan suami dalam mendukung ibu hamil, misalnya dengan memahami tanda-tanda bahaya kehamilan.

“Seringkali, saat ibu hamil kejang karena hipertensi, keluarga tidak paham dan tidak segera dibawa ke medis. Khawatirnya menjadi lebih fatal. Padahal itu adalah kondisi medis yang darurat,” ungkapnya.

Sayangnya, kelas itu terkendala pada waktu pembelajaran, mengingat para ayah biasanya bekerja di jam yang ditentukan.

Kendati demikian, semangat Bidan Uli tidak padam. Kini, dalam kelas ibu hamil reguler di Rumah Anak SIGAP, ia selalu mengundang para pendamping, baik suami maupun anggota keluarga lainnya. Para pendamping dapat belajar bersama tantang risiko kehamilan dan penanganan yang bisa dilakukan.

Di balik kesibukan itu, bidan 39 tahun ini tetap harus membagi waktu untuk keluarga. Sebagai istri dan ibu, ia mengakui kadang lelah, tapi semangat pengabdian membuatnya bertahan.
“Apalagi kita perempuan, harus untuk suami, untuk anak, tapi juga dituntut melayani masyarakat. Ya luar biasa. Tapi kalau dijalani dengan ikhlas, semuanya bisa,” ucapnya.

Enam belas tahun mengabdi, Bidan Uli telah menjadi lebih dari sekadar bidan desa. Ia adalah sahabat ibu muda, guru kecil bagi balita, sekaligus penjaga tumbuh kembang generasi di Sokawera. Lewat Rumah Anak SIGAP, ia menanam benih perubahan dari anak yang berani bermimpi. Bidan Uli pun berpesan agar orang tua lebih bijak dalam mengasuh anak.

"Orang tua tidak hanya ibu, peran mengasuh anak tidak hanya tanggung jawab ibu. Harus ada dukungan dari ayah dan orang sekitarnya," tandasnya. (kap/web)

Editor : Baskoro Septiadi
#kelas parenting #Anak Usia Dini #bidan desa #Ibu Hamil #rumah anak sigap #Integrasi Layanan Primer (ILP) #tanoto foundation