RADARSEMARANG.ID, Semarang - Semangatnya begitu terasa, bahkan dari suara. Ia adalah Devintya Wu Meyli. Gadis 22 tahun ini bercerita tentang perjalanan hidupnya.
Yakni dari bangku kuliah di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang hingga akhirnya ia bisa meraih mimpinya dengan bekerja di sebuah perusahaan manufaktur di Jepang.
Meyli akan berangkat mulai pertengahan September mendatang. Kini, ia masih sibuk mempersiapkan administrasi keberangkatannya, terutama visa.
Nama Meyli jelas tak asing di kalangan mahasiswa Undip. Perempuan asal Sidoarjo ini menyelesaikan pendidikannya di Program Studi Teknik Kimia Undip, dan meraih predikat cum laude dan IPK 3,79.
Prestasi akademiknya gemilang, ditambah dengan sederet medali emas dan perak di kompetisi riset internasional.
Namun, di balik semua pencapaiannya itu, ada satu titik balik yang mengubah cara pandang hidupnya, yakni Beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation.
Awalnya, Meyli tidak pernah membayangkan bisa meraih beasiswa bergengsi tersebut. Tujuannya sangatlah sederhana. Membantu meringankan beban keuangan orang tua.
"Awal SMA nggak ada kepikiran untuk dapat beasiswa. Tahu informasi Beasiswa TELADAN juga dari grup, awalnya saya cuma ingin ikut untuk meringankan beban kedua orang tua," jelas Meyli.
Namun Beasiswa TELADAN ini justru menjadi gerbang menuju transformasi diri yang paling berarti. Menurutnya beasiswa ini menawarkan program yang jauh lebih holistik. Bukan sekadar bantuan financial, melainkan ada program kepemimpinan yang terstruktur.
"Beasiswa TELADAN ini juga bukan hanya mendukung dari sisi akademik tapi juga membantu saya mengenali diri lebih dalam, termasuk passion saya, dan arah masa depan yang ingin saya capai. Jadi program ini benar-benar menjadi turning point untuk saya agar lebih siap ke depannya akan bagaimana," imbuhnya.
Melalui tiga tahapan pembekalan dalam program beasiswa TELADAN, yakni Lead Self, Lead Others, dan Professional Preparation, Meyli merasa belajar tentang banyak hal. Lead self mengajarkannya untuk memahami diri sendiri selama satu setengah tahun.
“Kami diajari materi-materi psikologi dan bagaimana menjadi pemimpin, mulai dari memimpin diri sendiri lebih dahulu. Itu membuka pikiran saya,” bebernya.
Dua prinsip yang paling berkesan dan masih dipegangnya hingga sekarang adalah agility dan striving for excellence. Sedangkan lead others memberikannya pengalaman langsung memimpin sebuah proyek sosial.
Bersama rekan-rekan dari berbagai jurusan, Meyli tergabung dalam tim yang melakukan upgrading manajemen pelayanan kesehatan di Desa Kalikayen, Kabupaten Semarang.
Baca Juga: Cireng Isi dan Beasiswa TELADAN Bekal Cintya Menemukan Arah Hidup
“Kami menata sistem antrean, rekap data, hingga standar penggunaan alat. Dari sini saya belajar bahwa kepemimpinan itu tentang menciptakan dampak berkelanjutan bagi orang lain,” akunya.
Sementara professional preparation di semester akhir membekalinya dengan pemahaman dan keterampilan dasar untuk memasuki dunia kerja. Mulai dari membangun personal branding di LinkedIn, membuat curiculum vitae (CV) profesional, hingga belajar teknik wawancara.
“Kami dibekali untuk lebih siap lagi masuk ke dunia industri dengan percaya diri,” tambahnya.
Transformasi yang dialaminya melalui Beasiswa TELADAN memicunya untuk memiliki visi yang lebih jelas dan berani mengejar mimpi tertingginya yakni belajar, bahkan bekerja, di Jepang.
Mimpi itu satu per satu terwujud. Berkat bekal kepemimpinan dari Beasiswa TELADAN dan kepercayaan dirinya, Meyli berhasil lolos program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) 2023. Ia menjadi satu dari tujuh mahasiswa Indonesia yang berkesempatan belajar di Keio University, Jepang, dari total 838 pendaftar.
Di sana, ia menempuh mata kuliah lintas disiplin, yakni Multinational Management, Asia Workshop, Japanese Intensive, Policy Management Studies, Environmental and Information Studies, dan Choices and Freedom. Ia juga aktif berinteraksi dengan mahasiswa internasional, belajar bahasa Jepang langsung dari pengajar lokal, dan terlibat dalam proyek lintas budaya.
"Selama lima bulan di Jepang, saya belajar banyak hal. Bukan hanya akademik, tapi juga budaya dan cara berpikir mereka. Itu semakin memotivasi saya untuk suatu hari bisa berkarier di sana,” ungkapnya.
Pengalaman ini semakin memantapkan hatinya. Suatu saat ia harus kembali ke Jepang, bukan sebagai pelajar atau hanya sekadar liburan. Tetapi sebagai seorang profesional yang bekerja di negeri Sakura.
Kiprah Meyli di kancah internasional tidak berhenti di pertukaran pelajar. Ia juga menyabet berbagai medali dalam kompetisi inovasi. Meyli pernah menyabet Gold Medal di ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) tahun 2024, Silver Medal pada Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) tahun 2023, Silver Medal di ajang Thailand Inventors’ Day (TID) tahun 2023, dan meraih Silver Medal pada Indonesia Inventors’ Day (IID) tahun 2023.
Kompetisi riset yang diikutinya merupakan perlombaan yang melibatkan banyak penemu dan inovator dari berbagai negara. Pada saat itu, dia bersama tim memamerkan karya inovasi berupa biodiesel yang ramah lingkungan. Setelah lulus, Meyli bekerja sebagai Project Monitoring Engineer di Pupuk Indonesia selama tujuh bulan. Namun keinginannya untuk pergi ke negeri Sakura tak terbendung, ia terus berusaha untuk mencapai mimpinya.
Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, Meyli selalu mendapat dukungan penuh dari keluarga. Meski sempat khawatir, orang tuanya tetap merestui setiap langkah yang ia ambil. Baginya, mereka adalah role model kehidupannya.
“Mereka role model saya dalam hal kerja keras dan keikhlasan,” ucapnya.
Berkat dukungan dari keluarga pula Meyli akhirnya bisa meraih mimpinya untuk bekerja di Jepang. Pertengahan September 2025 ini, ia akan berangkat untuk bekerja di sebuah perusahaan manufaktur material film di Jepang pada posisi Quality Assurance.
"Puji Tuhan, dapat kerja di Jepang seperti harapan saya. Saya ingin mempelajari teknologi mereka yang lebih maju dan suatu saat mungkin bisa membawa insight itu kembali ke Indonesia,” tegasnya.
Dari seorang perempuan muda Sidoarjo yang ingin meringankan beban orang tua. Kini Devintya Wu Meyli siap untuk mengukir namanya di negeri Sakura, membawa semua bekal leadership, agility, dan excellence yang ditanamkan oleh Beasiswa TELADAN. Sebuah program yang tidak hanya membiayai, tetapi mengubah hidupnya.
Ia bahkan berpesan kepada adik tingkatnya juga mahasiswa lain yang mungkin ragu untuk mendaftar beasiswa, bahwa apapun yang memiliki tujuan baik harus dicoba.
Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Gol I II III IV Taspen Akan Cair Mulai September 2025
“Yang paling penting, jangan ragu untuk mencoba. Beasiswa bukan sekadar soal dana, tapi juga kesempatan belajar dan berkembang. Manfaatkan peluang itu sebaik mungkin,” pungkasnya.
Saat ini, Tanoto Foundation membuka pendaftaran Program Beasiswa TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan) untuk angkatan 2026. Program ini ditujukan bagi mahasiswa semester pertama jenjang Sarjana (S-1) di sepuluh perguruan tinggi mitra, yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Riau (Unri), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Universitas Mulawarman (Unmul).
Beasiswa ini menyasar mahasiswa berprestasi yang memiliki pengalaman berorganisasi dan potensi kepemimpinan. Selain pembiayaan penuh untuk kuliah dan tunjangan biaya hidup bulanan, penerima beasiswa yang biasa disebut Tanoto Scholar juga mengikuti pelatihan kepemimpinan terstruktur selama 3,5 tahun, mulai semester 2 hingga semester 8.
Program Beasiswa TELADAN ini juga terbuka bagi mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) yang terdaftar di sepuluh perguruan tinggi mitra tersebut. Pendaftaran dibuka mulai 1 Juli hingga 7 September 2025 dan dapat diakses melalui situs resmi Tanoto Foundation di tautan bit.ly/JadiTELADAN2026. (kap/web)
Editor : Baskoro Septiadi