RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Anny Handayani, M.Pd., guru Bahasa Indonesia SMPN 12 Semarang, membuktikan bahwa literasi dan numerasi bisa diajarkan secara kreatif melalui proyek nyata.
Sebagai fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation, ia menerapkan pembelajaran flipped dengan metode MIKiR untuk melatih siswa berpikir kritis sekaligus menghasilkan konten video persuasif tentang bahaya penipuan digital.
Melalui perannya sebagai fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation, Anny tak hanya bertanggung jawab mengembangkan inovasi pembelajaran, tetapi juga menularkan praktik baik kepada rekan guru dan siswa, khususnya dalam bidang literasi dan numerasi.
Menurut Anny, salah satu tantangan terbesar dalam meningkatkan literasi siswa adalah membiasakan mereka untuk menulis secara mandiri.
Di era serba instan saat ini, siswa kerap lebih suka menyontek atau sekadar meniru tulisan orang lain daripada menuangkan pikirannya sendiri.
"Anak-anak itu kalau disuruh nulis satu kalimat saja kadang bingung. Tapi kalau mereka terbiasa membaca, kemampuan menulisnya akan ikut berkembang," ungkapnya saat ditemui di SMPN 12 Semarang.
Karena itulah Anny menerapkan pembelajaran aktif berbasis metode MIKiR, yakni akronim dari Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi.
Metode ini ia peroleh saat mengikuti pelatihan Tanoto Foundation, dan kini rutin ia terapkan di kelas.
“MIKiR itu sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Anak-anak diajak mengalami, berinteraksi, mengomunikasikan, hingga akhirnya melakukan refleksi atas pembelajaran mereka,” tegasnya.
Konsep mengalami dalam MIKiR, lanjut Anny, mendorong siswa untuk terjun langsung ke realita. Salah satunya dengan cara siswa diminta mengamati fenomena maraknya penipuan online atau hoaks di media sosial.
Dari hasil pengamatan itu, siswa kemudian berdiskusi dan saling bertukar cerita terkait pengalaman atau informasi yang mereka peroleh, baik dari lingkungan sekitar maupun berita di media massa.
“Banyak anak yang akhirnya cerita, bahkan ada orang tua mereka yang jadi korban penipuan online. Itu yang membuat mereka lebih antusias dan merasa pembelajaran ini dekat dengan kehidupan mereka,” bebernya.
Setelah proses diskusi, siswa diajak untuk menuangkan gagasan dalam bentuk karya, baik tulisan maupun video pendek bertema edukasi tentang scamming atau penipuan online.
Dalam penerapannya Anny meminta peserta didiknya untuk membuat video persuasif untuk mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap kejahatan digital.
“Karena dekat dengan kehidupan sehari-hari, video yang mereka buat pun penuh dengan kreativitas mereka sendiri, dan hasilnya bagus-bagus,” katanya.
Tak hanya proyek digital, Anny juga mengaitkan literasi numerasi dengan kewirausahaan.
Dalam materi teks eksplanasi, siswa diminta mengembangkan hobi mereka menjadi ide bisnis, lalu menyusun promosi produk dalam bentuk tulisan.
“Ini melatih kreativitas sekaligus keterampilan numerasi karena mereka diajak berpikir tentang peluang usaha. Ada yang hobinya merajut bahkan sudah jualan hasil rajutannya. Ini membuktikan anak-anak bisa berpikir kreatif sekaligus mengasah literasi mereka,” akunya.
Sebagai fasilitator Tanoto Foundation, Anny juga aktif menularkan praktik baik ini ke rekan-rekan guru lain melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Di forum itu, ia berbagi materi hingga praktik penerapan metode MIKiR yang telah ia jalankan di kelas.
Anny meyakini, keberhasilan peningkatan literasi dan numerasi di sekolah tidak hanya bergantung pada guru di dalam kelas, tetapi juga kolaborasi antar guru, sekolah, dan dukungan pihak eksternal seperti Tanoto Foundation.
“Kami berbagi modul ajar diferensiasi dan diagnostik kognitif yang saya dapatkan dari pelatihan Tanoto Foundation. Kuncinya membuat pembelajaran relevan dengan kehidupan. Saat siswa mengalami sendiri, mereka tak lagi melihat literasi sebagai hafalan," tegasnya. (kap)
Editor : Tasropi