RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Di balik sibuknya siswa SMP Negeri 23 Semarang yang sedang membuat cermin cekung di ruang laboratorium, ada seorang guru yang sedang fokus mengamati praktik peserta didiknya.
Namanya Drs. Mubarok, guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ini mengubah cara belajar menjadi lebih sederhana dan menyenangkan.
Di tengah gempuran teknologi digital yang semakin berkembang. Mubarok mengaku tidak menggunakan teknologi canggih.
Ia menggunakaan kesederhanaannya dalam mengajar. Pria asal Kebumen ini menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Guru yang juga sebagai fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation ini mengusung pendekatan pembelajaran inovatif yang mengedepankan praktik langsung, keterlibatan siswa, serta penguatan literasi dan numerasi.
“Pembelajaran itu harus menyenangkan, mengasyikkan, dan kalau bisa dirindukan,” jelas Mubarok.
Prinsip inilah yang menjadi fondasi dari setiap metode yang ia terapkan di ruang kelas. Mubarok menggunakan metode discovery learning. Alih-alih membebani siswa dengan rumus dan hafalan, ia mengajak mereka menemukan konsep ilmiah lewat praktik langsung.
Misalnya, dalam mempelajari konsep cermin cekung, siswa tidak hanya mencatat rumus titik fokus, tetapi diminta membuat sendiri cermin berukuran besar dan bereksperimen mencari titik fokus cahayanya.
“Saya rahasiakan ukurannya. Mereka harus bereksperimen dan menemukan sendiri titik apinya. Dari situ mereka tahu kelengkungan cerminnya berapa,” bebernya.
Menurutnya, praktik seperti ini lebih efektif dibanding sekadar menghafal rumus.
Ketika mengalami langsung, siswa akan lebih mudah memahami dan bahkan menghafal rumus secara alami.
Pendekatan ini juga ia terapkan dalam materi katrol dan bidang miring. Melalui cara ini bukan hanya membuat siswa lebih mudah memahami konsep, tapi juga membangun rasa ingin tahu dan keberanian untuk bereksperimen
“Anak-anak saya minta membuat katrol ganda sendiri. Mereka terkejut ketika beban berat menjadi lebih ringan. Dari rasa penasaran itu, baru saya kenalkan rumus,” ungkapnya.
Mubarok juga mengintegrasikan penguatan literasi dan numerasi dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam topik zat adiktif pada makanan, siswa diminta membawa kemasan jajanan untuk menyelidiki kandungan bahan berbahaya. Mereka kemudian berdiskusi, mencari informasi di internet, dan mempresentasikan hasil temuannya.
“Dari sini mereka sadar bahwa makanan yang mereka konsumsi sehari-hari bisa mengandung zat berbahaya. Literasi mereka hidup, mereka bisa menganalisis dan membuat pilihan,” ungkap Mubarok.
Literasi numerasi juga diterapkan dalam perhitungan gizi. Siswa dikenalkan pada aplikasi perhitungan kalori makanan, lalu diminta menghitung kecukupan gizi berdasarkan aktivitas harian mereka.
Selain membangun kesadaran gizi, cara ini juga mengasah kemampuan literasi digital. Sebab peserta didik diarahkan menggunakan aplikasi dan sumber daring untuk analisis data.
“Saya tidak ingin mereka sekadar tahu angka, tapi memahami implikasinya. Kalau makan terlalu banyak, mereka harus tahu aktivitas apa yang bisa membakar kalorinya,” terangnya.
Pada era Kurikulum Merdeka Mubarok menekankan keterampilan 4C yakni critical thinking, creativity, collaboration, dan communication. Dimana siswa harus aktif untuk menemukan sendiri jawaban dari tugas yang ia berikan.
“Yang penting bukan hanya ilmunya, tapi bagaimana siswa bisa melihat manfaatnya dalam kehidupan nyata,” pungkasnya. (kap)
Editor : Tasropi