RADARSEMARANG.ID - Setiap Tahun Baru Imlek tiba, kegembiraan menyelimuti masyarakat Tionghoa di seluruh dunia.
Di Indonesia, budaya Tionghoa telah berbaur dengan tradisi lokal selama berabad-abad saat menyambut perayaan Tahun Baru Imlek.
Salah satu perayaan yang dinantikan adalah Cap Go Meh, dan dikenal dengan festival penutup penuh warna dan memiliki makna mendalam.
Lalu, sebenarnya apa itu Cap Go Meh? Mengapa memiliki hubungan yang erat dengan perayaan tahun baru Imlek?
Cap Go Meh yang dalam dialek Hokkien berarti "malam kelima belas", menandai puncak rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek.
Malam tersebut dipenuhi dengan lampion-lampion indah yang menghiasi langit, serta berbagai pertunjukan dan ritual yang sarat akan simbolisme.
Setiap elemen dari perayaan Cap Go Meh ini diyakini mengandung harapan dan doa untuk tahun yang baru.
Bagi masyarakat Tionghoa, Cap Go Meh bukan sekadar perayaan, tetapi juga momen introspeksi dan penghormatan kepada leluhur.
Menurut laman kemenag.go.id, Cap Go Meh merupakan malam purnama pertama pada tahun yang baru.
Cap Go Meh secara umum dikenal sebagai puncak sekaligus penutupan tahun baru, atau penutup dari rangkaian Tahun Baru Imlek.
Sementara Menurut kalender Imlek, perayaan tahun baru mereka dikenal dengan sebutan Ersi Sheng An atau Ji Si Siang Ang.
Istilah Ersi atau Ji Si merujuk pada tanggal peringatan tersebut, sementara Sheng An atau Siang Ang berarti mengungkapkan rasa syukur.
Namun begitu, terdapat permasalahan dalam penafsiran istilah Sheng/Siang, yang secara literal Sheng/Siang berarti "naik".
Beberapa orang mengartikan kata "naik" sebagai kenaikan malaikat Cao Kun. Sementara yang lain menafsirkannya sebagai momen untuk mengungkapkan rasa syukur.
Pada perayaan Ji Si Siang Ang, diadakan upacara sembahyang untuk menghormati leluhur, mengenang yang telah tiada dan yang masih hidup.
Selain itu, juga diadakan kegiatan bakti sosial untuk membantu yang kurang beruntung, dan dikenal sebagai 'Hari Persaudaraan'.
Meski demikian, Ersi Sheng An atau Ji Si Siang Ang dapat diartikan sebagai momen sakral untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan atas keselamatan, keberkahan, dan kedamaian yang telah diterima oleh umat manusia sepanjang tahun.
Sementara itu, perayaan Cap Go Meh menjadi momen penting untuk menghormati malaikat bumi, dan bahkan mempunyai makna yang lebih dalam.
Diantaranya sebagai waktu untuk melakukan sembahyang kepada Bumi (Di) atau sembahyang awal tanam (Shang Yuan/Siang Gwan atau Yuan Xiao/Gwan Siau). Sehingga momen Cap Go Meh ini juga menandai perayaan Shang Yuan.
Sembahyang Shang Yuan atau Siang Gwan adalah ritual syukur kepada Tuhan yang menandai awal berkah untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia.
Pada momen tersebut, mereka meyakini berkah Tuhan mulai dicurahkan kepada umat manusia.
Selain itu, sekaligus juga menandai dimulainya berbagai aktivitas atau pekerjaan baru di tahun yang baru, dan dilakukan di hari berikutnya.
Ini artinya, perayaan Cap Go Meh masih memiliki keterkaitan atau berhubungan erat dengan Tahun Baru Imlek.
Menurut tradisi masyarakat Tionghoa, perayaan Cap Go Meh jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.
Pada malam perayaan Cap Go Meh, biasanya langit dipenuhi dengan lampion terbang indah berwarna-warni, petasan kembang api, hingga atraksi barongsai.
Editor : Baskoro Septiadi