Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kondisi Dinamika Atmosfer Terkini Memicu Cuaca Ekstrem Hingga Akan Terjadi Hujan ES, Begini Penjelasan BMKG

Aris Hariyanto • Rabu, 30 Oktober 2024 | 15:44 WIB
Ilustrasi dinamika atmosfer memicu cuaca ekstrem.
Ilustrasi dinamika atmosfer memicu cuaca ekstrem.

RADARSEMARANG.ID - Kondisi dinamika atmosfer terkini tampak memicu berbagai kekhawatiran dari dampak fenomena cuaca panas yang terjadi.

Hal ini diungkapkan oleh BMKG belum lama ini yang juga memperkirakan beberapa wilayah di Indonesia kemungkinan bakal terjadi hujan es.

BMKG juga menjelaskan, beberapa wilayah Indonesia harus bersiap menghadapi dampak cuaca ekstrem dalam masa peralihan musim.

Menurut catatan prospek cuaca mingguan dari BMKG periode 25-31 Oktober 2024, kondisi atmosfer terkini di berbagai penjuru Nusantara terpantau sangat dinamis.

Gelombang atmosfer dan kondisi iklim lainnya bisa memberikan kontribusi terhadap pembentukan awan hujan yang berpotensi ekstrem.

Berdasarkan keterangannya, dalam sepekan terakhir curah hujan di wilayah Indonesia pada tiga hari terakhir masih relatif tinggi (50-100 mm/hari).

Terutama pada 20-23 Oktober, seperti yang dilaporkan oleh beberapa stasiun meteorologi, seperti Supadio, Naha, Mali, Banyuwangi, dan Tanah Merah.

Menurut BMKG, beberapa faktor dinamika atmosfer berperan besar dalam memicu cuaca ekstrem yang terjadi.

Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) berada pada fase yang berkontribusi pembentukan awan hujan di Indonesia.

Sementara itu, fenomena Gelombang Atmosfer Kelvin dan Rossby Ekuatorial juga mempengaruhi peningkatan curah hujan di wilayah barat Indonesia.

Gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial diprediksi aktif di berbagai wilayah seperti Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Laut Arafura, dan Papua Selatan.

Di sisi lain, Gelombang Atmosfer Kelvin diperkirakan aktif di Samudra Hindia Barat Sumatra, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Laut Sulawesi bagian barat, Laut Arafura, Papua Pegunungan, hingga Papua Selatan.

Tidak hanya itu, kehadiran Siklon Tropis Trami di Laut Cina Selatan turut membentuk daerah perlambatan angin (konvergensi) dan menginduksi peningkatan kecepatan angin.

Sedangkan daerah pertemuan angin (konfluensi), terpantau memanjang dari Sumatera bagian tengah hingga Laut Cina Selatan, Samudera Hindia sebelah barat Sumatera, dan di Samudera Pasifik sebelah timur laut Papua.

Selain itu, adanya labilitas lokal yang kuat pada atmosfer seolah mendukung proses konvektif di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut BMKG, hal ini dapat menimbulkan pertumbuhan awan hujan lebih intens yang akan berdampak di beberapa wilayah Indonesia.

Disamping itu, masa peralihan musim juga dapat meningkatkan potensi terbentuknya awan Cumulonimbus (CB) secara konvektif.

Sehingga, kondisi dinamika atmosfer ini dapat memicu cuaca ekstrem seperti petir, angin kencang, bahkan kemungkinan terjadinya hujan es.

Selanjutnya, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga dalam menghadapi potensi dampak cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan selalu memperhatikan prakiraan cuaca dari BMKG dan mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi cuaca ekstrem.

Editor : Baskoro Septiadi
#iklim #kondisi atmosfer terkini #Siklon Tropis Trami #prakiraan cuaca #dampak cuaca ekstrem #Curah Hujan #fenomena cuaca panas #peralihan musim #awan cumulonimbus #BMKG #Cuaca Ekstrem #Hujan Es #Dinamika Atmosfer