RADARSEMARANG.ID - Sejarah Indonesia telah menyimpan fenomena alam megatsunami yang jarang terdengar manusia.
Megatsunami yang terjadi di salah satu pulau Indonesia ini masih jarang diperbincangkan.
Meski tercatat dalam sejarah dan terdokumentasi oleh Hindia Belanda, perlu kiranya kita terus belajar dan beradaptasi.
Menurut laporan asli berbahasa Belanda oleh E.M. Beekman and F.Foss pada 1997, terjadinya megatsunami pertama di Indonesia bukan di Aceh, melainkan di Pulau Ambon, Kepulauan Maluku.
Megatsunami pertama di Indonesia yang tercatat secara mendetail di Pulau Ambon ini terjadi pada tahun 1674.
Sebuah gempa bumi yang sangat kuat menjadi pemicu gelombang setinggi 100 meter yang menerjang pulau tersebut.
Akibatnya, lebih dari 2.000 jiwa melayang yang mencakup 31 orang Eropa dan kerusakan fasilitas yang sangat signifikan.
Menurut data laporan Rumphius yang terangkum dalam website IOC UNESCO, peristiwa megatsunami di pulau Ambon terjadi pada 17 Februari 1674, Sabtu malam, sekitar pukul setengah tujuh.
Saat itu, keheningan malam di bawah bulan yang indah dengan cuaca tenang harus berubah jadi malam kelabu.
Dalam laporannya, Rumphius menguraikan peristiwa menyedihkan yang dialaminya pada waktu itu.
Rumphius mengungkapkan “Semua provinsi, termasuk Leytimor, Hitu, Nusatelo, Seram, Buro, Manipa, Amblau, Kelang, Bonoa, Honimoa, Nusalaut, Oma, serta daerah-daerah sekitarnya, mengalami getaran yang sangat menakutkan, sehingga mayoritas penduduk percaya bahwa hari kiamat sudah datang”.
Hal senada juga tertulis dalam laporan UNESCO yang berjudul “Air Turun Naik di Tiga Negeri Mengingat Tsunami Ambon 1950” yang diterbitkan tahun 2016.
“Beberapa wilayah menjadi rusak parah. Di Leitimor dan Semenanjung Hitu, terjadi tanah retak di banyak tempat dan ada banyak longsoran, yang sangat kuat di Wawani dan Pegunungan Manuzau,” tulisnya.
Setelah guncangan gempa bumi dahsyat, gelombang pasang surut muncul di Teluk Ambon, namun menarik kembali ke laut hingga tiga kali.
Sementara ketinggian air dilaporkan mencapai 4-5 kaki dengan sumur dalam terisi cepat, tetapi segera kembali kosong.
Dalam catatan lain mengatakan bahwa, gempa bumi dahsyat tersebut disusul oleh tsunami raksasa yang mencapai ketinggian sekitar 100 meter, dan hanya terlihat di pesisir utara Pulau Ambon.
Peristiwa megatsunami ini diabadikan dalam catatan sejarah setempat, serta laporan dari para pedagang Eropa yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Dengan demikian, Pulau Ambon mengingatkan kita bahwa Indonesia dengan keragaman geografisnya selalu berada dalam bahaya potensial.
Semoga kita dapat terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kesadaran akan risiko bencana, sehingga kita dapat melindungi diri dan sesama dengan lebih baik.
Editor : Baskoro Septiadi