RADARSEMARANG.ID - Pluto, sebuah benda langit yang telah memikat imajinasi manusia selama bertahun-tahun, pernah dianggap sebagai planet kesembilan dalam tata surya kita.
Namun, pada tahun 2006, statusnya berubah secara dramatis ketika International Astronomical Union (IAU) memutuskan untuk mendegradasikannya menjadi "planet katai" atau "planet kerdil".
Keputusan ini memicu berbagai diskusi dan kontroversi di kalangan para ilmuwan dan masyarakat umum.
Pluto ditemukan pada tahun 1930 oleh seorang astronom bernama Clyde Tombaugh di Observatorium Lowell di Flagstaff, Arizona.
Penemuan Pluto sangatlah menarik karena hal itu memberikan jawaban bagi teka-teki gravitasi yang teramati pada Neptunus.
Namun, dalam beberapa dekade setelah penemuannya, para ilmuwan mulai mempertanyakan apakah Pluto sebenarnya layak disebut planet.
Kontroversi seputar status Pluto bermula dari pertanyaan mendasar tentang apa sebenarnya definisi sebuah planet.
Sebelum keputusan tahun 2006, tidak ada definisi resmi yang diterima secara universal.
Namun, dengan penemuan objek-objek di luar Tata Surya yang seukuran atau bahkan lebih besar dari Pluto, pertanyaan mengenai apakah Pluto benar-benar memenuhi kriteria sebuah planet menjadi semakin relevan.
Pada tahun 2006, IAU secara resmi mendefinisikan kembali apa yang merupakan sebuah planet dalam tata surya kita.
Menurut definisi tersebut, sebuah benda langit harus memenuhi tiga kriteria untuk dianggap sebagai planet:
1. Harus mengorbit matahari.
2. Harus memiliki massa yang cukup untuk mempertahankan bentuk bulatnya sendiri karena gravitasi.
3. Harus membersihkan sekitar jalur orbitnya dari benda-benda lain.
Pluto gagal memenuhi kriteria ketiga. Terdapat banyak objek di sekitar orbit Pluto yang memiliki ukuran yang signifikan, seperti Kuiper Belt Objects (KBOs).
Hal ini menimbulkan keraguan apakah Pluto benar-benar "membersihkan" jalur orbitnya seperti halnya planet-planet lain dalam tata surya.
Keputusan IAU untuk mendegradasikan Pluto menjadi planet katai memicu reaksi beragam.
Beberapa ilmuwan dan pengamat amatir merasa bahwa keputusan tersebut tidak adil dan berlebihan, sedangkan yang lainnya menganggapnya sebagai langkah penting untuk memberikan definisi yang lebih tepat tentang apa yang sebenarnya merupakan sebuah planet.
Meskipun kontroversial, degradasi Pluto telah memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk lebih memahami Tata Surya kita dan klasifikasi benda langit di dalamnya.
Hal ini telah mendorong penelitian lebih lanjut tentang objek-objek di luar Tata Surya, termasuk KBOs dan planet katai lainnya.
Editor : Baskoro Septiadi