RADARSEMARANG.ID - Menjelang perayaan imlek, diketahui banyak orang yang mengamati fenomena alam yang terjadi, salah satunya hujan.
Hujan yang turun menjelang perayaan Imlek sering dianggap sebagai pertanda baik atau buruk.
Namun demikian, adanya hujan terkait perayaan Imlek juga tergantung pada keyakinan dan pengetahuan setiap orang.
Ada yang menganggap hujan sebagai tanda turunnya berkah dari langit, dan ada juga yang beranggapan sebagai tanda kesialan atau bencana.
Secara ilmiah, musim hujan di Indonesia biasanya berlangsung pada Januari-Februari dan diketahui terdapat perayaan Imlek di bulan kedua penanggalan masehi tahun ini.
Menurut prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim hujan pada Februari 2024, dengan intensitas hujan yang berbeda-beda.
Selain itu, hujan juga dipengaruhi oleh pergerakan bulan dan matahari yang mempengaruhi kalender lunisolar yang dipakai bangsa Tionghoa.
Kalender lunisolar merupakan kalender yang menggabungkan siklus bulan (lunar) dan siklus matahari (solar), sehingga perayaan imlek bisa berubah tanggal setiap tahunnya.
Berdasarkan kalender lunisolar, perayaan Imlek 2024 jatuh pada Sabtu 10 Februari, yang pada saat itu bulan dan matahari berada di posisi berlawanan.
Posisi tersebut diketahui dapat mempengaruhi gravitasi bumi, yang berdampak pada pasang surut air laut dan curah hujan.
Sementara itu, menurut mitos hujan menjelang imlek dipercaya sebagai tanda turunnya Dewi Kwan Im yang tengah menyirami bunga Mei Hwa.
Mereka yang merayakan Imlek mempunyai keyakinan bahwa adanya hujan berarti akan turun berkah dari langit.
Mei Hwa sendiri dalam kepercayaan orang Tionghoa merupakan bunga yang ditanam oleh Dewi Kwam Im menjelang hari raya Imlek.
Bunga ini diketahui memiliki warna merah dan putih yang melambangkan keberuntungan dan kemurnian.
Seiring berjalannya waktu, bunga Mei Hwa juga disebut sebagai bunga plum, yang merupakan salah satu tanaman yang dihormati dalam budaya Tionghoa.
Hujan dalam perayaan Imlek menurut mitos juga diartikan sebagai harapan untuk masa depan yang cerah dan makmur.
Selain itu, hujan yang turun dianggap sebagai simbol dari air, memiliki sifat yang fleksibel, mengalir, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Masih menurut kepercayaan Tionghoa, air juga berhubungan dengan kekayaan, karena uang kertas di Tionghoa disebut sebagai “uang air” (水钱).
Dengan demikian, hujan saat perayaan Imlek dianggap sebagai pertanda bahwa uang akan mengalir deras ke arah kita atau mereka.
Namun apapun maknanya, hujan menjelang perayaan imlek merupakan fenomena alam dari sang pencipta langit dan bumi.
Editor : Baskoro Septiadi