RADARSEMARANG.ID – UNESCO menetapkan hari lahir dua pesohor pahlawan Indonesia, yaitu sastrawan A.A. Navis, serta pejuang wanita Laksamana Malahayati sebagai hari perayaan tingkat internasional pada hari penutupan Sidang Umum ke-42 UNESCO, di Paris, Perancis, Rabu (22/11/2023).
Dilansir dari www.kemdikbud.go.id, penetapan peringatan tokoh ternama di negara anggota UNESCO memiliki kriteria penentuan berdasarkan tahun kelahiran atau kematian tokoh, yang terkait cita-cita serta misi organisasi dalam bidang pendidikan, budaya, ilmu pengetahuan alam, ilmu sosial dan kemanusiaan, serta komunikasi.
Diusulkan dengan mempertimbangkan keterwakilan gender, hanya dapat diusulkan secara anumerta, serta peristiwa yang memiliki cakupan universal atau setidaknya signifikansi regional. Minimal di dukung dua negara, dan memiliki dampak besar bagi negara ataupun dunia.
Ali Akbar Navis / A.A. Navis (1924-2003)
Ali Akbar Navis atau lebih dikenal A.A. Navis adalah seorang penulis dan kritikus budaya Indonesia kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 17 November 1924.
Pengusulan penetapan peringatan 100 tahun kelahiran A.A. Navis, mendapat dukungan dari Malaysia, Federasi Rusia, Thailand, dan Togo-Afrika Barat.
Sumbangsih A.A. Navis di dunia sastra Indonesia teramat besar: sebagai wartawan, penulis, sekaligus akademisi. Ia tercatat pernah mengajar sebagai guru gambar di Sekolah Kepanduan Putri Bukittinggi dan dosen luar biasa pada Akademi Seni Karawitan Indonesia (kini Institut Seni indonesia) Padang Panjang, serta Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas.
A.A Navis pernah menyatakan keprihatinannya akan dunia pendidikan Indonesia. Ia menyebutkan, siswa hanya diberi pengajaran untuk menerima pengetahuan tanpa diberi kesempatan berpikir kritis, mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi (PT).
Anak-anak tidak diajarkan menulis dengan baik, padahal menulis dapat membuka pikiran mereka. Selain itu, membaca karya sastra dapat membantu orang berpikir kritis dan memahami konsep hidup.
Sastrawan yang juga pernah menjadi pemimpin redaksi harian 'Semangat' ini mencontohkan, banyak karya sastra Indonesia yang menceritakan orang-orang munafik yang harusnya diajarkan kepada anak-anak, agar mereka mengerti bahwa di masyarakat banyak orang munafik.
Keumalahayati / Laksamana Malahayati (1550-1615)
Sementara Keumalahayati atau lebih dikenal Laksamana Malahayati adalah salah seorang pejuang wanita Kesultanan Aceh, kelahiran 1 Januari 1550, yang diakui sebagai pahlawan nasional atas kontribusinya dalam mengusir penjajah dari tanah air Indonesia.
Pengusulan penetapan peringatan 475 tahun kelahiran Keumalahayati mendapat dukungan dari Malaysia, Federasi Rusia, Thailand dan Togo-Afrika Barat.
Pada masa kejayaannya, Keumalahayati berhasil membuktikan dirinya adalah pemimpin yang cakap di tengah skeptisisme terhadap perempuan. Ia dibesarkan di wilayah yang kental kemaritimannya dan sangat mengenal dunia peperangan di laut sejak muda, berkat didikan sang ayah, Laksamana Mahmud Syah.
Keumalahayati masih berkerabat dengan Sultan Aceh. Ayah dan kakeknya berbakti pada Kesultanan Aceh sebagai Panglima Angkatan Laut. Hal itulah yang membuat semangat kelautan Keumalahayati muncul dan mengikuti jejak ayah dan kakeknya dengan menempuh pendidikan militer jurusan angkatan laut di akademi Baitul Maqdis.
Perjuangan Keumalahayati melawan penjajah dimulai setelah terjadinya pertempuran di Teluk Haru, di mana armada laut Kesultanan Aceh melawan armada Portugis. Suaminya gugur dalam pertempuran ini.
Kemudian Keumalahayati mengusulkan kepada Sultan Aceh untuk membentuk laskar yang beranggotakan janda prajurit Aceh yang gugur dalam peperangan, dan ia diangkat sebagai pemimpin pasukan bernama ‘Inong Balee’ dengan pangkat Laksamana.
Laksamana Malahayati dan pasukannya diberi tugas untuk melindungi pelabuhan dagang di Aceh. Pada 21 Juni 1599, Laksamana Malahayati dan pasukannya mengadakan perlawanan ketika datang kapal Belanda yang mencoba memaksakan kehendak. Dalam pertempuran itu, Cornelis de Houtman dan beberapa pelaut Belanda tewas.
Dua tokoh terkemuka dari Indonesia ini semakin mengukuhkan prestasi Indonesia dalam UNESCO selama periode Sidang Umum UNESCO ke-42 di tahun 2023, yaitu:
- Indonesia terpilih menjadi anggota Dewan Eksekutif UNESCO,
- Indonesia terpilih menjadi anggota Dewan International Programme for the Development of Communication (IPDC),
- Peresmian Indonesian Corner di markas besar UNESCO, serta
- Penetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Sidang Umum UNESCO.