RADARSEMARANG.ID, Slamet Hari Pambudi, guru Kelas IV SD Negeri Pakintelan 1, Kota Semarang.
Pria kelahiran Purworejo, 20 Mei 1992 ini menciptakan aplikasi Santun atau Siswa Antiperundungan.
Berkat ciptaannya itu, Slamet menjadi guru inovatif terbaik tingkat Provinsi Jawa Tengah dan maju ke tingkat nasional.
SLAMET menjadi guru sejak 2015. Ia mengawali karir sebagai guru wiyata bhakti. Lalu, menjadi guru honorer alias non ASN di Pemkot Semarang.
“Alhamdulillah, tahun 2019 menjadi PNS sampai sekarang," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Menurut dia, menjadi guru merupakan profesi mulia. Guru dalam bahasa Jawa digugu lan ditiru atau menjadi teladan bagi peserta didik. Guru memberikan ilmunya.
“Dan, salah satu amal yang tidak terputus adalah ilmu bermanfaat,” tutur ayah dua anak ini.
Baca Juga: Makin Khusyuk, Belajar Ilmu Tauhid di Tengah Alam
Pria yang tinggal di Kelurahan Pakintelan RT 1 RW 6, Kecamatan Gunungpati ini menjadi Guru Penggerak angkatan IV Kota Semarang dan Pengajar Praktik Angkatan IX.
Ia mendampingi calon Guru Penggerak selama mengikuti pendidikan.
Slamet juga terpilih menjadi guru inovatif tingkat Provinsi Jawa Tengah dengan menciptakan aplikasi Santun pada Agustus 2023.
Aplikasi ini dikolaborasikan dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di Kurikulum Merdeka Belajar.
"Aplikasi ini untuk menambah khazanah keilmuan bagi peserta didik agar mereka mengetahui dampak dan jenis perundungan," jelasnya.
Dikatakan, peserta didik diajak membuat poster, mind mapping, deklarasi bersama antiperundungan, dan membuat buku puisi antiperundungan oleh siswa kelas IV.
"Itu semua saya kolaborasikan dan saya kumpulkan menjadi satu aplikasi Santun," tandasnya.
Slamet menjelaskan, dalam aplikasi Santun terdapat fitur menarik bagi peserta didik. Antara lain, media komik dan permainan anak.
Selain itu, ada beberapa fitur yang memantik para peserta didik mengetahui jenis, dampak dari perundungan, pencegahan, dan penanggulangan perundungan.
"Aplikasi Santun ini menanamkan karakter kreativitas, gotong royong dan saling menghormati sesama itu perlu. Aplikasi akan diterapkan ke beberapa kelas dan menjadi gerakan bersama untuk mencegah dan menangani perundungan," katanya.
Baca Juga: Aplikasi Pengomposan sebagai Solusi Pengolahan Sampah Padat Perkotaan
Ia menceritakan, ide membuat aplikasi Santun ini berawal dari keprihatinan Slamet terhadap banyaknya berita viral kasus perundungan di media massa.
"Saya ingin menyampaikan kepada peserta didik supaya kasus perundungan jangan sampai terjadi. Apabila ada bibit perundungan di kelas, saya harap bisa dicegah," jelasnya.
Dikatakan, aplikasi Santun mengakomodasi adanya laporan perundungan sampai dengan bimbingan dan konseling bagi korban dan pelaku perundungan.
Dalam mengaplikasikannya di lapangan, peserta didik sangat antusias. Inovasi P5 berbasis aplikasi Santun terbukti efektif meningkatkan pemahaman siswa memahami kasus perundungan.
"Mereka menjadi tahu ada perundungan secara fisik, verbal, sosial, dan cyber bullying," ujarnya.
Setelah menjadi guru inovatif tingkat Jateng, Slamet maju di tingkat nasional. Ia juga sudah mendaftarkan aplikasi Santun di HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) Kemenkum HAM.
Slamet bersyukur berkat prestasinya itu, ia mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Semarang dengan diberangkatkan ibadah umrah ke Tanah Suci pada 27 November 2023 lusa.
Di mata guru lainnya, Slamet adalah sosok guru yang ramah dan rendah hati.
"Orangnya sangat terbuka, bahkan kita sering merepotkan Pak Slamet terkait pendataan dan pemutakhiran data," kata Guru PJOK SD Negeri Pakintelan 1 Gunawan Parikesit.
Selain itu, lanjut dia, Slamet adalah guru yang senang belajar. Ketika membantu guru lain sangat totalitas.
"Pasti dengan senang hati dan dengan kerelaan hatinya beliau membantu. Sangat luar biasa," pujinya. (figur ronggo wassalim/aro)
Editor : Tasropi