Kegiatan yang di fokuskan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan ini bahkan mencatatkan rekor di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Penanaman Toga oleh Mahasiswa Baru Terbanyak.
Masing-masing mahasiswa membawa satu tanaman toga. Seperti jahe, kunyit, lengkuas, kumis kucing, rosemary, serta lainnya. Tanaman tersebut diletakkan di polybag.
Rektor UPGRIS Siru Suciati menyebut mahasiswa mempunyai peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Mereka harus mampu menjadi pelopor dalam merawat kelestarian alam.
“Menanam ini sebuah harapan. Ketika menanam pohon apapun itu, maka akan memberikan harapan kehidupan, memberikan semangat hidup. Karena kita butuh oksigen yang bersih dan sehat, dan cara yang bisa dilakukan dengan menanam,” ungkap Suci saat ditemui di Kampus IV UPGRIS.
Ia menambahkan, tanaman toga ini sebagian ditanam di Kampus IV Upgris dan lainnya di Kampus 3 Bendan Dhuwur.
Pemilihan toga ini lantaran manfaatnya yang besar untuk kesehatan atau khasiatnya sebagai obat keluarga.
Tanaman jenis itu dinilai memiliki nilai ekonomis, yang kerap dikelola di dunia industri untuk dimanfaatkan sebagai jamu.
Lebih lanjut, ke depan pihaknya juga akan membangun edupark sebagai ajang edukasi untuk anak-anak ditingkat TK dan SD.
Yakni berupa greenhouse yang berisi beragam tanaman dan digunakan sebagai sarana pembelajaran.
“Nanti sebagian di tanam di Kampus 3 (Bendan Dhuwur) karena kita masih punya lahan yang luas di sana. Sudah ada green house, dan itu nanti akan kami kembangkan sebagai edupark sehingga anak-anak TK maupun SD dapat berkunjung untuk belajar,” imbuhnya.
Sementara itu, jumlah penerimaan mahasiswa baru UPGRIS pada tahun ajaran baru ini mengalami peningkatan. Mahasiswa yang diterima untuk jenjang S1 dari sebelumnya 2.300 menjadi 2.700.
“Ada penambahan 400 mahasiswa. Secara persentase naik hampir 20 persen,” tandasnya. (kap/svc/bas)
Editor : Baskoro Septiadi