RADARSEMARANG.ID, Semarang - Minimnya kesadaran literasi menjadi permasalahan utama berkurangnya minat baca pada anak. Apalagi, serbuan gadget menimbulkan kurangnya antusiasme pada buku bacaan.
Selain itu, pendiri Read aloud Semarang Unik Pratisi menambahkan, faktor utama minimnya minat berliterasi pada anak terletak pada kurangnya kesadaran dan kemelekan orang tua terhadap literasi. Berbagai metode membaca untuk meningkatkan literasi tersedia, salah satunya dengan read aloud.
“Read aloud merupakan metode membaca nyaring yang mudah untuk diaplikasikan pada seluruh jangkauan umur. Dengan read aloud tentunya akan menanamkan kecintaan anak terhadap buku,” kata Unik ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang Rabu (12/7/2023).
Lebih lanjut Unik Pratisi mengatakan, perkembangan gerakan read aloud ini sudah semakin gencar digalakkan oleh seluruh daerah, khususnya di Semarang. Komunitas ini berdiri secara resmi sejak tahun 2020 hingga sekarang.
“Berbagai gerakan literasi dilakukan oleh komunitas read aloud Semarang melalui blusukan ke sekolah, panti, dan berbagai event literasi lainnya. Namun, antusiasme masyarakat terbilang minim dan kurang melek terhadap pentingnya berliterasi sejak dini,” sambungnya.
Meskipun terbilang minim, sadar terhadap pentingnya buku bacaan atau proses membaca nyaring diperlukan oleh anak mulai dari usia kandungan trimester tiga hingga tidak terbatas.
“Pembacaan dengan metode read aloud ini mampu menstimulasi pemikiran anak untuk cepat paham dan tangkap terhadap buku bacaan. Pemilihan buku untuk anak juga harus disesuaikan dengan grade atau range umur anak, misalnya anak usia preschool (2-5 tahun) lebih menyukai dan dianjurkan untuk buku dengan model picture book atau banyak gambar daripada tulisan,” ungkapnya.
Menanamkan kesadaran untuk berliterasi pada anak usia dini, tentu menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya kata Unik, pendekatan terhadap anak untuk menumbuhkan budaya membaca atau berliterasi dapat dimulai dengan hal yang disukai.
“Misalnya anak tersebut suka dengan princess maka ajaklah anak tersebut untuk membeli buku bacaan princess atau anak tersebut menyukai stiker coba dengan berbagai buku yang bisa ditempel dengan stiker, semua hal dapat dimulai dengan hal kecil,” imbuhnya.
Paling tidak, lanjut Unik, orang tua perlu meluangkan waktunya minimal 10 menit sehari untuk membacakan buku. “Anak itu kan memiliki perangai yang berbeda, ada anak yang aktif selalu bergerak, ada anak yang hanya mau tidur saja, ya tidak masalah, dibacakan saja, karena anak dengan model tersebut biasanya mudah mengingat hal yang sudah dibacakan,” sambungnya.
Metode read aloud dinilai sebagai metode yang paling ampuh dan mudah, sebab segala lapisan masyarakat dapat menjangkaunya. Selain itu, metode ini juga terbilang murah, tidak perlu membeli buku.
“Masyarakat dapat dengan mudah menjangkau berbagai perpustakaan daerah di Semarang, karena komunitas read aloud sendiri sudah berkoordinasi untuk peminjaman buku. Untuk itu, diharapkan masyarakat lebih melek terhadap pentingnya literasi karena untuk anak itu tidak perlu mahal yang penting berkualitas dan bermanfaat,” pungkasnya. (mg15/mg14/bas)
Editor : Baskoro Septiadi