Drs. Catonggo Sulistiyono, S. Kom memimpin SMPN 37 Kota Semarang sejak September 2022. Ia mengakui krisis karakter menjadi PR besar setelah masa pandemi terlewati. Maraknya penggunaan gawai di usia remaja tanpa pengawasan banyak menimbulkan mudarat.
Bebasnya penggunaan gawai remaja terutama pelajar ternyata berdampak besar bagi dekadensi moral. “Permasalahan yang perlu dibenahi saat ini Pendidikan Karakter,” kata Kepala SMPN 37 Kota Semarang.
Ia menambahkan, karakter peserta didik perlu dibenahi. Terutama aspek religiusitas yang semakin terkikis. Sehingga penting menjadi insan yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan. Di sisi lain, pengetahuan dan keterampilan akan mengikuti. Begitu juga dengan kesehatan jasmani dan rohaninya. “Kepribadian yang mantap, berdikari, rasa tanggung jawab kemasyarakatan, serta kebangsaan,” ujarnya.
Pria kelahiran Bojonegoro ingin mewujudkan siswa-siswi berprestasi dan manifestasi profil pelajar Pancasila yang berwawasan lingkungan. Kunci utama kolaborasi antar warga sekolah. Pembiasaan budaya gotong royong bersama semua stakeholder.
“Branding kami adalah sekolah penggerak, jujur, digital, dan Berkarakter. Spirit yang kita bangun adalah selalu menjadi yang lebih baik,” tambahnya.
Alumni IKIP Semarang terus konsen pembangunan pendidikan karakter. Usahanya berhasil. Belum genap satu tahun memimpin, SMPN 37 Kota Semarang mampu menjadi sekolah penggerak. “Selain itu juga piloting sekolah jujur sekolah saya,” akunya.
Bagi Catonggo, puncak kesenangan pendidik melihat keberhasilan siswanya. Mencapai kesuksesan. Sebaliknya, kedukaan jika peserta didiknya jatuh dalam keterpurukan. “Yang terpenting mengalir saja, manfaatkan peluang, kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas,” tambahnya. (mia/fth) Editor : Agus AP