"Mereka sekarang kelas 8 semua. Masuk di sini (SMP Nudia, red) sejak kelas 7. Jadi ada dua cewek dan dua cowok. Status mereka dititipkan ke kami untuk mengikuti dan mendapatkan pelajaran sekolah. Tapi mereka tidak masuk dapodik (Data Pokok Pendidikan)," kata Kepala SMP Islam Nudia Semarang, Drs Musyafa' saat ditemui di sekolahnya, Jalan Kenconowungu IV/V Karangayu, Semarang Barat, Kota Semarang.
Diakuinya, hingga tamat sekolah nanti, status keempatnya hanya memperoleh surat keterangan tamat belajar dari sekolah. Termasuk raport. Namun tidak memperoleh ijazah. "Sifatnya cuma nunut sekolah, supaya dapat pendidikan," ujarnya.
Kini keempat siswa imigran itu sudah bisa berbahasa Indonesia. Hanya saja belum lancar. Namun ada satu anak yang bisa menguasai empat bahasa, anak itu berasal dari Somalia bernama Siti Khodijah.
"Kalau bahasa Inggrisnya agak lancar semua. Sayangnya tidak bisa masuk dapodik. Siti Khodijah ingin jadi dokter. Katanya sudah hafal 10 juz Alquran. Cuma belum saya tes langsung," ungkapnya.
Wakil Kepala Kurikulum SMP Islam Nudia, Idayanti menambahkan, wisma keempatnya di Kalibanteng. Dari informasi yang dia terima awalnya ada delapan anak, namun akhirnya cuma empat anak. Karena empat anak lagi, informasinya sudah pindah.
Kini keempatnya mengikuti semua mata pelajaran dan semua beragama Islam. Selama pembelajaran daring, status mereka sama dengan lainnya, belajar dari rumah. "Kalau tidak nyambumg di zoom nanti diurusi via zoom oleh IOM. Karena IOM sangat perhatian, bahkan akan diberikan les tambahan, cuma belum terealisasi," sebutnya. (jks/ida) Editor : Agus AP