Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Bertani Hortikultura, Budidaya Semangka Bali Flower Lebih Menjanjikan

Agus AP • Senin, 5 Desember 2022 | 21:25 WIB
Buah semangka dari dulu menjadi komoditas pertanian yang cocok dikembangkan di lahan persawahan di Demak. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
Buah semangka dari dulu menjadi komoditas pertanian yang cocok dikembangkan di lahan persawahan di Demak. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
RADARSEMARANG.ID, Demak - Budidaya buah semangka di Demak menjadi alternatif petani untuk meningkatkan kesejahteraannya. Ini seperti yang dilakukan kelompo tani di Desa Cabean, Kecamatan Demak Kota. Di desa ini, para petani sudah lama budidaya semangka. Termasuk membudidayakan tanaman semangka jenis atau varian bali flower.

Petani juga menanam buah melon. Kedua jenis buah buahan ini kini menjadi komoditas penting dengan nilai yang cukup ekonomis. Harganya semanis isi buah semangka dan melon yang dipanen para petani tersebut.

Tokoh masyarakat yang sebelumnya juga aktif sebagai pengurus Darma Tirta Desa Cabean, Sunardi mengatakan, di wilayah Desa Cabean setidaknya terdapat 20 hektare lahan pertanian yang biasanya ditanami buah semangka dan melon. Sisanya, ditanami kacang hijau yang kini popular di Asia. “Kalau saya punya dua hektare. Saya tanami semangka dan melon. 1 hektare bisa menghasilkan antara 22 hingga 24 ton buah semangka. Hasilnya lumayan bisa mencapai Rp 120 juta. Harganya Rp 5 ribu perkilogram dan Rp 6 ribu perkilogram untuk jenis black flower,”katanya.

Menurut Sunardi, meski harga naik turun, namun masih tetap menguntungkan petani. “Daerah lain banyak yang gagal panen lantaran musim kemarau ini terlalu panas sehingga banyak tanaman semangka yang layu kurang air. Kalau di Desa Cabean ini air mencukupi. Kita sedot dari sungai dengan pompanisasi. Kebetulan, sistem pengairan disini juga bagus dan dapat pasokan juga dari jaringan Waduk Kedungombo,”ujarnya.

Dia menambahkan, usia tanam hingga panen terbilang 53 hari. Untuk perawatan selama itu, dua hektare lahan bisa menghabiskan dana perawatan sebesar Rp 48 juta. “Pas panen ini kita jual perkilo ke pedagang,”katanya. Pedagang yang datang berasal dari Purwodadi, Sragen, Tayu Pati, Tuban, Weleri Kendal dan daerah lainnya. Semangka kemudian dipasok ke supermarket dan pasar pasar tradisional lainnya.

Anggota kelompok tani lainnya, Sudiran mengaku tetap untung dengan budidaya semangka tersebut. “Meski produksi agak merosot akibat cuaca panas, tapi harga masih menguntungkan,”ujar Sudiran yang menggarap lahan seluas satu bahu ini.

Kepala Dinas Pertanian Pangan, Agus Herawan mengatakan, budidaya buah semangka banyak dilakukan petani di Demak. “Kita support agar budidaya seperti ini bisa berlanjjut dan bisa mensejahterakan petani,”katanya. (hib/web/bas) Editor : Agus AP
#Dinpertan pangan