RADARSEMARANG.ID - Sempat viral terdapat video dari drone yang menampilkan belasan pendaki panik berhamburan turun akibat Gunung Dukono mengalami erupsi. Kejadian tersebut terjadi pada momen HUT RI ke 79 Sabtu (17/8/2024).
Pihak BPBD Kabupaten Halmahera Utara (Halut) juga telah menyatakan bahwa belasan pendaki tersebut tidak berkoordinasi dengan pos pengamatan Gunung Dukono saat melakukan pendakian.
Hal tersebut membuat belasan pendaki tersebut akhirnya diblacklist dan dilarang untuk mendaki lagi ke Gunung Dukono.
Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api di Indonesia yang masih aktif. Bahkan Gunung Dukono sendiri telah mengeluarkan aktivitas erupsinya sejak tanggal 13 Agustus 1993 hingga sekarang.
Berdasarkan informasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Gunung Dukono memiliki karakteristik bersifat eksplosif dan efusif. Kedua hal tersebut yang menghasilkan abu, lontaran batu pijar, bahkan aliran lava.
Gunung Dukono yang memiliki ketinggian 1.087 mdpl memiliki dua kawah aktif yakni Kawah Malupang dan Kawah Warirang.
Disamping itu dengan memperhatikan jenis, volume, dan hasil erupsi dimasa lalu, Gunung Dukono salah satu gunung yang bertipe Stromboli-Volkano berskala kecil hingga menengah.
Dengan memiliki dua kawah dan sifat yang efusif serta eksplosif, Gunung Dukono menjadi salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia sepanjang sejarah.
Dimana pada tahun 1550 gunung yang satu ini pertama kali mengalami letusan yang paling besar dalam sejarah.
Bahkan letusannya bersifat eksplosif dengan skala Volcanic Explosivity Index =3 (VEI=3) yang menghasilkan aliran lava dan laharnya memenuhi selat antara Halmahera dan kerucut sisi utara Gunung Mamuya.
Pada tahun-tahun selanjutnya seperti di tahun 1719, 1868, dan 1901 terus meletus dengan skala yang kecil.
Gunung Dukono juga memiliki batuan mayor andesit hingga basltik andesit, transit hingga trasidait, dan basalt hingga picro-basalt.
Selain itu gunung ini juga memiliki tatanan tektonik yakni di Zona Subduksi dengan perkiran sementara tebal lempeng samudera kurang dari 15 km.
Puncak Gunung Dukono sendiri dapat dicapai dari Kota Ternate dengan menggunakan perahu cepat ke Sopipi dengan waktu 45 menit.
Dan kemudian dilanjutkan dengan kendaraan roda empat menuju Desa Mamuya denagn waktu 4 jam.
Sejaka tanggal 15 Juni 2008, gunung Dukono ditetapkan berada di level II atau Waspada. Sehingga masyarakat sekitar dihimbau untuk selalu berhati-hati dan selalu mengikuti arahan dari petugas.
Selain itu masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas apapun termasuk wisata ataupun pendakian dalam radius 2 km dari kawah Malupang Warirang.
Disisi lain Gunung Dukono memiliki Kawasan Rawan Bencana yang dibagi menjadi tiga kawasan, diantaranya:
1. Kawasan Rawan Bencana III, yang ditandai dengan warna merah transparan mengarah ke arah timur laut. Kawasan ini merupakan kawasan yang berpotensi terlanda lairan lava, gas beracun, dan awan panas.
2. Kawasan Rawan Bencana II, yang ditandai warna merah jamu transparan mengarah ke arah timur laut. Dimana kawasan ini rawan terlanda aliran lava, awan panas, dan lahar hujan.
3. Kawasan Rawan Bencana I, yang ditandai dengan warna kuning transparan. Diman kawasan ini berpotensi terkena aliran lahar hujan. Kawasan ini mengisi aliran sungai yang bermuara di utara Gunung Dukono. (nun/bas)
Editor : Baskoro Septiadi