RADARSEMARANG.ID, Destinasi yang satu ini memang belum dikelola seperti objek wisata pada umumnya.
Namun, sajian panorama alam khas dataran tinggi nan luar biasa membuatnya menjadi jujukan para traveler. Terutama para penggemar selfie.
Gratis, tapi Instagrammable. Dua kata ini sangat pas untuk menggambarkan destinasi di Desa Purwoharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, ini.
Wajar, tidak ada biaya apa pun yang dikenakan kepada para traveler yang singgah di sana.
Namun, soal sajian, objek wisata ini menyimpan begitu banyak pesona dan atraksi alam. Begitu banyak spot yang layak dieksplorasi. Karena itu, destinasi ini begitu populer.
Untuk menuju ke sana, traveler butuh waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dari pusat kota Malang ke Kecamatan Ampelgading.
Setelah itu, dilanjutkan perjalanan menuju Puncak Bundu yang berjarak sekitar 4,8 kilometer dari kantor kecamatan.
Jalannya lumayan representatif. Mayoritas berupa aspal yang masih mulus. Meski, masih ada beberapa titik berupa makadam. Saat hendak tiba di lokasi, jalanan sedikit menanjak.
Begitu tiba di dua warung di sisi kanan jalan, berarti traveler sudah tiba di lokasi. Tidak ada tempat parkir khusus di Puncak Bundu. Tapi, jangan khawatir, traveler tetap bisa menempatkan kendaraannya di sana.
Untuk menuju ke puncak, wisatawan harus berjalan kaki sekitar 10 menit. Menyusuri jalan setapak. Sebagai tips, traveler harus bisa menjaga ritme mengingat kontur jalannya yang menanjak.
Begitu tiba di atas, traveler akan disambut pemandangan hutan Ampelgading yang luas dan hijau. Udaranya juga begitu sejuk cenderung dingin. Di puncak itu, sederet sajian alam juga bisa dinikmati.
Jika cuaca cerah, pengunjung bisa menikmati gagahnya Gunung Semeru dari kejauhan. Di sisi lainnya, terlihat lanskap Sungai Glidik.
Jika Semeru sedang meletupkan material, sebagian lahar dingin juga akan mengalir di sungai ini. Saat kemarau, sungai itu menjadi delta dan bisa dilalui kendaraan seperti truk.
"Jika cuaca sedang bagus, saat sore kita bisa lihat gunung dan langitnya biru,” ujar Yabesh Chrisneyfo, siswa SMP, kepada Jawa Pos Radar Malang yang juga berada di Puncak Bundu.
Menurut dia, meski tanpa pengelola, Puncak Bundu tetap menjadi favorit. Terutama bagi anak-anak muda. Sebab, pemandangan alam dari atas begitu satisfying.
”Apalagi, pengunjung seperti dirinya tak perlu bayar tiket atau parkir,” katanya. Sebelum pandemi Covid-19, masyarakat dan pemuda setempat sempat mengelola dan menata Puncak Bundu.
Ketika itu pengunjung dikenai tarif parkir Rp 10 ribu. Namun, setelah pandemi berakhir, tidak ada lagi yang mengelola objek wisata ini.
Meski demikian, masyarakat maupun wisatawan tetap berdatangan ke Puncak Bundu. Ada yang naik ke puncak, ada pula yang juga cukup ber-healing di warung.
Sebab, di sini pun, ragam keindahan alamnya sudah bisa dinikmati.
”Kami sekeluarga biasanya berhenti di warung ini siang hari. Baru naik jika keponakan minta foto di atas,” kata Dayu Kriswanda, warga Desa Tirtomarto, Ampelgading. (fin/c14/ris)
Editor : Agus AP