RADARSEMARANG.ID, Demak – Upaya meningkatkan kepedulian dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga dilakukan melalui kegiatan Zero Waste Kitchen di Desa Pecuk, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di Balai Desa Pecuk tersebut diikuti 12 ibu kader Posyandu bersama perangkat desa.
Kegiatan berlangsung semarak. Para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan limbah dapur, tetapi juga terlibat langsung dalam sejumlah praktik pemanfaatan limbah menjadi produk yang lebih berguna.
Pogram Zero Waste Kitchen merupakan bagian dari Projek Kepemimpinan mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Universitas Muria Kudus (UMK) Kelas E.
Program tersebut mengangkat tema “Pemanfaatan Limbah Dapur Menjadi Produk Ramah Lingkungan sebagai Implementasi SDGs” dan dilaksanakan di Desa Pecuk sebagai lokasi mitra kegiatan.
Kegiatan ini dilatarbelakangi kondisi masyarakat Desa Pecuk yang sebenarnya telah memiliki kesadaran awal dalam melakukan pemilahan sampah rumah tangga.
Namun, limbah yang telah dipilah, khususnya limbah organik dapur dan minyak jelantah, masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan lebih lanjut.
Karena itu, kegiatan Zero Waste Kitchen tidak hanya memperkenalkan pemilahan sampah, tetapi mendorong masyarakat untuk melanjutkan proses tersebut ke tahap pengolahan dan pemanfaatan.
Konsep yang diperkenalkan kepada peserta adalah mengubah cara pandang terhadap limbah, dari sesuatu yang harus dibuang menjadi sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan.
Dibagi dalam Beberapa Kelompok FGD
Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai konsep zero waste, jenis-jenis limbah dapur, pentingnya pengelolaan limbah dari rumah tangga, serta berbagai bentuk pemanfaatan limbah yang dapat dilakukan dengan cara sederhana.
Setelah sesi sosialisasi, peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok focus group discussion (FGD).
Pembagian kelompok dilakukan agar proses pelatihan dapat berlangsung lebih interaktif dan memungkinkan peserta memperoleh pendampingan secara lebih dekat selama praktik.
Dalam kelompok, peserta berdiskusi mengenai permasalahan limbah yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta juga mengikuti demonstrasi dari tim mahasiswa sebelum mencoba secara langsung tahapan pengolahan limbah sesuai dengan kelompok kegiatan masing-masing.
Model pelatihan melalui diskusi dan praktik tersebut membuat peserta tidak hanya menjadi penerima informasi.
Mereka terlibat sebagai mitra aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari mengamati, berdiskusi, mencoba, hingga menyampaikan pengalaman dan tanggapan selama kegiatan.
Pendekatan tersebut sesuai dengan rancangan proyek yang menempatkan masyarakat sebagai mitra aktif, sementara mahasiswa berperan sebagai fasilitator, pendamping, koordinator, dan penggerak kegiatan.
Limbah Organik Diolah Menjadi Eco-Enzyme
Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam pelatihan adalah pembuatan eco-enzyme.
Peserta diperkenalkan pada pemanfaatan limbah organik dapur, seperti kulit buah dan sisa sayuran, yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah.
Tim mahasiswa memberikan penjelasan mengenai bahan yang digunakan, proses pembuatan, serta tahapan yang perlu diperhatikan. Setelah mendapatkan demonstrasi, peserta kemudian mengikuti praktik secara berkelompok dengan didampingi oleh tim pelaksana.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan keterampilan praktis kepada peserta sehingga pemanfaatan limbah organik tidak berhenti pada proses pemilahan.
Limbah yang tersedia di lingkungan rumah dapat diarahkan untuk diolah menjadi produk yang memiliki manfaat bagi rumah tangga dan lingkungan.
Dalam program Zero Waste Kitchen, pelatihan eco-enzyme memang dirancang melalui tiga tahapan utama, yakni penjelasan, demonstrasi, dan praktik pembuatan eco-enzyme dari limbah organik dapur.
Target kegiatan tersebut adalah agar peserta mampu mengikuti proses pembuatannya sekaligus memahami cara pemanfaatannya.
Minyak Jelantah Disulap Menjadi Lilin Aromaterapi
Selain limbah organik, peserta juga mendapatkan pelatihan pemanfaatan minyak jelantah menjadi eco-friendly aromatherapy candle.
Kegiatan ini memperkenalkan alternatif pemanfaatan minyak bekas memasak yang selama ini berpotensi menjadi limbah rumah tangga.
Peserta terlebih dahulu mendapatkan demonstrasi mengenai proses pengolahan minyak jelantah.
Selanjutnya, peserta mencoba mengikuti tahapan praktik secara berkelompok dengan pendampingan mahasiswa.
Pelatihan ini sekaligus memperkenalkan gagasan bahwa limbah rumah tangga dapat memiliki nilai guna apabila dikelola dengan tepat.
Minyak jelantah yang tidak lagi digunakan untuk memasak dapat diarahkan menjadi produk lain sehingga tidak langsung berakhir sebagai limbah.
Dalam rancangan proyek, kegiatan Eco-Friendly Aromatherapy Candle memang diarahkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat dalam memanfaatkan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang ramah lingkungan.
Dilanjutkan dengan Eco Kitchen Garden
Kegiatan Zero Waste Kitchen juga diarahkan pada pemanfaatan lingkungan sekitar rumah melalui Eco Kitchen Garden.
Peserta diperkenalkan pada pemanfaatan wadah bekas dan sumber daya yang tersedia di lingkungan rumah untuk mendukung kegiatan bercocok tanam.
Pada kegiatan tersebut, peserta terlibat dalam penyiapan media tanam dan penanaman bibit.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengelolaan limbah organik dengan pemanfaatan lingkungan secara produktif.
Eco Kitchen Garden diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi dapat dikembangkan dan dirawat oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Dalam rancangan proyek, kegiatan ini ditujukan untuk membentuk kebun dapur sekaligus meningkatkan kemampuan peserta dalam melakukan perawatan dan pemanfaatannya.
Antusiasme Peserta Jadi Modal Keberlanjutan
Antusiasme peserta terlihat selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.
Para kader mengikuti penjelasan, aktif berdiskusi dalam kelompok FGD, serta terlibat dalam praktik yang diberikan oleh tim mahasiswa.
Keterlibatan peserta menjadi bagian penting dalam kegiatan karena tujuan proyek tidak hanya sebatas menyelesaikan rangkaian acara pada hari pelaksanaan.
Program dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, partisipasi, dan kemandirian masyarakat dalam mengelola limbah dapur.
Melalui kegiatan tersebut, kader Posyandu diharapkan dapat membawa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh ke lingkungan rumah masing-masing.
Praktik pengolahan limbah juga diharapkan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi dan sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.
Program Zero Waste Kitchen sendiri terdiri atas empat kegiatan utama, yakni sosialisasi, pembuatan eco-enzyme, pembuatan eco-friendly aromatherapy candle, dan eco kitchen garden.
Seluruh kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan limbah dapur yang telah dipilah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Pelaksanaan kegiatan pada 16 September 2026 juga menjadi bagian dari rangkaian proyek yang lebih panjang.
Setelah pelatihan, program dilanjutkan dengan pendampingan, monitoring, evaluasi, serta penyusunan tindak lanjut untuk mendukung keberlanjutan kegiatan di masyarakat.
Bagi mahasiswa PPG Calon Guru UMK, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengimplementasikan kompetensi kepemimpinan melalui pemberdayaan masyarakat.
Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu merancang dan melaksanakan kegiatan, tetapi juga membangun komunikasi, membagi tugas, mengelola sumber daya, mendampingi masyarakat, serta melakukan evaluasi terhadap program yang telah dijalankan.
Sementara bagi masyarakat Desa Pecuk, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat praktik pengelolaan limbah yang sudah dimulai dari pemilahan.
Limbah dapur yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diarahkan menjadi produk yang memiliki nilai guna, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan rumah tangga yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, kader Posyandu, dan masyarakat, Zero Waste Kitchen di Desa Pecuk diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan.
Program tersebut diarahkan menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan mengelola limbah dapur secara lebih produktif, mandiri, dan berkelanjutan. (rls/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo