RADARSEMARANG.ID, DEMAK-Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam organisasi nirlaba Sungai Watch besutan tiga pelari bersaudara asal Prancis (Gary, Sam, dan Kelly Bencheghib) berkolaborasi dengan Yayasan Got Bag Indonesia menggelar kerja bakti bersih sampah di pinggir Sungai Wulan, tepatnya di bawah jembatan Desa Bungo, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Sabtu (2/5/2026).
Gotong royong ini juga dibantu warga sekitar yang terdiri dari pegawai Kecamatan Wedung, perangkat Desa Bungo, termasuk elemen Karangtaruna, maupun pelajar.
Puluhan pelajar dari SDN Berahan Kulon didampingi sejumlah guru turut serta ambil bagian dalam bersih sampah tersebut.
Kerja bakti ini juga melibatkan petugas Polsek Wedung dan Koramil Wedung serta mahasiswa KKN dari UIN Walisongo Semarang.
Tampak hadir Sekcam Wedung Ahmad Suyud, Kades Bungo Imam Wahyudi dan lainnya. Pendiri Sungai Watch, Sam dan Kelly Bencheghib juga ikut bersih sampah bersama Manager Programme Got Bag Indonesia asal Jerman, Christian Averbeck dan Direktur Yayasan Got Bag Indonesia Billy Adrianto.
Aksi bersih sampah juga diikuti aktivis Bank Sampah Seger Waras Desa Berahan Kulon Wedung yang dikomando Ketua Bank Sampah Sodikin dan Alvina Dwi Damayanti selaku pengelola bidang promosi sekaligus pembawa acara giat clean up bersih sampah ditepi sungai tersebut.
Kades Bungo, Imam Wahyudi mengatakan, pihaknya merasa berterimakasih kepada pihak Sungai Watch maupun Got Bag Indonesia serta pihak Kecamatan Wedung termasuk Polsek dan Koramil Wedung yang membantu kegiatan bersih sampah di bawah jembatan Desa Bungo ini.
"Kegiatan ini penting karena telah memberikan edukasi bagi warga Bungo. Ini sekaligus evaluasi dan koreksi bagi Desa Bungo karena di bawah jembatan ternyata banyak sampah yang menumpuk dan sekarang dibersihkan,"katanya.
Baca Juga: Dongkrak Wisata Jateng, Wagub Taj Yasin Lakukan Tandem Paralayang di Kendal
Sekcam Wedung, Ahmad Suyud menambahkan, bersih sampah adalah tugas yang sangat mulia.
"Bagaimana kita bangkit dari masalah sampah ini. Saya ajak adik-adik, anak-anak semua. Bahwa mulai hari ini, ayo pilah sampah dari rumah. Bagaimana acaranya?. Saya kasih contoh. Kalau tiap hari beli teh jumbo, maka gelas jangan dibuang. Tutup gelas dibuka dan botolnya ditumpuk wadahi sak atau karung. Tutup dibuka botol dikremes. Habis itu bisa dijua. Karena itu, sampah plastik jangan dibuang ke tanah. Kasihan tanah bisa rusak,"latanya dihadapan warga dan pelajar yang ikut aksi bersih sampah.
Sekcam Suyud pun mengajak warga dan pelajar untuk berjanji ke diri masing-masing yang kemudian diikuti peserta kerja bakti.
Baca Juga: Antisipasi Risiko Banjir, Warga Kerja Bakti Bersih- bersih Kali Banger, Pemkot Turunkan Alat Berat
"Saya berjanji. Mulai hari ini, saya akan pilah sampah mulai dari rumah. Saya tidak akan buang sampah sembarangan,"katanya. Dia pun melanjutkan memberi arahan. "Mari kta edukasi diri kita ini bagaimana sampah bisa menjadi rupiah mulai hari ini,"jelasnya.
Sam Bencheghib mengatakan, sampah yang ada dibawah jembatan Desa Bungo sangat parah. Jika dilihat dari atas jembatan, maka di bawah banyak sampah plastik yang menumpuk.
"Itu mungkin sampah yang dibuang sekali pakai. Karena itu, kita dari Sungai Watch (dari Bali) bersama Got Bag Indonesia (dari Jogjakarta) kolaborasi bikin giat bersama bersih-bersih untuk edukasi anak-anak sekolah jangan buang sampah sembarangan,"ujar Sam.
Selain edukasi bersih-bersih sampah, hal lain yang perlu dilakukan untuk mengatasi sampah adalah harus ada infrastruktur tempat pembuangan sampah yang lebih banyak dari pemerintah. Tempat pengolahan sampah diperlukan agar sampah dapat dikelola dengan baik.
Baca Juga: Volume Sampah di Demak Capai 100 Ton Perhari, Jika Dikelola Bisa Berpotensi Ekonomi
"Kita sendiri dari sisi infrastruktir ada 9 gudang tempat sortir sampah plastik. Sampah plastik ini bisa kita buat mebeler seperti meja kursi dan lainnya. Sampah plastik termasuk tas kresek bisab diolah jadi barang ekonomi,"katanya.
Fenomena banyaknya sampah plastik terjadi karena meningkatnya plastik kresek yang didalamnya juga menjadi tempat botol minuman yang dibeli.
"Kenapa botol yang dibeli harus dimasukkan kresek juga?. Mestinya tidak perlu. Kalau ada tas kain barangkali bisa dipakai dari rumah tiap hari,"kata Sam memberikan edukasi.
Dia berharap, banyaknya sampah di Kabupaten Demak ini membuatnya tertarik untuk mendirikan Sungai Watch di Jawa Tengah. Sebab, Sungai Watch yang berperan menggerakkan bersih sampah dan sungai sejauh ini baru ada intensif di Bali dan Jawa Timur.
"Di Jawa Tengah belum ada (Sungai Watch). Karena itu, kita lakukan gerakan bersih sungai di Jateng ini. Sebab, kalau mau betul lebih intensif bersih sungai ya memang harus ada partmer dari warga sini,"jelasnya.
Setelah dari Demak, gerakan bersih sungai dan sampah dilanjutkan ke Kota Semaranh dan Kendal dan daerah lain hingga Jakarta dalam rangkaian roadshow Run For Rivers 2026. Ingat program ini, maka ingat tagline Sungai Watch. "Jaga Sungai Kita". (hib)
Editor : Tasropi