Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Dibalik Tugu Sriwulan Sayung, Kabupaten Demak

Aby Genta Putra Prasetya • Sabtu, 6 Juli 2024 | 16:40 WIB
Potret Tugu Pahlawan di Desa Sriwulan Kecamatan Sayung
Potret Tugu Pahlawan di Desa Sriwulan Kecamatan Sayung

RADARSEMARANG,ID - PERGERAKAN perjuangan rakyat Indonesia pada masa perang mempertahankan kemerdekaan memang terfokus pada kota-kota besar.

Namun tak memungkiri, geliat revolusi juga menghinggapi masyarakat, lasykar dan gerakan pemuda yang berada di wilayah pinggiran.

Bangsa ini memang telah memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, namun untuk mencapai kebebasan yang absolut dari belenggu penjajahan.

Para pejuang harus mengusir para penjajah yang kembali bercokol di Tanah Air, bersamaan dengan kedatangan sekutu di Ibu Pertiwi.

Sejarah Pertempuran Sriwulan Demak

Perjuangan di pesisir utara Jawa Tengah tak hanya berpusat di Semarang, sebagai ibukota dan kota besar yang mengakomodasi seuruh kegiatan masyarakat.

Namun api revolusi juga tertanam dalam setiap jengkal tanah yang dipertahankan para pejuang Indonesia dengan titik darah penghabisan.

Di Demak, tepatnya Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung pecah sebuah pertempuran untuk menghalau kedatangan kembali Belanda di Indonesia.

Daerah Demak menjadi frontline sebagai perbatasan yang menjadi arena tempur pihak Sekutu yang mendarat di Semarang dengan Pejuang Indonesia yang sudah menguasai banyak wilayah.

10 KM dari Kodya Semarang, Desa Sriwulan ditempati oleh sebuah regu TKR ( Tentara Keamanan Rakjat) yang berasal dari Kendal, dan dipimpin oleh Danru Soegijo, yang kemudian digantikan oleh Pasukan Imam dari Sragen.

Selalng beberapa hari pos ini kedatangan se-regu pasukan dari Purwodadi yang dipimpin oleh Paiman yang menggantikan regu Imam dari Sragen. Mereka menempati salah satu rumah warga yang bernama Saleh.

Kontak senjata dimulai setelah kompi Paiman menggantikan pasukan Sragen yang telah meninggalkan tempat tersebut. Di jam 04.00, Belanda mulai menyerang Sriwulan dari arah Semarang.

 

Untungnya dengan sigap, para warga telah dievakuasi terlebih dahulu ke tempat yang lebih aman ke arah utara maupun selatan, yang dengan berat hati meninggalkan harta dan ternak milik mereka.

Penyerangan makin gencar dilakukan Belanda hingga pihak Republik harus mendatangkan Batalyon VIII, Batalyon VII, dan Batalyon IX yang bermarkas di rumah warga bernama Kaerun. Lalu kedatangan lagi satu kompi dari Pati yang bermarkas di Kantor Lurah Putuan.

Baca Juga: Sejarah Gereja Girisonta yang Menjadi Saksi Bisu Masa Suram Penjajahan Jepang

Perang pecah dan Belanda mulai membombardir markas-markas TKR yang berada di Sayung, menyebabkan para pejuang harus mundur dari Pututan beralih ke Kantor Kecamatan Sayung (Sekarang).

Sembari mundur, para TKR ini membakar habis seluruh rumah di Desa Sriwulan agar tidak dijadikan markas oleh pihak Belanda.

Namun garis pertahanan tetap berada di Desa Sriwulan yang berbatasan dengan Kecamatan Genuk, Semarang.

Untuk memperingati kisah patriotik tersebut, pemerintah membangun sebuah monumen untuk mengenang perjuangan TKR dan rakyat Demak dalam mempertahankan kemerdekaan.

Patung dengan tinggi 3,5 meter ini berbentuk seorang pria dengan seragam TKR lengkap dan bersenjata berdiri diatas tujuh buah tengkorak, yang merupakan simbol korban yang meninggal akibat peristiwa berdarah tersebut.

Pada tugu penyangga patung tersebut memiliki tulisan " DARAH KAMI TELAH MEMBASAHI IBU PERTIWI. LANJUTKAN PERJUANGAN KAMI, NYALAKAN TERUS NILAI-NILAI PROKLAMASI DALAM MEMBANGUN NEGARA RI".

Sebagai bentuk penghormatan dan sebuah spirit yang diwariskan agar kita terus memiliki semangat juang, serta membela bangsa dari ancaman dari luar maupun ancaman dari dalam yang menghantui Ibu Pertiwi.

Source: Monumen Perjuangan Jawa Tengah

Editor : Tasropi
#Sejarah Tugu Sriwulan #Sejarah Perang Demak #Sejarah Perang Kemerdekaan #Tugu Sriwulan Demak #Sejarah Demak