RADARSEMARANG.ID, Semarang - Belakangan viral ritual menyembelih wedus kendit atau kambing kendit sebelum penutupan tanggul jebol Sungai Wulan yang mengakibatkan banjir Demak.
Dalam prosesi ritual tersebut, seekor wedus kendit atau kambing dengan warna bulu hitam dan putih ditengahnya itu dibuat "kurban" dalam penutupan tanggul.
Wedus kendit tersebut ditanam di tengah tanggul dengan harapan prosesi penutupan tanggul dapat berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan secara gaib.
Sebelum ditanam di tanggul, wedus kendit terlebih dulu di sembelih oleh seorang kiai dari Kudus sesuai syariat Islam.
Wedus kendit tersebut diperlukan setelah sebelumnya viral di media sosial bahwa pengemudi alat berat bechoe yang bertugas menutup tanggul jebol sempat menemui kondisi yang janggal di lokasi.
Saat alat berat meninggikan tanggul kondisi tanggul terasa sudah kuat.
Namun, saat pengemudi turun, tanggul yang diinjaknya terasa ambles. Kakinya pun dirasa seperti menginjak tubuh ular besar.
Selain itu, pengemudi alat berat ini juga sempat ditemui sosok orang tua saat hujan deras di sela pengerjaan penutupan tanggul.
Pria sepuh misterius tersebut sempat membeei wejangan pengemudi eskavator tersebut. Diantaranya, memberitahukan agar ada wedus kendit saat penutupan tanggul.
Sosok itu juga memberitahukan bahwa di tanggul itu ada punden (makam tokoh desa). Namun, selama ini warga setempat dianggap sudah tidak menghargai lagi dengan bersedekah bumi.
Sosok itu juga mengingatkan agar pengemudi eskavator itu segera meninggalkan lokasi karena tanggul akan jebol lagi.
Mendasarkan pengalaman itu, akhirnya penutupan tanggul dilaksanakan dengan penanaman wedus kendit di area tanggul beserta uborampemya.
Nah, selain di Demak ritual menyembelih wedus kendit juga pernah dilakukan di beberapa daerah.
Seperti warga Desa Silurah yang bermukim di antara Gunung Ranggakusuma dengan Gunung Kobar juga masih menggelar kirab gunungan hasil Bumi atau nyadran dengan menyembelih kambing kendit.
Hajatan tahunan itu selalu ditunggu warga Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Kambing kendit itu berwarna dasar hitam kombinasi putih bergaris melingkar seperti cincin tanpa putus di bagian badan.
Mereka menjalani ritual menyembelih kambing kendit dan nyadran atau sedekah Bumi ini sebagai rasa bersyukur kepada Tuhan.
Ritual adat sedekah Bumi yang berlangsung turun-temurun ini merupakan tradisi yang dianggap sakral oleh warga.
Ritual warisan leluhur ini digelar setiap bulan Jumadil Awal tepatnya pada hari Jumat Kliwon.
Setelah leher kambing dipotong, pemangku adat dan tokoh masyarakat membawa kepala dan kaki kambing, tumpeng, dan sesaji lain untuk dikubur di dalam tanah sekitar gunung tersebut.
Kemudian warga satu desa berbondong-bondong menuju ke ujung desa atau lereng Gunung Silurah dengan membawa ambeng makanan dan jajan menggunakan cepon (rinjing/bakul anyaman bambu) yang dibungkus plastik warna hitam dari rumah masing-masing.
Nyadran Gunung Silurah ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh tiga tokoh masyarakat setempat. Pembacaan doa dilakukan oleh sesepuh desa dengan menggunakan syair-syair khas Jawa dengan naskah aksara Jawa.
Adapun ritual pemotongan kambing kendit merupakan tradisi turun-temurun yang diyakini sebagai medium ritual yang dianggap punya kekuatan untuk menolong warga desa.
Kepercayaan bahwa tradisi tersebut bisa menjauhkan penduduk dari malapetala itulah yang menyebabkan ritual-ritual yang menyertai dalam ritual adat itu masih dilakoni warga Desa Silurah hingga hari ini.
Kemudian tradisi memotong kambing kendit lainnya datng dari masyarakat adat di Desa Carangrejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Ritual sedekah bumi menyembelih kambing kendit digelar setiap November bertepatan dengan Jumat Legi dalam penanggalan Jawa.
Ada beberapa bagian tubuh kambing kendit yang tidak dimasak, melainkan dilarung ke dasar Sungai/Dam Sumorobangun, meliputi kepala, kaki, serta jeroan.
Setelah selesai acara memasak dilanjutkan dengan doa bersama atau kenduri. Warga antusias mengikuti prosesi ini. (bas)
Editor : Baskoro Septiadi