Antara lain, mengolah gedebog pisang menjadi scak atau jajanan. Itu dilakukan sebagai upaya memulihkan ekonomi masyarakat.
Kepala Dinakerin, Bambang Saptoro mengatakan, untuk memiliki kemampuan tersebut, pihaknya sempat studi banding ke Jogjakarta.
“Di Jogja ini, yang menarik bagi kita adalah adanya IKM yang memproduksi gedebog pisang menjadi snack. Karena itu, kita mencoba mengadopsinya untuk ditularkan kepada perajin IKM di Demak,” katanya.
Menurutnya, banyak potensi di Kota Wali untuk bisa dikembangkan, termasuk melimpahnya bahan baku gedebog pisang tersebut. Gedebog pisang sendiri ada daunnya. Ada pula buahnya yang dapat diolah menjadi penganan atau jajanan yang bernilai ekonomis. Bahkan, jika diolah, pelepah kulit pisang juga bisa menjadi keripik, termasuk bonggol pisangnya.
“Setelah kita berikan pelatihan pembuatan jajanan dari gedebog pisang ini, warga mulai tertarik untuk memproduksinya,” ujar Bambang.
Warga Desa Menur, Kecamatan Mranggen misalnya, hasil produksinya dijual dengan harga antara Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per 100 gram. Terkait hal ini, Dinakerin telah melatih warga di tiga desa di tiga kecamatan. Yaitu, Kecamatan Mranggen, Karangtengah dan Karanganyar.
“Sudah berproduksi dan mampu bersaing dengan jajanan atau snack lainnya,” katanya. Geliat wirausaha baru tersebut dinilai telah mampu menjadi sumber pendapatan tambahan bagi ekonomi keluarga, utamanya yang bergelut di bidang IKM atau usaha produksi rumah tangga. (hib/ap) Editor : Agus AP