Kenapa Indonesia Terasa Sangat Panas Akhir September 2026? Ini Penjelasan BMKG

Sulistiono • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 19:34 WIB
Ilustrasi: Apakah kota anda rasakan menjelang akhir September terasa semakin menyengat panasnya?. (ai/Sulistiono)
Ilustrasi: Apakah kota anda rasakan menjelang akhir September terasa semakin menyengat panasnya?. (ai/Sulistiono)

 

RADARSEMARANG.ID - Cuaca panas terasa semakin menyengat di sejumlah wilayah Indonesia pada akhir September 2026.

Suhu maksimum bahkan menembus 37 derajat Celsius. Lantas, kenapa Indonesia terasa begitu panas? BMKG mengungkap sejumlah faktor yang sedang memengaruhi kondisi atmosfer saat ini.

Teriknya matahari pada siang hari membuat suhu udara di beberapa daerah meningkat hingga lebih dari 37 derajat Celsius.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak berdiri sendiri.

Ada beberapa faktor yang membuat sebagian wilayah Indonesia mengalami cuaca panas dan kering.

Berdasarkan pemantauan BMKG, kondisi atmosfer kering masih mendominasi berbagai wilayah Indonesia pada akhir September.

Baca Juga: BMKG Ungkap Daftar Daerah Jateng yang Bisa Tembus 36°C, Ada Kotamu?

Bahkan, Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari masih terjadi di sebagian wilayah Jawa bagian tengah hingga timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Kondisi serupa juga ditemukan di sejumlah wilayah Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, serta Sulawesi bagian selatan dan tenggara.

Minim awan membuat permukaan lebih cepat panas. Salah satu faktor penting adalah minimnya tutupan awan, terutama pada pagi hingga siang hari.

 

Saat tutupan awan sedikit, radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi. Akibatnya, proses pemanasan permukaan berlangsung lebih intensif dan suhu udara maksimum dapat meningkat.

BMKG mencatat selama 20–23 September 2026 suhu maksimum lebih dari 37°C terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Lampung dan Sulawesi Tenggara.

Kondisi udara relatif kering

Selain minim awan, kelembapan atmosfer yang relatif rendah juga ikut memperkuat kondisi panas.

Udara yang lebih kering membuat proses penguapan berlangsung lebih cepat. Kondisi ini tidak hanya membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan, tetapi juga meningkatkan kerentanan wilayah yang mengalami kekeringan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Baca Juga: BKN Luruskan Data 2.722 ASN Mengundurkan Diri, Ternyata Tak Semuanya Keluar

El Niño sangat kuat ikut memengaruhi

BMKG juga mencatat kondisi iklim global masih menunjukkan El Niño kategori sangat kuat.

Pada periode pemantauan terbaru, indeks Niño 3.4 tercatat +2,53.

Secara umum, kondisi El Niño tersebut cenderung mengurangi aktivitas pembentukan awan hujan di Indonesia.

Selain itu, nilai rata-rata mingguan Dipole Mode Index (DMI) sebesar +0,7 mengindikasikan berkurangnya pasokan uap air dari Samudra Hindia menuju Indonesia bagian barat.

Kombinasi faktor tersebut ikut mendukung bertahannya kondisi relatif kering di sejumlah wilayah Indonesia.

 

Mengapa tetap ada hujan di beberapa daerah?

Meski sebagian besar wilayah mengalami kondisi relatif kering, bukan berarti seluruh Indonesia bebas hujan.

BMKG menjelaskan dinamika atmosfer regional masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah tertentu.

Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Rossby Ekuatorial, misalnya, dapat memengaruhi pertumbuhan awan di wilayah yang dilaluinya.

Selain itu, adanya daerah pertemuan atau perlambatan angin dapat membantu mengangkat massa udara dan memicu pembentukan awan hujan.

Karena itu, kondisi cuaca Indonesia pada akhir September tetap dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Apakah cuaca panas akan terus berlangsung?

Untuk periode 28 September hingga 1 Oktober 2026, BMKG memprakirakan cuaca Indonesia umumnya didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan.

Namun, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah wilayah.

Dengan kondisi kering yang masih bertahan di banyak daerah, masyarakat tetap disarankan memantau informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG, terutama ketika akan melakukan aktivitas di luar ruangan.

Jadi, panas yang dirasakan masyarakat pada akhir September 2026 merupakan hasil kombinasi beberapa faktor, mulai dari kondisi kering berkepanjangan, minimnya tutupan awan, kelembapan yang relatif rendah hingga pengaruh dinamika atmosfer global dan regional.

 

Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa suhu di beberapa wilayah Indonesia dapat mencapai lebih dari 37°C, sementara daerah lainnya masih berpotensi mengalami hujan. (sls)

Editor : Baskoro Septiadi
CuacaIndonesia CuacaPanas IndonesiaPanas Suhu37C BMKG