RADARSEMARANG.ID - Menjadi seorang juru pelihara dan penjaga bangunan dan benda cagar budaya adalah hal menarik.
Terutama bagaimana cara merawat dan memelihara bangunan dan benda yang sudah berusia ratusan tahun.
Salah satunya di kompleks Petirtaan Derekan dan Candi Ngempon yang berada di Desa Ngempon, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.
Candi Ngempon sendiri ditemukan 1952 dan ditemukan reruntuhan dan sembilan pondasi candi.
Di dekat Candi Ngempon juga terdapat sebuah kolam pemandian air panas atau biasanya disebut Petirtaan Derekan.
Salah satu penjaga Petirtaan Derekan, Narsito mengungkapkan Petirtaan Derekan ini menjadi salah satu tempat favorit pengunjung yang ingin merasakan pemandian air panas.
“Biasanya paling ramai ketika hari libur dan akhir pekan. Terutama Sabtu selalu ramai, bahkan sampai malam hari," katanya.
Ia juga mengungkapkan untuk perawatan kolamnya sendiri biasanya dikuras dua hari sekali. Serta dibersihkan agar airnya bisa kembali jernih. “Airnya juga nanti kembali penuh lagi karena bersumber dari dalam bumi," katanya.
Para pengunjung kebanyakan meyakini, air dari kolam Petirtaan Derekan bisa menyembuhkan penyakit.
Banyak orang yang datang dan berendam di sini dengan tujuan untuk penyembuhan. Malah, seringkali petirtaan ini menjadi salah satu tempat ritual dengan cara merendam diri.
Tapi hal itu, biasanya dilakukan setelah kondisi pemandian sepi oleh pengunjung. "Tapi kebanyakan pengunjung hanya mandi lalu mengunjungi Candi Ngempon yang tidak jauh dari pemandian," lanjutnya.
Ia juga mengaku selama berjaga di sekitar Petirtaan Derekan tidak pernah mengalami kejadian aneh atau hal gaib lainnya.
Namun justru ia mendapatkan cerita pengalaman-pengalaman dari pengunjung yang sering datang ke petirtaan.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), Tri Subekso menambahkan perawatan candi atau benda cagar budaya memerlukan upaya pembersihan secara rutin.
Biasanya dengan melakukan pembersihan mekanis kering pada bagian tubuh dan atap candi yang bertujuan untuk membersihkan bangunan dari tanaman liar dan kotoran lainnya. "Alat yang dipakai cukup sederhana yaitu sapu lidi dan sikat ijuk," terangnya. (nun/bas)
Editor : Baskoro Septiadi