RADARSEMARANG.ID - Kini banyak orang tua yang sadar pentingnya mengembangkan bakat dan minat anak. Salah satu yang mereka pilih adalah belajar berkaitan dengan budaya. Sehingga anak mereka tidak lupa akan nilai-nilai budaya.
Salah satu sekolah yang yang masih berhubungan dengan budaya adalah Sindhu Laras Bocah. Yakni sekolah pedalangan dan karawitan di daerah Gemah Raya, Kota Semarang.
Usia muridnya berkisar antara 6-13 tahun dan standarnya ketika masuk anak harus sudah bisa membaca setidaknya bisa mengetahui notasi angka. Sanggar ini menerapkan muridnya harus bisa karawitan 70 persen dan pedalangan 30 persen.
Pendirinya Dhananjaya Gesit Widiharto. Yaya sapaan akrabnya. Ia membangun sekolah ini bermula dari bakat anaknya yang suka dengan dunia pedalangan.
Karena tidak bisa mengantarkan anaknya untuk pergi les atau latihan. Akhirnya Yaya pun menghadirkan sanggar di rumahnya sendiri. Selain anaknya bisa mengembangkan keterampilannya dengan baik, juga untuk nguri-uri budaya.
“Anak itu nggak pernah dianter, selalu protes. Akhirnya saya buat sekolah ini jadi bisa sekolah di rumah,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Kini ada 25 siswa yang belajar pedalangan dan karawitan di Sindhu Laras Bocah. Kata dia, ada tantangan tersendiri dalam mengajari anak-anak. Yakni harus diperbanyak dengan praktik dibandingkan dengan teori.
Misalnya ketika memerintah untuk membawa lancaran atau lagu. Pada saat itu juga Yaya mempraktikkannya di depan para siswa.
“Anak-anak kalau sistemnya, banyak teori, dia mbengkang, pasti jenuh. Maka saya praktikkan langsung. Misalnya saya perintahkan untuk bawa lancaran cublek-cublek suweng, saya praktikkan saat itu juga, di jam itu juga,” tambahnya.
Kata dia, ketika mengajari anak-anak bermain karawitan, pengajar juga harus pintar-pintar mencermati kemampuan anak.
“Kita cermati, misal bocah ini belum siap untuk ilustrasi kendang, jadi harus kita kasih ilustrasi yang standarnya di bawah kendang, yang agak mudah misalnya saron,” katanya.
Kemampuan anak berbeda-beda, tidak bisa disamakan satu sama lain. Begitu pula sifat dan watak mereka. Tidak bisa dikekang seperti murid dewasa yang sudah memasuki jenjang SMP atau SMA.
Kendala lain dalam mengajari anak-anak belajar karawitan adalah ketika badmood. Menurutnya anak-anak lebih gampang bosan. Namun jika dibiarkan, mereka tidak bisa dengan cepat belajar.
“Kalau saya menanganinya ketika badmood, ya saya alihkan. Saya ajak komunikasi, ditanya dia maunya apa? Dituruti, misal dia nggak mau gamelan, dia bisa main wayang dulu, bisa juga dengan istirahat sejenak agar si anak bisa fokus,” ungkapnya.
Yaya biasanya juga mengiming-imingi anak-anak. Misalnya membandingkan anak tersebut dengan anak lain yang sudah bisa ke tahap yang lebih rumit. Tujuannya untuk memberikan motivasi dan semangat belajar.
“Kita nasehati pelan-pelan. Lalu dibandingkan dengan yang lain, misal bilang seperti ini ‘kalau temen-temenmu bisa gamel, kamu ngga bisa main gamelan gimana?’, nah akhirnya dengan seperti itu anak mau,” bebernya.
Lebih lanjut, Yaya mengaku belajar kebudayaan untuk anak-anak itu sangat penting. Terlebih di era gempuran digitalisasi saat ini.
Anak-anak lebih memilih main game seperti mobile legend, PUBG, dan lainnya ketimbang belajar menari, bermusik, bahkan ndalang atau karawitan.
Menurutnya budaya itu kental dengan adab. Ketika anak-anak sejak dini diajari tentang budaya dipastikan attitude dan unggah-ungguh-nya akan bagus.
“Kalau nggak dari diri kita sendiri yang mengarahkan anak-anak untuk mencintai budaya, mau kapan lagi? Budaya itu fondasi bangsa, kalau budaya hilang bangsa juga tidak akan maju. Jadi kita harus membentuk pondasi agar anak-anak ini mencintai serta nguri-nguri kebudayaan,” tandasnya.
Cinta Wayang dari Pandangan Pertama
Athaya Alfarizqi, putra kedua dari dua bersaudara dari pasangan Oky Adhitya dan Luvy Sarwendah menyukai wayang sejak usia 3 tahun.
Anak kelahiran Semarang, 22 September 2012 ini mencintai dunia pewayangan berawal dari berlibur ke Yogyakarta.
Oky Adhitya, 44, bercerita, Athaya sangat spesial dari anak-anak seusianya. Ia sangat menyukai dunia pewayangan, padahal orang tuanya tidak memiliki bakat seni.
Baca Juga: 10 Mantan Pemain PSIS Semarang Gabung Tim Liga 2 Malut United, Termasuk Eks Pelatih dan Asisten
Bermula dari berlibur ke Solo-Yogyakarta, Athaya yang pada waktu itu berusia 3 tahun minta dibelikan satu wayang yang dijual pedagang pinggir jalan.
"Athaya bertanya, ayah itu apa? Saya jawab itu wayang. Lalu dia meminta untuk membelikannya," kata Oky.
Sesampainya di rumahnya, di Jalan Mahesa Utara Nomor 440 Pedurungan, Athaya memainkan wayang.
"Di rumah itu kok memainkan wayang, malah suka dengan dunia pewayangan, saya heran," katanya.
Baca Juga: Deal! PSIS Pastikan 6 Pemain Asing Tetap Bertahan di Putaran Kedua Liga 1
Oky sempat khawatir jika kecintaan Athaya dalam dunia pewayangan hanya sesaat. Sehingga ia hanya memancing potensi dalangnya lewat tontonan pentas wayang kulit.
Tujuh tahun kemudian, Athaya makin mahir memainkan wayang. Ia praktik sendiri di rumah secara otodidak lewat televisi dan YouTube.
Daripada bakat seni tidak tersalurkan, Oky mulai mencari agar anaknya bisa mengenal wayang dengan benar.
Pada awal 2022, Athaya didaftarkan ke Sanggar Shindhu Laras. "Karena orang tuanya tidak memiliki darah seni blas," katanya.
Baca Juga: Razia Kamar Hunian di Lapas Semarang, Ditemukan Handphone hingga Pisau Rakitan
Siswa Sekolah Alam Ar-Ridho ini berlatih di Sanggar Shindhu Laras setiap Minggu pukul 15.30 - 17.00. Setahun berlatih, pernah pentas menjadi dalang ketika ulang tahun Teater Lingkar.
Pentas itu untuk menguji mental Athaya. Bagaimana ia akhirnya tampil di hadapan banyak orang. Lama kelamaan, tentu keterampilannya makin terasah.
"Sering juga di RRI ketika malam Jumat Kliwon, terakhir di TBRS saat Ulang Tahun TNI. Dia konsentrasinya sabetan perang, perannya belum mendalami," kata Oky.
Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut Travel Hiace Tabrak Truk di Jalan Tol Semarang-Solo
Munculnya banyak dalang cilik, Oky mengajak para orang tua mendukung anaknya dalam berproses. "Kalau anaknya mencintai dunia seni, dunia wayang, kita tunggu dulu anaknya bosenan atau tidak. Kalau kita lihat ada potensi dan cinta, kita dukung," kata Staf Bapenda Provinsi Jawa Tengah ini. (kap/fgr/ton)
Editor : Baskoro Septiadi