Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cerita Para Penggali Kubur dan Perawat Makam di Kota Semarang, Sudah Terbiasa dengan Hal Mistis

Figur Ronggo Wassalim • Minggu, 24 September 2023 | 18:28 WIB
Para penggali kubur yang sekaligus bertugas untuk merawat makam-makam yang ada di TPU Tenggang.
Para penggali kubur yang sekaligus bertugas untuk merawat makam-makam yang ada di TPU Tenggang.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Ribuan batu nisan tertata rapi di TPU Tenggang, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari.

Di balik semua itu, ada empat penggali kubur yang dua di antaranya bertanggung jawab menjaga kebersihan ribuan makam tersebut.

Adalah Jumahar dan Ngadiono yang sudah menjadi penggali kubur di TPU Tenggang sudah lima tahun.

Sementara dua rekannya sudah bekerja. Tetapi kalau ada warga yang menganggur diajak untuk bersama menjadi tukang gali kubur.

TPU Tenggang sempat tenggelam karena abrasi. "Ketika ada proyek BKT, pihak kelurahan, warga, dan makam mengajukan agar tanah bisa dibuang ke makam untuk pengurukan, mulai ikut proyek sekalian menjadi penggali kubur," katanya.

Untuk biaya pemakaman warga Tambakrejo Rp 750 ribu. Sementara penggali kubur Rp 300 ribu. Sedangkan warga di luar Tambakrejo Rp 2 juta, untuk penggali kuburnya dapat Rp 400 ribu.

"Untuk kami dibagi empat orang. Kalau orang meninggal tidak punya, kita bantu. Nanti diurus panitia. Yang penting makam bersih, tertata dengan rapi dan perawatan makam," kata Jumahar.

Meski begitu, penghasilan mereka didapatkan dari para peziarah. Kalau ada yang ngasih, mereka menerima dengan senang hati. “Yang penting kita diberikan kesehatan," ungkapnya.

Selama menjadi penggali dan penjaga makam, ia memiliki kelebihan. Biasanya ketika kondisi sepi dan mencekam, pasti akan ada orang meninggal. Bahkan kerap melihat hal-hal mistis. Seperti keranda terbang dan anjing besar berseliweran.

"Kalau malam jam 19.00 WIB-21.00 WIB sepi, pasti tanda-tanda ada orang meninggal," imbuh Jumahar.

Untuk proses lamanya menggali kubur, tergantung tempat. Seperti tanah yang keras, tanah yang lebar. Minimal 2 jam, kalau numpuk dengan timbunan makam lama kan hingga 4 jam.

Pengalaman mistis juga pernah dirasakan, seperti ketika hendak direnovasi, mayat berusia empat bulan masih utuh.

Diameter liang lahatnya kurang juga pernah. Bahkan, bau wangi semerbak juga pernah ditemui.

"Masalah orang itu baik atau buruk saya tidak tahu. Tapi dengan rasa tanggung jawab, kita harus ikhlas. Karena besok kita juga meninggal. Penggali kubur ini mulia kan, harus siap setiap saat," ungkap Jumahar.

Ketika Pandemi Covid-19, mereka memakamkan hingga delapan jenazah. Karena TPU Tenggang merupakan rekomendasi pemakaman Covid-19, sekitar 50 an makam. Pernah juga pukul 01.30 dini hari padahal belum selesai ada lagi, pelayatnya hanya keluarga.

"Pertama yang menemui saya, lha kok dingin. Pakai APD juga. Lambat laun, pakai masker," katanya.

Mereka berharap, TPU Tenggang lebih diperhatikan. Terutama, penghasilan para penggali kubur karena penghasilan hanya diperoleh dari orang meninggal.

"Setiap hari kita juga butuh makam, para pengurus juga tidak menyediakan karena tidak ada. Kalau ada peziarah kita bagi," tambahnya. (fgr/fth)

 

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Penggali Kubur #Makam #batu nisan #TPU