Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Kisah Heroik Para Relawan PMI, Menerobos Banjir dan Selamatkan Warga Kritis

Nurfa'ik Nabhan • Minggu, 3 September 2023 | 18:51 WIB
Photo
Photo

RADARSEMARANG.ID - Hari Palang Merah Indonesia (PMI) diperingati setiap tanggal 3 September. Banyak kisah heroik para relawan. Salah satunya Roy Syaifudin relawan aktif TSR PMI Kota Semarang.

Roy menjadi relawan di kepengurusan TSR PMI Kota Semarang sejak 1998. Baginya menjadi relawan bukan pekerjaan mudah.

Harus ikhlas dan siaga demi memberikan pertolongan dan pelayanan terbaik untuk membantu masyarakat.  

Selama 25 tahun menjadi relawan banyak kisah baik sedih maupun senang. Ia pernah bertugas saat tsunami di Aceh, gempa di Padang, gempa di Bantul, erupsi gunung Merapi, gempa di Lombok dan lainnya.

"Ada perasaan bangga sebagai anggota PMI. Karena diberi tugas membantu orang lain sehingga membantu pemerintah ketika bencana alam," katanya.

Roy mengakui menjadi relawan PMI tidak boleh asal-asalan. Ia harus mengikuti proses pelatihan atau pendidikan khusus.  

Sebagai anggota PMI selalu berusaha bertanggung jawab dengan tuntutan ilmu, dan pengalaman ketika pelatihan. "Kami berikan secara nyata ketika bertugas," katanya.

Selain bertemu banyak teman, banyak orang, dan karakteristik budaya, serta mengenal karakter orang lain.

"Finansial ini tidak prioritas meskipun ada, tetapi kepuasan batin bisa memberikan manfaat bagi masyarakat yang terdampak bencana alam," jelasnya.

Berbeda kondisinya dan cerita dengan relawan, banyak kesan yang didapatkan. Seperti bencana alam banjir, longsor, gempa, dan tsunami pastinya menghadapi situasi yang berbeda.  

"Dalam kurun waktu lama, kami mengalami kejadian yang tak terduga, tentunya kami harus selamat baik itu individu maupun tim yang membantu masyarakat," katanya.

Saat banjir di Meteseh beberapa waktu lalu ia terjun langsung. Bersama tim ia masuk ke perumahan Dinar, Rowosari dan saat itu Maghrib.

Air masuk 1 meter lebih. Ia mendapati warga dalam kondisi kritis sehingga melakukan tindakan, melakukan Resusitasi katup dan paru.

Tindakan dilakukan di rumah, beberapa menit kemudian, dievaluasi dengan perahu karet menuju di RS.

"Selama perjalanan, sampai di IGD masih terselamatkan. Tapi paginya dinyatakan meninggal karena paru-parunya terinfeksi," ujarnya.

Roy memegang teguh amanat dari Ketua PMI, Jusuf Kalla. Tugas pokok PMI adalah penyelenggaraan unit donor darah, pelayanan kesehatan, dan membantu pemerintah dalam penanganan bencana alam. Ia mengajak anak-anak muda lebih empati dan bisa turut menjadi relawan.

“Sekarang era teknologi. Mari kita belajar tentang antisipasi bencana alam. Baik mendeteksi maupun mengetahuinya. Jadi ketika ada bencana bisa lebih sigap dan tanggap," tambahnya.

Lelah Hilang dengan Ucapan Terima Kasih

Jaeni merupakan salah satu relawan KSR PMI Unit Universitas Diponegoro (Undip). Sejak SMP ia sudah mengikuti berbagai kegiatan kepalangmerahan.

Ia salah satu komandan KSR PMI UNIT Universitas Diponegoro namun sudah purna. Dan bergabung di forum komunikasi KSR se Kota Semarang di Divisi Kebencanaan.

Ia sudah kerap diterjunkan di berbagai daerah ketika terjadi bencana. Pengalaman berkesan ketika terjun langsung dan berhasil mengevakuasi korban banjir di Kota Semarang tahun 2021. Ia harus menerjang banjir demi menyelamatkan warga yang terjebak banjir.

Apalagi saat itu rumah warga tergenang, dan saluran air macet sehingga kebutuhan air bersih diperlukan.

“Nah dalam kondisi seperti itu yang utama bagaimana kita harus mengevakuasi warga. Menyelamatkan dan menjauhkan dari titik bencana,” akunya.

Tetapi semua harus dilakukan secara terukur dan terstruktur. Harus ada koordinasi baru kemudian melakukan asesmen. Asesmen sangat penting dan menjadi langkah awal untuk terjun langsung ke lokasi bencana.

Karena hasil asesmen bisa mengetahui kondisi masyarakat yang terdampak dan apa yang mereka butuhkan.  “Jadi langkah yang diambil selanjutnya bisa dilakukan secara efektif dan cepat,” ujarnya.

Tidak hanya itu, ia juga pernah menjadi delegasi relawan PMI saat di bencana Gunung Semeru tahun 2022.

Tidak mudah untuk awalnya, karena harus berkoordinasi dengan PMI setempat atau organisasi kerelawanan yang sudah terlebih dahulu membuat tanggap darurat bencana.

"Awalnya agak susah karena kita tentu saja harus assesmen dulu baik dari warga yang terdampak maupun dari pihak relawan yang sudah ada, " katanya.

Hal tersebut yang membuat paling berkesan karena dibenturkan segala ilmu, kondisi lapangan, dan benturan-benturan yang lainnya. Sehingga dipaksakan dan harus bisa beradaptasi dengan sekitar.

"Karena kita harus menyesuaikan apa yang telah ada dengan apa yang akan kita bantu. Misal kita akan membantu membuatkan shelter, maka kita harus tahu tempat yang cocok dan bagus untuk membangunnya, " jelasnya.

Jaeni mengaku semua rasa lelah, letih dan kerja keras itu terbayarkan ketika berhasil mengevakuasi korban.

Melihat orang yang ditolong bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih. “Dua kata yang sakral bisa meluruhkan capek ketika di lapangan,” akunya.

Pemuda kelahiran Blora ini bersyukur bisa terjun di dunia kerelawanan terutama di PMI. Banyak yang bisa diambil dari pengalaman-pengalaman selama di lokasi kebencanaan.

Canda, tawa, tangis, sedih, dan capek sudah ia lalui semua. Berbagai ilmu yang didapatkan juga bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya. Terutama bisa mandiri terkait penanganan dini.  

"Di PMI banyak ilmu yang saya dapat. Bisa kenal masyarakat, mandiri terutama preventif dan penanganan dini terkait kesehatan dan kebencanaan, " ucapnya.

Ia berharap PMI kedepannya bisa selalu ada membersamai kesejahteraan nasional atau internasional.

Selalu siap sedia membentuk relawan yang tangguh untuk PMI yang peduli dan selalu membantu.  

"Karena sesuai dengan semboyan Palang Merah yakni Siamo Tutti Fratelli. Yang artinya Kita Semua Bersaudara," pungkasnya. (fgr/nun/fth)

Editor : Baskoro Septiadi
#PMI #Palang Merah Indonesia #tsunami #Relawan