Peristiwa Bumi Hangus Boja terjadi pada akhir Juli 1947. Saat itu, Belanda tengah melancarkan agresi militer pertama. Lalu menyerang wilayah Boja dari dua arah.
Karenanya, warga pribumi berusaha mempertahankan wilayah dengan membakar bangunan-bangunan penting dan strategis.
Bahkan, bangunan di kiri-kanan sepanjang Jalan Pemuda, Boja hangus terbakar. Itu supaya, daerah Boja tidak dikuasai Belanda.
"Boja jadi target Belanda karena banyak potensi dan kekayaan alamnya. Apalagi komoditi karet, cengkeh, dan kopinya," ungkap Age Karisma, pegiat sejarah asal Boja.
Tak hanya itu, perlawanan rakyat Boja terhadap Belanda terus berlanjut. Sejumlah warga pribumi ikut andil dalam memutus komunikasi Belanda ke markas pusat di Semarang.
"Nenek saya juga ikut motong kabel komunikasi Belanda. Kalau saat ini veteran Boja yang masih hidup itu Bapak Soewandi. Beliau melakukan aksi gerilya bersama pejuang lainnya," jelas Age.
Age mengatakan, Soewandi merupakan tokoh pejuang asal Boja yang masih hidup. Saat itu, Soewandi menjadi anggota Divisi 24 Markas Medan Barat (MMB) sektor Boja.
Ketika peristiwa agresi militer pertama, Soewandi bersama warga pribumi lainnya melakukan taktik gerilya saat melawan Belanda. Usai membumihanguskan Boja, semua pertahanan termasuk dapur umum mundur ke MMB.
Kemudian pada 1978, dibangun monumen perjuangan rakyat di Kecamatan Boja. Saat ini terletak di depan Terminal Boja, Jalan Pemuda-Getan Lor, Kecamatan Boja. Itu berupa patung berbentuk gerilyawan.
Yakni dengan dada telanjang, ikat kepala, tangan kanan membawa bendera, berkalung sarung, dan tangan kiri menenteng senjata stand gun.
"Sayangnya, monumen perjuangan rakyat Boja itu tidak terawat. Reliefnya ada yang hancur. Padahal di situ ada cerita sejarahnya," katanya.
Dalam mengulik kisah Bumi Hangus Boja, wartawan Jawa Pos Radar Semarang sempat berkunjung di kediaman Soewandi, veteran pejuang kemerdekaan asal Boja, Kabupaten Kendal.
Rumahnya berada di Kampung Gentan Kidul, RT 2 RW 4, Desa Boja. Saat disambangi, Soewandi yang kini berusia 96 tahun tengah beristirahat.
Puji Lestari, 50, anak pertama veteran itu mengatakan, kondisi Soewandi sudah tidak sekuat semasa perang kemerdekaan silam. Saat ini harus banyak istirahat.
Bahkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari saja harus dibantu orang lain. Selain itu, daya ingat dan pendengaran veteran itu sudah berkurang.
"Kalau jalan ya bapak harus dituntun. Tapi kehidupannya layaknya orang-orang biasa. Bapak juga gak aneh-aneh, cuma kalau ngobrol memang sudah sulit karena pendengarannya berkurang," terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.
Puji membeberkan, saat ini ayahnya memiliki 3 anak, 8 cucu, dan 2 cicit. Sebelum ikut berjuang melawan Belanda, ayahnya pernah menjadi guru PNS pada tahun 1940-an. Kemudian pada tahun 1947, Soewandi tergabung di Laskar Rakyat.
Sementara Kumoro Wahyu Utomo, 48, anak ketiga Soewandi menambahkan, pada 1969 dia bersama ayahnya menempati rumah di Kampung Gentan Kidul ini.
Namun saat ini, sudah tidak ada pernak-pernik atau peninggalan barang pasca perang. Hanya saja masih tersisa seragam veteran milik Soewandi.
"Yang ditempati sekarang bukan rumah kecilnya bapak. Kalau pernak-pernik perang udah gak ada. Bapak kan dulu guru. Sekarang kesibukan bapak ya menghabiskan masa tua bersama anak dan cucu di sini," tambahnya.
Kisah perjuangan rakyat Boja melawan Belanda masih diceritakan dari mulut ke mulut. Namun, tak banyak warga Boja yang paham mengenai kisah ini.
Sebab itu, perlu pelestarian sejarah agar perjuangan rakyat Boja tetap dikenang dan terjaga. "Semoga ceritanya terus ada. Tidak hilang begitu saja," harap Kumoro. (dev/ton)
Editor : Baskoro Septiadi