Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Jadi Desa Wisata Karaoke, Eks Lokalisasi GBL Selalu Ramai saat Tanggal Muda

Devi Khofifatur Rizqi • Selasa, 25 April 2023 | 17:05 WIB
Suasana eks lokalisasi GBL menjelang Lebaran tampak sepi. Beberapa Wanita pemandu karaoke yang duduk di depan tempat karaoke. (DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Suasana eks lokalisasi GBL menjelang Lebaran tampak sepi. Beberapa Wanita pemandu karaoke yang duduk di depan tempat karaoke. (DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Kendal - Eks lokalisasi Gambilangu (GBL) yang berada di Desa Sumberejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, kini berubah menjadi Desa Wisata Karaoke.

Tak heran, jika wisata baru ini selalu ramai ketika tanggal muda. Bahkan ada masyarakat yang menyebut sebagai wisata di desa penyanyi.

Saat wartawan Jawa Pos Radar Semarang berkunjung Rabu (19/4) malam, terlihat wanita pemandu karaoke (PK) di depan rumah karaoke menunggu pelanggan.

Mereka mengenakan pakaian seksi dan berdandan cantik. Bibirnya merona, rambutnya digerai, semerbak bau parfum mengisi jalanan sepi di eks lokalisasi ini.

Suara bincang-bincang ringan dari wanita PK itu juga terdengar saat wartawan koran ini melintasi satu per satu rumah karaoke.

Tatapan mereka ramah. Bahkan ada yang nyeletuk saat wartawan ini berjalan ke arah kuburan.

"Kono kuburan lho (di sana lokasi kuburan lho, red)," kata salah satu wanita memperhatikan wartawan koran ini.

Menjelang Lebaran lalu, aktivitas di eks lokalisasi GBL tampak sepi. Dari 33 rumah karaoke, banyak di antaranya yang tutup.

Nyanyian lagu dangdut juga tak terlalu ramai. Hanya satu dua rumah karaoke yang memperdengarkan nyanyian sumbang. Dan di depannya terparkir beberapa sepeda motor.

Saat wartawan Jawa Pos Radar Semarang tiba di persimpangan jalan, sejumlah wanita muda menatap lesu. Ada beberapa yang masuk ke rumah karaoke.

Ada juga yang tetap bertahan di kursi depan menunggu pelanggan sambil menghisap rokok yang terapit di jarinya.

Selain itu, anak-anak kampung sini (akamsi) tampak leluasa bermain di sekitar rumah karaoke. Mereka bernyanyi, berkeliling, nongkrong di angkringan. Dan terkadang meledek PK yang banci.

Menurut Ketua Pokdarwis Mlatensari Kaliwungu Budiyono, suasana sepi di eks lokalisasi ini selalu terjadi ketika menjelang Lebaran.

Lantaran, sejumlah PK balik ke kampung halaman. Tentunya untuk bertemu sanak keluarga.

Pria berjenggot putih ini menjelaskan, kehidupan wanita PK di perbatasan Kendal-Semarang tidak seramai saat masih menjadi tempat lokalisasi.

Namun, masih ada puluhan PK yang memilih bertahan di Desa Wisata Karaoke ini. Rata-rata sejumlah PK yang bekerja, melakukan kontrak per bulan.

Di antaranya ada yang tinggal di rumah karaoke. Serta ada yang memilih kos di luar wilayah Kaliwungu.

Tak heran, jika setiap bulan ada saja PK yang keluar masuk. Adapun tiap room karaoke terdapat dua hingga tiga wanita PK.

"Mereka ngontrak per bulan. Misal bulan depan gak sanggup ngontrak, ya cabut atau kosong rumah karaokenya," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat hari biasa, suasana eks lokalisasi GBL cukup ramai. Sejumlah PK juga sudah buka sejak pukul 10.00 pagi.

Namun, saat Ramadan, jam operasional dimulai setelah salat tarawih hingga jam 01.00 WIB.

Nantinya, eks lokalisasi ini akan kembali buka dan ramai lagi saat seminggu setelah Lebaran.

Selain itu, ketika tanggal muda wanita PK sibuk menemani pelanggan. Rata-rata usia wanita PK di eks lokalisasi ini mulai dari 25 tahunan.

"Dulu pernah ada PK yang di bawah umur. Saat itu pun sudah dikonfirmasi gak ada, tapi ternyata main sembunyi-sembunyi. Itu menjadi PR juga buat kami untuk memantau. Tapi kesulitannya kami masih ada keterbatasan tenaga. Jadi nantinya akan dirembug lagi," jelas Budiyono.

Budiyono menerangkan, kondisi eks lokalisasi saat ini lebih terkontrol. Dia juga selalu patroli menyambangi masing-masing rumah karaoke.

Ada juga kesepakatan bersama antara wanita PK, pemilik karaoke, dan Pokdarwis. Hal itu untuk kenyamanan dan keamanan wilayah Mlaten, Desa Sumberejo.

Saat ini, warga asli di RW 1 Dusun Mlaten, Kaliwungu, hanya lima persen.

Sejumlah warga merasa sudah terbiasa dengan kondisi wisata malam ini. Bahkan, anak-anak tidak takut untuk keluar malam dan berkunjung ke rumah karaoke.

"Kalau bulan Ramadan ini malah anak-anak sering bangunin sahur ke rumah-rumah karaoke. Pas mau Lebaran gini ya datang biar dapat THR," ujarnya sambil terkekeh.

Melihat aktivitas wanita PK dan sejumlah pengunjung, terdengar desas-desus praktik prostitusi di desa wisata ini.

Menanggapi hal itu, Budiyono menyangkal. Dia bersama Pokdarwis mengaku tidak akan bertanggung jawab jika terjadi bisnis prostitusi maupun bisnis miras.

Menurutnya, aktivitas itu sudah termasuk ranah pribadi. Dia tidak akan ikut campur dan akan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang.

"Saya tidak berani mengiyakan. Karena bisnis prostitusi dan miras itu sudah masuk hal pribadi. Bukan tanggungjawab saya. Kalau miras biasanya pelanggan membawa sendiri. Di sini ada, tapi kadar alkohol rendah. Tapi kalau memang ada, bakal ada sanksinya," jelasnya sembari menghisap rokok.

 

Photo
Photo
Kondisi salah satu gang di eks Lokalisasi GBL di saat malam di bulan Ramadan. (DEVI KHOFIFATUR RIZQI/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Bentuk Pokdarwis untuk Pulihkan Ekonomi

Sejak lokalisasi GBL ditutup oleh mantan Bupati Kendal Mirna Anissa pada 2019, kehidupan di eks lokalisasi kembang kempis.

Perekonomiannya turun drastis. Tak hanya berdampak kepada wanita PK atau pemilik karaoke, melainkan berimbas terhadap pedagang kaki lima dan warung-warung rumahan.

Sejumlah wanita PK menjual apapun yang dimiliki untuk bertahan hidup. Bahkan, mau melakukan apapun agar mendapatkan uang.

Para PK awalnya menjerit karena tak bisa memenuhi kebutuhan perut. Ditambah, terjangan covid-19 membuat ekonomi semakin terbengkalai.

"Setelah ditutup kondisinya parah. Lalu dibentuk Pokdarwis. Biar apa? Biar bisa mengontrol dan memulihkan perekonomian," beber Ketua Pokdarwis Mlatensari Kaliwungu Budiyono.

Saat itu, Pokdarwis Mlatensari baru dibentuk setelah satu tahun lokalisasi ditutup. Waktu itu diketuai oleh Kasmadi. Namun, saat ini Pokdarwis dinahkodai Budiyono.

"Lalu Pak Kasmadi meninggal dan Pokdarwis vakum. Tapi aktivitas karaoke tetap berjalan," kata Budiyono.

Kendati begitu, Pemerintah Desa Sumberejo mendukung desa wisata malam ini.

Lantaran, setiap bulan terdapat kegiatan sosialisasi kesehatan dari Dinas Kesehatan Kendal. Bahkan, Pokdarwis juga bekerja sama dengan Dinas Pariwisata, kepolisian, dan BNN.

Itu karena, ke depannya akan mewujudkan Desa Bersinar di eks lokalisasi ini.

Selain itu, Pokdarwis Mlatensari bakal melibatkan PK dalam mengikuti kegiatakan keagamaan maupun kegiatan pelatihan keterampilan.

"Yang penting kita ada koordinasi dengan berbagai pihak. Sehingga jika ada masalah bisa langsung tertangani. Kita juga bersinergi menciptakan wilayah yang aman di desa wisata ini," tandas Budiyono. (dev/ton)

Editor : Agus AP
#top #Desa Wisata Karaoke #LOKALISASI #GBL #eks lokalisasi gambilangu #Desa Sumberejo #Kabupaten Kendal #Desa Wisata #Kecamatan Kaliwungu #Lokalisasi Gambilangu