Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kawula Muda Semarang Mulai Tertarik Wayang Orang, Bersyukur Pemkot Gratiskan Oudetrap

Agus AP • Minggu, 26 Februari 2023 | 18:24 WIB
Pagelaran Wayang Orang On The Street di jalanan Kota Lama menarik perhatian kawula muda dan masyarakat Kota Semarang untuk kembali mencintai wayang orang. (FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Pagelaran Wayang Orang On The Street di jalanan Kota Lama menarik perhatian kawula muda dan masyarakat Kota Semarang untuk kembali mencintai wayang orang. (FIGUR RONGGO WASSALIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Wayang On The Street Ngesti Pandowo yang kini digelar rutin di Kota Semarang benar-benar telah menggairahkan dunia seni Kota Semarang. Apalagi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang juga memfasilitasinya.

Meski wayang orang sudah lama dikenal, namun Wayang Orang On The Street mulai familiar sejak dua tahun ini. Wayang Orang On The Street berawal dari Festival Kota Lama yang digagas oleh Agus Suyono, Trenggono, dan Bugris Merdi yang merupakan pecinta wayang. Mereka punya trobosan agar festival tersebut menarik dengan menyisipi setiap bulannya melalui pementasan wayang orang.

"Bugris membuat wayang on the street yang seolah-olah pentas di jalan. Menggarap adik-adik kita dan dari Ngesti Pandowo. Ternyata cukup menarik dan berkembang sampai sekarang," katan Ketua Komunitas Seni Tradisional Kota Semarang (Tirang Community) Bambang Budianto.

Bahkan banyak pemain dan penari silih berganti dari kalangan generasi muda. Beberapa sanggar ikut bergabung, mulai Ngesti Pandowo maupun Tirang Community. “Tentunya kami didampingi para senior," kata Bambang Budianto yang kerap disapa Budi Lee ini.

Regenerasi wayang orang memang agak lambat, tetapi tetap masih ada. Proses regenerasi inilah yang menjadi tantangan bersama sebagai seniman wayang. Butuh proses panjang untuk para generasi muda agar ikut tertarik pada wayang orang. Apalagi tidak semua pelaku seni paham tentang wayang. Banyak yang harus dipelajari, seperti tembang, antacana, drama, alur cerita, sambangrapat, dan lain-lain. Kendati demikian banyak generasi yang sudah tertarik seperti dari mahasiswa Unnes, penari di sanggar-sanggar seni dan lainnya. "Kalau mau belajar, akan ada sesuatu yang menarik," katanya.

Ia bersyukur Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sudah banyak memfasilitasi seniman. Tentunya Pemkot Semarang tidak pilih kasih, ketika para seniman entah itu tari, teater, dan lainnya, ingin berinovasi dan berkreasi untuk mengangkat nama kota.

"Tentunya fasilitas tidak kurang, seperti TBRS dan Oudetrap yang gratis. Tentunya fasilitas setiap bulannya untuk ajang berkreasi banyak. Tinggal pelaku seninya untuk berkreasi agar menampilkan pertunjukan yang menarik," katanya.

Tirang Community sendiri berdiri sejak tahun 2005. Banyak perkembangan yang dialami, salah satunya menggarap Wayang Orang On The Street. Bahkan setiap ada kegiatan yang melibatkan Tirang Community Semarang dan Ngesti Pandowo, beberapa kali dirinya didapuk menjadi sutradara. Pementasan Wayang Orang On The Street merupakan pementasan wayang yang dikemas simpel untuk mengenalkan wayang kepada generasi muda.

Generasi muda selama ini memandang wayang itu tradisi yang sangat klasik, tidak terpikirkan menyaksikan wayang itu seperti apa. Pihaknya pun melihat itu sebagai tantangan, supaya generasi muda bisa menyaksikan, sekaligus mengedukasi. "Tentunya dengan inovasi dan bumbu di dalam pertunjukan wayang agar bisa dinikmati," katanya.

Pertunjukan Wayang Orang On The Street tidak pernah lepas dari cerita yang sudah ada. Seperti alur cerita Mahabarata. Hanya saja, bagaimana alur itu tidak hilang, tetapi dikemas dengan menarik. Tentunya dibumbui oleh kreativitas, yang biasanya wayang memakan durasi sekitar 2-3 jam, dipadatkan hanya 1 jam dengan tidak menghilangkan alur cerita.

"Butuh inovasi dan kreativitas untuk memahamkan dan mengedukasi para penonton dengan durasi yang tidak panjang. Kita melihat audiennya siapa? Jika audiennya pelaku seni, kami pakemkan wayang klasik. Ini penonton umum, butuh pemahaman baru sehingga menarik dan tidak lama pertunjukannya," tuturnya.

Wayang On The Street yang kini digelar rutin di Kota Semarang benar-benar telah menggairahkan dunia seni Kota Semarang. Apalagi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang juga memfasilitasinya.

Agung, kepala Pengelola TBRS yang juga anggota Ngesti Pandowo menambahkan, Wayang On The Street ini memiliki ciri khas tersendiri. Menekankan penggunaan bahasa sastra yang kuat. Terutama tokoh senior dalam nguri-nguri dan melestarikan budaya. "Meskipun rata-rata cerita sama, tapi sastranya paling kuat. Ini menjadi parameter seni wayang di Indonesia," tutur Agung.

Di sisi pementasan, Ngesti Pandowo masih tradisional dan klasik. Termasuk dalam penggunaan geber wayang. Namun, ke depan bakal menyusul menggunakan geber multimedia.

Salah satu Sutradara Ngesti Pandowo, Bagas menambahkan, dalam setiap pementasan penataan cerita masih mengadopsi cerita yang sering dibawakan dari sumber-sumber tertulis, kemudian diolah lagi. Pengolahan tersebut dari berbagai sudut pandang atau penajaman perspektif, mengatur waktu, menentukan pemain yang dilakukan melalui casting untuk menyesuaikan tokoh yang dibutuhkan.

Ia menyebut, konsep saat ini lebih singkat, namun tanpa meninggalkan detail cerita. "Kita mencoba mencari cerita yang menarik bagi kawula muda sekarang. Lakon yang tidak terlalu populer, kami coba kontekstualkan dengan kondisi sekarang. Seperti cerita Suryo Putro Maling akan ditonjolkan sense hubungan asmara Suryo Putro dan Surtikanti dan pertemuan keduanya," jelasnya.



Fasilitas Belum Lengkap, Seniman Harus Bersabar

Pembangunan gedung pertunjukan Ki Narto Sabdo, di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), telah rampung. Namun gedung ini belum bisa digunakan, lantaran fasilitas dan sarana prasarana belum lengkap. Para seniman pun masih harus bersabar.

Sejatinya gedung megah Ki Narto Sabdo ini dikonsep untuk pertunjukan seni budaya, musik, dan lainnya. Fasilitasnya pun didesain berstandar internasional. Namun perlengkapan seperti sound system, layar, lighting yang ada saat ini masih berstandar pertunjukan lokal.

"Fisiknya memang sudah jadi, tapi informasinya belum sesuai harapan. Karena masih ada kekurangan untuk sarana pertunjukan," kata Ketua Dewan Kesenian Kota Semarang (Dekase) Adhitia Armitrianto, Sabtu (25/2).

Adhit –sapaannya- menjelaskan, belum lama ini pihaknya sudah bertemu dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Wing Wiyarso. Menurut Adhit, dari pertemuan tersebut diketahui fisik gedung belum diserahkan.

"Disbudpar belum bersedia menerima, karena masih ada yang kurang. Misal masalah lighting dan background yang harusnya LED, masih menggunakan yang lama," tuturnya

Pembangunan gedung dan pengadaan fasilitas, diketahui dilakukan oleh Dinas Penataan Ruang (Distaru). Penganggaran gedung dan fasilitasnya dilakukan secara multi years. Bahkan, menghabiskan dana APBD belasan miliar.

Saat proses pembangunan, kata dia, Dekase memang diajak berembuk. Pihaknya pun mengapresiasi gedung yang dibangun sudah rampung dan terbilang sangat megah. "Secara pribadi, saya mendukung agar pelengkapan untuk para penampil lebih dilengkapi lagi. Di Semarang, memang ada Gedung Radjawali, dengan fasilitas internasional. Tapi itu milik swasta," tambahnya dia.

Untuk Gedung Ki Narto Sabdo memang konsepnya untuk konser besar dan teater. Wayang orang Ngesti Pandawa pun bisa memakai gedung tersebut. "Kalau Ngesti Pandawa, idealnya harus ada gedung khusus. Mereka punya ciri khas geber dan kostum yang cukup banyak. Bisa difokuskan di wilayah TBRS," katanya.

Menanggapi hal itu, Kepala Disbudpar Kota Semarang Wing Wiyarso menjelaskan, gedung Ki Narto Sabdo belum siap sepenuhnya untuk dioperasionalkan. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dari segi sarpras. "Fisiknya memang sudah jadi, tapi belum diserahkan. Bu Ita (wali kota, red) minta Distaru mengisi kekurangannya dulu," ujarnya belum lama ini.

Mantan Kabag Humas Pemkot Semarang ini menuturkan, kekurangan sarpras di antaranya lighting, brijing, ruang rias, pintu pendingin ruangan, sound system, dan lainnya. Jika dipaksakan dengan menyewa alat untuk menambal kekurangan, tidak maksimal dan akan membebani anggaran. Apalagi gedung ini di-setting sebagai tempat pertunjukan skala internasional.

"Dari pada tidak maksimal, lebih baik dilengkapi dulu kekurangan sarprasnya. Memang ada sound, tapi untuk gedung pertemuan. Bukan untuk pertunjukan. Tentu harus proper dari segi berkualitas dan spesifikasi baik," tuturnya.

Meski masih banyak perbaikan dari segi sarpras, Wing yakin tahun ini Ki Narto Sabdo bisa digunakan. Apalagi informasinya kekurangan yang ada akan dianggarkan tahun ini. "Memang tahun lalu belum klir karena anggaran terbatas. Tapi tahun ini dianggarkan lagi. Targetnya pas HUT Kota Semarang bisa digunakan," pungkasnya.



Regenerasi Seniman Butuh Support Seluruh Seniman

Ngesti Pandowo, satu satunya paguyuban wayang orang di Kota Semarang yang masih bertahan hingga kini. Meski banyak perkumpulan serupa yang berguguran oleh zaman.

Eksisnya Ngesti Pandowo bergantung pada kiprah dan support para seniman tari, dan karawitan di Kota Semarang. Pasalnya, regenerasi Ngesti Pandowo dari anak-anaknya para pecinta wayang orang sendiri tidak bisa ngremboko atau berlangsung terus. Jangan sampai seperti Sri Wanito yang kini sudah tidak eksis lagi.

Kehadiran wayang orang saat ini berbeda jauh dengan zaman dulu. Pada masa jayanya tahun 1980-an, seniman bisa mencukupi hidup dengan menjadi seniman wayang. Dulu ada pagelaran setiap hari, layaknya kerja. Namun sekarang pagelaran Wayang On The Street Ngesti Pandowo hanya setiap Sabtu malam.

Karena masalah pendapatan yang di bawah standar itulah, regenerasi kurang tertata. Tidak ada gaji bulanan untuk mereka. Dari pihak pengurus tidak bisa menjalin kelangsungan anak buahnya.

"Mungkin karena kebutuhan hidup. Jika hanya mengandalkan hidup dari wayang, tidak bisa cukup. Akhirnya mencari penghidupan lain," ujar Agung, kepala Pengelola Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) yang juga anggota Ngesti Pandowo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia membandingkan dengan Sri Wedari Solo. Pengurus sudah diserahkan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta. Untuk anak wayangnya sendiri, diangkat jadi pegawai, ada yang jadi ASN, dan honorer. Berbeda dengan Ngesti Pandowo yang tidak punya krentek sendiri. Meski masih bergeliat, namun support sangat kurang.

"Sekarang ini kalau mengandalkan hanya dari anak wayangnya sendiri tidak berjalan, hanya beberapa gelintir. Makanya kami dibantu seniman lain dari Unnes, Undip, dan sanggar yang mendukung," tambahnya.

Bersyukur sekarang banyak anak muda atau kalangan milineal yang senang dengan wayang, sedikit demi sedikit bergabung. Beruntung juga, Pemkot Semarang dan Dinas Pariwisata membuat terobosan untuk membantu kelangsungan pertunjukan wayang orang.

Salah satunya tempat yang digunakan untuk pagelaran wayang difasilitasi di TBRS. Setiap pagelaran atau penggunaan tempat tidak dipungut sewa, listrik, dan air. Namun, kepedulian masyarakat dengan wayang Jawa belum maksimal saat ini. (fgr/ifa/den/ida) Editor : Agus AP
#top #Ngesti Pandowo #wayang #Wayang On The Street Ngesti Pandowo #wayang orang