Gedung Ki Narto Sabdo yang baru terlihat megah. Gedung ini masih dipagari seng. Gedung yang dibangun kontraktor Astha Saka ini masih tahap finishing. Bangunan ini memiliki ukiran wayang dari tembaga di sekeliling temboknya. Di lantai bawah terlihat genangan air bekas hujan.
Memasuki area panggung, tampak ratusan kursi busa sudah terpasang dan masih terbungkus plastik. Di dalam gedung terlihat remang-remang. Terdengar juga suara alat-alat tukang sedang memperbaiki atap dan lampu penerangan.
"Bangunan ini dalam tahap finishing, Mas. Sudah dipasang karpet juga sebagai alasnya. Tapi, masih perbaikan karena banyak yang bocor," kata salah satu tukang, Feri.
Feri menambahkan, rencananya bangunan ini menjadi panggung teater yang dikonsep seperti bioskop.
Menurut papan pengumuman proyek yang dipasang di lokasi, Gedung Ki Narto Sabdo dibangun mulai 11 Juli 2022 dengan anggaran Rp 17,6 miliar. Sebagai Konsultan Perencana PT Vasa Sarwahita, Konsultan Pengawas CV Rekayasa Jati Mandiri dan Kontraktor Pelaksana PT Astha Saka. Pembangunannya memakan waktu 170 hari kalender.
Kepala Dinas Penataan Ruang (Distaru) M Irwansyah menjelaskan pembangunan gedung telah selesai dilakukan dan siap digunakan. Menurutnya, gedung Ki Narto Sabdo telah diserahkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).
"Sudah kami serahkan, sambil diisi untuk melengkapi sarpras (sarana dan prasarana) sebenarnya bisa digunakan sementara, karena secara fisik bangunan sudah siap," katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.
Irwansyah menjelaskan, sarpras memang perlu dilakukan penambahan. Misalnya, sisi interior, atribut, hingga sound system, beserta lighting. Namun, menurut dia, sound system standar ataupun alternatif sudah ada. "Kalau pentas yang skala kecil siap, karena sound system sudah ada. Sambil diisi Disbudpar bisa menyiapkan apa yang bisa ditampilkan di sana," ujarnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Disbudpar Kota Semarang Wing Wiyarso menampik jika Distaru telah melakukan serah terima gedung meskipun fisik sudah jadi. Menurut dia, gedung belum siap sepenuhnya untuk dioperasionalkan, lantaran masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dari segi sarpras.
"Fisiknya memang sudah jadi, tapi belum diserahkan. Bu Ita (wali kota Semarang, Red) minta Distaru untuk mengisi kekurangannya dulu," katanya saat dihubungi Minggu (5/2).
Mantan Kabag Humas Pemkot Semarang ini menuturkan, kekurangan sarpras memang harus dipenuhi. Misalnya, lighting, rigging, ruang rias, pintu pendingin ruangan, sound system dan lainnya. Menurutnya, jika dipaksakan dengan menyewa alat untuk menambal kekurangan, juga tidak maksimal dan akan membebani anggaran. Apalagi gedung ini disetting sebagai tempat pertunjukan dengan skala internasional.
"Dari pada nggak maksimal, harus dilengkapi dulu kekurangan sarprasnya. Memang ada sound, tapi untuk gedung pertemuan bukan untuk pertunjukan, tentu harus propper dari segi kualitas dan spesifikasi," tuturnya.
Meski masih banyak perbaikan dari segi sarpras, Wing yakin tahun ini Gedung Ki Narto Sabdo bisa digunakan. Apalagi informasinya kekurangan yang ada akan dianggarkan pada tahun ini. "Memang tahun lalu belum klir karena anggaran terbatas, tapi tahun ini dianggarkan lagi. Targetnya buat HUT Kota Semarang bisa digunakan," katanya.
Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang Abdul Majid mengaku, Komisi D akan mengundang Disbudpar dan mendesak segera menggunakan Ki Narto Sabdo untuk kegiatan seni ataupun pertunjukan.
"Kita desak Disbudpar segera menggunakannya dan melakukan kegiatan di sana. Nanti kita undang dinas terkait, apa kendalanya," katanya.
Pihaknya menyayangkan jika gedung semegah Ki Narto Sabdo yang menghabiskan anggaran puluhan miliar rupiah terkesan muspro dan tidak digunakan untuk kegiatan ataupun event.
"Eman-eman, jika masih ada kekurangan, misalnya sarpras bisa dilengkapi. Mumpung masih awal tahun, yang jelas jangan dibiarkan mangkrak," tandasnya.
Usulan Biaya Sewa Rp 15 Juta Dinilai Mahal
Pembangunan gedung Ki Narto Sabdo telah rampung dan tinggal pemakaian. Namun, ada usulan biaya sewa gedung tersebut mencapai Rp 15 juta.
Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Adhitia Armitrianto mengaku telah diundang oleh pihak UPTD Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) pasca pembangunan Gedung Ki Narto Sabdo pada Januari 2023 lalu. Dalam pertemuan tersebut, pihak UPTD menyampaikan kalau pembangunan gedung telah selesai hingga membahas biaya sewa pemakaian.
"Kabarnya, biaya sewa yang diusulkan kurang lebih Rp 15 juta. Ada genset, listrik. Itu nantinya menjadi ancer-encer biaya sewa yang akan diatur dalam Perda," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (5/2).
Adhitia menjelaskan, bangunan tersebut memiliki kapasitas 500 orang. Gedung ini bisa menjadi tempat pertunjukan teater, wayang orang, ketoprak, musik, dan lainnya. Diakui, biaya sewa Rp 15 juta tersebut dinilai memberatkan. Apalagi jika pentas tidak didukung sponsorship.
"Kalau untuk pertunjukan musik yang populer dan mendapatkan sponsor, itu mungkin standar. Tapi, kalau untuk pertunjukan yang tidak mendapat sponsorship, misalnya wayang orang atau ketoprak ya mahal," tegasnya.
Ia menjelaskan, manfaat pembangunan gedung tersebut lebih mengutamakan untuk pengembangan kesenian. Menurut Adhitia, hal ini pun sebelumnya pernah dibahas dengan salah satu anggota DPRD Jateng yang pernah berkunjung ke TBRS.
"Dulu pernah ada anggota DPRD Jateng bersuara, lebih baik TBRS itu digratiskan. TBRS ini memang bukan untuk mencari PAD, tapi untuk menanamkan nilai-nilai budaya pada masyarakat. Fungsinya lebih untuk pengembangan budaya dan nguri-uri budaya," katanya.
Pihaknya juga menjelaskan, pembangunan gedung telah selesai. Namun belum bisa dipergunakan oleh masyarakat umum. Menurutnya, penggunaan resminya masih menunggu aturan yang dimungkinkan dikemas dalam Peraturan Daerah (Perda).
"Pemakaian menunggu Perda. Katanya tahun-tahun ini. Itu kan ada masa ada pemeliharaan berapa bulan. Kalau bayanganku mungkin bisa dipakai untuk umum ya akhir tahun 2023, bisa saja tahun depan. Tapi kita mendorong juga secepatnya untuk bisa dipakai," katanya.
"Perda itu nanti kan juga melibatkan dewan (DPRD), jadi kami berharap adanya dukungan dari dewan untuk hal itu. Ada pertimbangan lagi terkait untuk biaya sewa, utamanya pertunjukkan seni yang tidak ada sponsorship," tambahnya.
Menyikapi adanya pembangunan tersebut, menurut Adhitia, para pelaku seni sangat mengapresiasi dan mendukung. Alasannya, bangunan tersebut sangat representatif dan sudah dinantikan oleh para pelaku seni.
"Teman-teman sudah beberapa kali melihat bagian dalam bangunan itu, terbilang bagus dan standar oke. Tapi kami berpikir, ada akses gratis, dipermudah untuk seniman Semarang. Kalau pertunjukan yang tidak ada sponsorship, penonton sedikit, ya setidaknya ada subsidi dari pemerintah," harapnya.
Menyikapi terkait tempat-tempat kesenian di Kota Semarang, Adhitia mengatakan, Pemkot Semarang sekarang ini sedang melakukan pengembangan tempat-tempat kesenian. Seperti halnya sekarang ini di kawasan Pasar Bulu, termasuk Kota Lama.
"Sekarang tinggal pemanfaatan, melibatkan seniman Semarang yang menurut saya didorong terus. Termasuk memberikan akses untuk pelaku kreatif seni Semarang, biar bisa memanfaatkan tempat itu. Misalnya, Oudetrap Kota Lama. Ada beberapa teman yang kesulitan mengakses gedung itu," katanya. (fgr/den/mha/aro) Editor : Agus AP