Denok Yustiani lebih gemar mengisi TTS. Bahkan bagi wanita 47 tahun ini mengisi TTS dapat melatih untuk berpikir kritis.
Sejak duduk di bangku SMP, Denok -sapaan akrabnya- suka mengisi TTS di suatu majalah. Hingga akhirnya ia sering mendapatkan koran dari tempat kerja sang Ibu.
"Awalnya iseng tapi kok lama-lama malah jadi hobi. Dulu SMA suka dapat koran dari sang Ibu yang kerja di Perhutani. Nah saya suka mengisi TTS juga di situ," kata Denok.
Penggemar TTS sejak 1980-an ini mengaku hampir tiap bulan berhasil menang. Ia pun sering mendapat hadiah berupa uang tunai. "Pas ngisi TTS di Koran Perhutani yang tayangnya per minggu, itu pasti menang," imbuhnya.
Hingga kini Denok sudah berhasil memenangkan puluhan TTS. Ia juga pernah menang mengisi TTS di Koran Jawa Pos. "Kalau di Jawa Pos sudah lebih dari lima kali menangnya," akunya.
Karena sering menang, Denok lebih memilih meminjam nama temannya. Tujuannya tak lain agar kemungkinan menang lebih besar lagi. "Karena menang terus, ya saya pakai nama teman, biar kemungkinan menangnya lebih besar. Pernah itu teman yang tak suruh maju mengambil hadiah, saya ngumpet," jawabnya sambil terkekeh.
Menurutnya, ada kesenangan tersendiri dalam pengisian tiap-tiap kotaknya. Hal ini dapat melatih untuk berpikir kritis. Sehingga banyak pengetahuan yang bisa diketahui. "Saya memang senang menulis membaca. Nah ngisi TTS ini kan just for fun yaa, tapi lebih senang karena dapat hadiah. Nggak enaknya ya kalau soalnya susah," tambahnya.
Lebih lanjut Denok mengaku paling cepat mengisi TTS membutuhkan waktu 15 menit. Sedangkan paling lama bisa berhari-hari. "Ya paling cepat 15 menit, kalau lama ya berhari-hari. Itu juga karena saya tinggal-tinggal dengan kerjaan lain," katanya.
Lebih dari 30 tahun berkecimpung di dunia TTS, Denok pernah mendapat uang Rp 25 ribu hingga Rp 1 juta dari hadiah kemenangannya. Ia berharap, ke depan TTS lebih banyak diminati masyarakat. Selain itu bisa dimanfaatkan bagi dunia pendidikan. "Harapannya ke depan TTS ini bisa dijadikan media ulangan bagi guru. Jadi anak-anak itu nggak bosan ulangan cuma ngisi pertanyaan saja. Kalau dengan TTS kan bisa sambil bermain," tandasnya.
Nur Hidayat Setia Menunggu Koran yang Terbitkan TTS
Nur Hidayat menggemari Teka Teki Silang (TTS) sejak 13 tahun silam. Baginya, mengisi TTS bisa mencegah pikun.
Mengisi TTS mengajak seseorang untuk selalu berpikir kritis dalam menemukan jawaban dari setiap pertanyaan. Lebih greget lagi mencocokkan huruf antara yang datar dan menurun.
Nur –sapaan akrab Nur Hidayat- biasanya mengerjakan TTS saat malam hari atau selepas pulang mengajar. Waktunya kurang lebih satu jam. Ia berlangganan beberapa media cetak yang menerbitkan TTS. Seperti Jawa Pos, yang memuat TTS pada edisi hari Jumat dan Sabtu.
Ketertarikan Nur pada TTS karena merasa asyik. Dengan TTS ia bisa memperluas wawasan, bacaan, dan kosa kata agar seluruh kotak terisi dengan betul. “Ada gregetnya kalau sudah merasa jawaban benar, tapi ternyata kotaknya kurang pas. Maka harus berpikir lagi,” tambahnya.
Pria 59 tahun ini sebetulnya melanjutkan hobi sang ibu mengisi TTS di koran. Namun sekarang ia kerap dibantu istri dan anak-anaknya untuk menemukan kata yang tepat. Ia juga memiliki komunitas bernama Pakar Kaki Langit yakni Paguyuban Penggemar Teka Teki Sulit. Sebuah komunitas untuk mewadahi penggemar TTS.
Dalam komunitas tersebut, Nur biasanya berbagi pikiran dengan sesama anggota. Terutama untuk mencari jawaban yang belum ditemukan. Sebab tidak sedikit pertanyaan dan jawaban yang ia tak duga. Terkadang untuk memecahkan teka teki yang disediakan Jawa Pos cukup nyeleneh. Misalnya, sudah jelas jawaban Borobudur, tapi kurang satu huruf. Akan tetapi dari keanehan itu, justru menjadi ciri khas tersendiri bagi masing-masing media. “Kami suka bawa koran, berdiskusi, lalu saling tanya jawaban. Berkat TTS itu, kami juga menjalin silaturahmi. Padahal awal mulanya tidak kenal,” ucapnya.
Dalam kiprahnya menjadi pengisi TTS, Nur pernah mendapatkan hadiah beragam. Mulai dari tas, uang tunai, hingga sepeda motor. Fantastis. Keberuntungan itu ia raih saat mengirim TTS pada media yang sedang merayakan ulang tahun.
Ia sangat bersemangat karena hadiah yang ditawarkan menggiurkan. Dua kali ia berhasil mendapatkan sepeda motor, Yamaha Vega R dan Suzuki Nex. Hingga kini, sepeda motor itu masih ia gunakan. Sebagai penghargaan dan kenang-kenangan, Nur juga memesankan plat nomor khusus yakni 5010 yang berarti SOLO sebagai ucapan terima kasih pada media yang berasal dari Solo.
Saat ini, menurutnya nilai hadiah untuk pemenang semakin menurun. Dulu, untuk uang tunai bisa mencapai Rp 600-700 ribu hingga Rp 1 juta. Namun, kini hanya berkisar Rp 200-250 ribu saja.
“Bukan di hadiahnya. Hadiah itu kan bonus. Saya lebih ke senangnya mengisi teka teki sih, biar terus berpikir gitu. Asyiknya saat mencocokkan mendatar dan menurun,” tambahnya.
Dulu uang yang ia peroleh dari TTS itu, kata Nur, dipakai untuk membeli beragam kamus, seperti kamus bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Sunda, dan bahasa Jawa. Kamus itu ia gunakan untuk mencari kosa kata dari TTS berikutnya. Sedangkan saat ini, uang hadiah itu ia pakai untuk membeli kuota internet karena mencari jawaban dari Google. “Sekarang lebih praktis, mencari jawaban bisa dari internet. Kalau dulu harus mencari di kamus,” tuturnya.
Menurut guru SMKN 1 Semarang ini, TTS dalam majalah dan koran harus tetap ada. Rubrik ini menjadi hiburan bagi generasi tua seperti dirinya. “Kebanyakan penikmatnya sudah sepuh seperti saya, pensiunan gitu. Bagi yang tua itu ada kegiatan, mengisi waktu. Pensiunan sangat menunggu terbitnya koran edisi TTS,” harapnya.
Senang Jawa Pos Terbitkan TTS Dua Kali Seminggu
Nur Zamroni merupakan guru matematika di SMA Negeri 12 Semarang. Sudah hobi mengisi teka-teki silang (TTS) sejak masih kecil, sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Hobi yang tak lekang oleh waktu, bagi Nur Zamroni adalah mengisi TTS. Meski begitu, hobinya ini bermula dari sang ayah yang kerap membeli koran untuk dibaca di rumah. Sejak saat itu, Nurzam –sapaan akrabnya- lebih suka membaca dan mengisi TTS.
“Saat masih SD, waktu itu tahun 1980-an, kerap minta tolong ayah buat menjawab dan mengisi TTS. Seiring berjalannya waktu, ya saya mandiri. Dulu kan orang masih banyak mengisi TTS, sekarang berkurang," katanya.
Kalau kesulitan menjawab pertanyaan yang susah, dulu selalu rajin mencari jawaban dari kamus. Bahkan rela ke perpustakaan hanya untuk mencari jawaban TTS yang sulit. "Sekarang kan mudah, ada KBBI dan internet yang serba online. Setelah ada internet, kini akses mencari jawaban jauh sangat mudah," jelasnya.
Dengan TTS, bisa menambah pengetahuan dan kosa kata. Apalagi ketika tes PNS, pengalaman mengisi TTS sangat membantu. "Saya tidak menduga, ternyata kok ada pertanyaan seperti di TTS," ujarnya.
Selain itu, dengan TTS dapat mencegah kepikunan. "Saya pasti meluangkan waktu untuk mengisi TTS," katanya.
Dirinya pernah memenangkan kuis TTS Rp 1 juta dari salah satu media cetak dari Jakarta. Pada tahun 2007 dirinya mendapatkan Rp 1,25 juta. "Dapat hadiah ya syukur, tidak ada beban. Kalau tiap Jumat dan Sabtu saya berlangganan Jawa Pos yang masih eksis menerbitkan TTS. Saya malah senang itu," katanya.
Diakuinya, terkadang pertanyaan TTS di Jawa Pos itu tidak baku. Tetapi dirinya bersyukur, dibanding koran lain, Jawa Pos lebih sering bahkan dua kali seminggu menayangkan TTS, yakni Jumat dan Sabtu. Nurzam bahkan pernah diminta membuat naskah TTS oleh Jawa Pos.
"Saya sudah mengirim lewat email. Ngirim cerpen juga ke Jawa Pos. Meski begitu saya berharap dan usul, kalau ngasih pertanyaan dengan kata-kata yang baku, yang simetris, dan tidak membingungkan," kata Nurzam juga mengikuti komunitas Pakar Kaki Langit Semarang.
Selain itu, ia berharap ada hadiah yang menarik untuk generasi muda. Misalkan, hadiah tiket bioskop bagi yang memenangkan TTS. "Karena generasi sekarang serba mudah, daya juangnya sangat berbeda dengan zaman dulu. Ironis sekali ya," katanya. (kap/ifa/fgr/ida) Editor : Agus AP