Pantai Marina menjadi salah satu lokasi wisata yang sering dikunjungi wisatawan. Baik dijadikan tempat melepas penat, bercengkrama dengan keluarga atau bahkan dijadikan tempat untuk memadu kasih dari para remaja yang berkunjung.
Tidak sedikit pula mereka secara terang-terangan bermesraan di hadapan banyak orang. Mulai dari bergandengan, gelendotan, membelai atau berpelukan. Tak jarang orang lain yang merasa risih melihat perilaku tersebut.
"Kalau tempat paling sering buat pacaran itu pantai yang bagian utara, mas. Mungkin karena di sana spotnya pas langsung menghadap ke laut," ungkap Sulis, salah satu pedagang cemilan di area pantai.
Dalam sehari ia bisa melihat belasan hingga puluhan pasangan muda mudi yang datang ke pantai untuk berpacaran. Ia sudah sering melaporkan tindakan remaja-remaja ini ke satpam. Namun hal tersebut tidak menurunkan intensitas remaja yang datang untuk berpacaran.
"Paling banter saya lihat sih pelukan kalau di sekitar sini. Agak risih sih mas, cuma ya mau gimana namanya juga pacaran, dilaporin pun besok ada lagi yang begitu," imbuhnya
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang, waktu kunjungan paling ramai dari Pantai Marina didominasi sore hari, sekitar pukul 15.00 hingga 17.00 WIB. Para pengunjung memanfaatkannya untuk mencari momen untuk berswafoto ketika matahari hendak terbenam
Salah satu pengunjung pantai, Rahmat, 23, mengaku tiap akhir pekan mengunjungi Pantai Marina. Sebab lokasinya terdekat dan termurah dari rumahnya yang berada di kawasan Graha Padma.
Saat disinggung mengenai spot pacaran, Rahmat mengaku, beberapa kali melihat remaja yang berpacaran di area perumahan Pantai Marina. "Di situ mungkin karena sepi, jarang ada pengunjung yang lewat, jadi dimanfaatin buat pacaran," tuturnya.
Meski sekarang kunjungan pantai sudah dibatasi hanya sampai pukul 18.00 WIB. Pantai Marina masih menjadi salah satu spot wisatawan khususnya remaja untuk berpacaran.
Kanal Banjir Barat Semarang atau lebih kondang dengan sebutan Kali Banjir Kanal Barat Kota Semarang juga jadi spot pacaran muda-mudi. Apalagi di saat malam hari, kemesraan mereka tak jarang makin menjadi di tengah suasana penerangan yang remang-remang.
Beberapa kali warga sekitar menegur pasangan-pasangan yang dinilai kebablasan dalam berduaan, tapi tak membuatnya jera.
“Kalau di sini sore, biasanya orang sama anak-anak (keluarga). Tapi ya kalau malam sering di seberang sana yang gelap itu, saya sering lihat (orang berpacaran). Mungkin perlu ditambah penerangan lagi,” ucap Ari, penjual bakpao di kawasan BKB.
Warga sekitar menggunakan taman ini biasanya untuk melepas penat dengan bermain bersama buah hati. Akan tetapi jika malam tiba, kadang tempat ini disalahgunakan oleh pasangan remaja yang mengumbar kemesraan.
“Ya gimana ya mas, sebenernya sih saya nggak suka tempat ini dibuat mesum kaya gitu, mau ngomongin ya bukan urusan kita. Susah emang pergaulan anak zaman sekarang,” tutur Ari.
Tindakan meresahkan tersebut sebetulnya sudah ada sejak lama. Warga sekitar dan aparat pun sudah pernah menggerebek adanya aktivitas mesum. Namun dengan kondisi yang masih gelap dengan pohon yang rindang, masih membuka kesempatan bagi pasangan remaja untuk bertindak mesum di area sekitar KBK.
Psikolog dari RS Elisabet Semarang Probowatie Tjondronegoro mengatakan, cinta dan kasih sayang menjadi sebuah kebutuhan yang mendasar bagi manusia. Seseorang akan merasakan kebahagiaan apabila saling menyayangi dan mencintai. Menurutnya, masa remaja menuju dewasa adalah masa yang membutuhkan pengakuan, dihargai, dan dicintai.
“Saat ini, menjalin hubungan dengan lawan jenis menjadi sebuah kebanggan tersendiri. Cowok punya cewek cantik, dirangkul, itu suatu kebanggaan, bukan lagi rasa malu. Hal itu menunjukkan bahwa sang laki-laki bisa menaklukkan hati wanita idamannya, begitupun sebaliknya,” katanya Sabtu (25/2).
Ia menyadari bahwa banyak anak muda yang mengekspresikan cinta kepada pasangannya terkadang melampaui batas, bahkan dilakukan secara vulgar di tempat umum. “Sekarang banyak dibangun taman-taman, kafe, tempat wisata dan hiburan. Tempat tersebut seringkali menjadi lokasi favorit muda-mudi menghabiskan waktu bersama pasangannya,” terang Probo.
Namun baginya, jika hanya sebatas bersama, ngobrol, diskusi tidak menjadi masalah. Yang penting masih menjaga etika sebagai orang Timur dan tidak melampaui batas hingga berbuat hal tak senonoh.
Ia juga mengungkapkan, perkembangan zaman saat ini membawa pada semua serba keterbukaan. Jika dibandingkan dengan dulu, saat ini norma sudah bergeser. Tidak seperti dulu, saat ini malah saling berlomba memamerkan kemesraan di media sosial. “Berbeda dengan dulu, sekarang anak muda tidak lagi merasa malu berpacaran di muka umum. Bahkan sekarang saja tidak punya pacar itu rasanya malu,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Probo mngatakan pentingnya keterlibatan para pendidik dan orang tua. Memberikan pengawasan dan pengarahan etika berpacaran di tempat umum. Memberikan edukasi terkait batas-batas yang seharusnya tidak dilakukan. Jangan sampai kebablasan dan harus dalam koridor normal.
Di sisi lain, orang tua juga harus menyadari apa yang dialami anaknya ketika beranjak dewasa. Terlalu mengekang dan over protektif, malah akan membuat anak semakin berontak. “Hal seperti ini orang tua juga harus paham bahwa anak muda itu perlu mengekspresikan cinta kasihnya. Orang tua hanya perlu mengarahkan anaknya untuk menjalin hubungan yang sehat dengan lawan jenisnya,” jelasnya. (cr6/mg3/cr3/ton) Editor : Agus AP