Tinggalkan Cerita Wayang Kulit “Salya Begal”

Agus AP • Dipublikasikan Selasa, 9 Februari 2021 | 18:10 WIB
Amat Sukandar menunjukkan buku otobiografi Boediardjo yang mengupas sejarah panjang perjalanan hidup Menteri Penerangan RI periode 1968-1973 itu. (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Amat Sukandar menunjukkan buku otobiografi Boediardjo yang mengupas sejarah panjang perjalanan hidup Menteri Penerangan RI periode 1968-1973 itu. (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Boediardjo lahir di Desa Borobudur, Magelang, 16 November 1921. Di masa penjajahan, Boediardjo kecil tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati bangku sekolah. Pada 1927, Boediardjo masuk HJS di Jambon Magelang, lalu HIS di Rejosari Semarang, dan MULO diselesaikan di Magelang pada 1938.

Sisi lain dari Boediardjo adalah sebagai pecinta tanaman, seperti anggrek. Pernah menjadi Ketua Umum Perhimpunan Anggrek Indonesia (1962). Kemudian pecinta bekisar, hingga menjadi pengurus Perhimpunan Burung Indonesia (1974).

“Dulu ada lomba bekisar tahunan yang diselenggarakan di lapangan Hotel Pondok Tingal. Namun, beberapa tahun ini tidak ada kegiatan itu,” ujar Amat Sukandar, wartawan senior Magelang.

Sukandar juga ingat Boedi adalah sosok yang tidak pantang menyerah. Boedi pernah didemo oleh warga di sekitar Borobudur. Saat itu, Boedi menjabat sebagai Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan (1979). Kala itu mendapat tugas dalam upaya membangun Taman Wisata Candi  Borobudur, dulunya bernama Taman Purbakala Nasional atau Tapurnas.

“Saat itu, tugas terberat beliau. Karena berhadapan dengan warganya sendiri. Pak Boed, asli warga sini,” katanya.

Boedi melaksanakan pembebasan tanah untuk pengembangan Taman Purbakala Nasional (Tapurnas) itu. Sehingga Boedi dianggap sebagai “musuh” oleh sebagian warga Borobudur—yang tanah dan pekarangannya tergusur. Pada masa babat alas itu, Boedi menghadapi protes warga. Ada vandalisme. Penolakan terparah warga, adanya gundukan tanah yang menyerupai makam,  ditaburi kembang mawar, di sebelahnya terdapat nisan, disimbolkan sebagai “nisan untuk sang penggusur”. Dua potret masa itu dimuat dalam buku otobiografi Boediarjo berjudul “Siapa Sudi Saya Dongengi” halaman 214.

“Itu bentuk demo yang cukup ekstrem,” katanya.

Namun, Boedi sabar dan menerima itu semua. “Beliau menjadi orang yang disegani di Borobudur,” imbuhnya.

Ketika kawasan Candi Borobudur menjadi ramai, Boedi  merasa iba dengan para wisatawan dari anak muda yang uang sakunya pas-pasan. “Untuk menolong mereka itu, Pak Boed bikin pondok, sewanya murah meriah, kemudian berkembang besar menjadi Hotel  Pondok Tingal seperti sekarang ini,” ujarnya.

Banyaknya kenangan semasa hidup Boedi, membuatnya abadi di hati masyarakat. Utamanya dari kalangan seniman dan budayawan. Peran Boedi, yang diteruskan oleh para ahli warisnya dalam mendukung kesenian lokal terus menyala. Tiap bulan pergelaran wayang kulit diadakan. Dalangnya dari seluruh penjuru nusantara. Kemudian memfasilitasi anak-anak sekolah belajar wayang dengan dosen ISI Jogjakarta, Junaidi.

Tinggalan almarhum bernilai bagi pelestarian seni  dan budaya. Cerita wayang kulit “Salya Begal” menjadi lakon wajib dibawakan dalam pentas.  Cerita Salya Begal dicuplik dari cerita Epos Mahabharata. Merupakan cerita favorit Boedi. Menggambarkan keadaan zaman, keadaan negara ataupun keadaan diri pribadi Boedi kala itu. Lakon ini kali pertama dibawakan dalang Ki Mantep Sudarsono dalam acara ulang tahun Boedi ke-75 pada 1996 di Jakarta.

Secara garis besar, Salya Begal merupakan gambaran bahwa harta dan tahta tidak akan abadi. Semua harapan, keinginan, dan cita-cita bisa gagal. Jika tidak dilandasi rasa syukur, akan timbul kekecewaan dan keputusasaan. Cerita Salya Begal juga dikupas dalam buku otobiografinya. “Jadi menurut Pak Boed, yang paling utama itu ibadah,” ucapnya. (put/aro)

  Editor : Agus AP
Boediardjo Hari Pers