Tahun ini, genap lima tahun Wahyudi, 43, pemilik team Raja Besi Magelang yang beralamat di Dusun Grenggeng, Desa Sidomulyo, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang kehilangan maskot team pertamanya. Merpati kesayangannya yakni Anugrah. Merpati berwarna megan ini, mati tahun 2015 saat mengikuti lomba merpati kolong Wali Kota Magelang Cup 2015. Anugrah, mati menabrak tiang kolong saat akan menyelesaikan lomba dengan melesak sangat cepat ke bawah.
“Anugrah ini legend. Di kalangan lokalan sini (Kedu dan DIJ), banyak yang kenal. Dulu ada yang mau nawar Rp 250 juta tidak saya lepas. Anugrah nabrak tiang kolong saat mau turun kecepatan tinggi,” kata Wahyudi saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya.
Yudi (panggilan akrab Wahyudi) mengaku, sangat sedih dan kehilangan. Bahkan selama setengah tahun, kata Yudi, dirinya selalu teringat Anugrah dan sempat off lomba. Anugrah merupakan merpati pertamanya yang memenangkan lomba dan pembawa keberuntungan.
Bahkan nama Anugrah, menurut Yudi, diberikannya karena selalu membawa keberuntungan di tim-nya. Sejak dirinya menggeluti dunia merpati tahun 2013 silam, Anugrah lah yang memberikannya hadiah mobil kali pertama. “Waktu itu masih berhadiah mobil second. Anugrah yang mempersembahkan hadiah mobil pertama untuk tim. Kalau sepeda motor, setiap bulan, setiap tanding, Anugrah meraihnya. Ada puluhan sepeda motor yang diberikan oleh Anugrah. Bahkan saat kehilangan Anugrah, saya membeli ratusan juta untuk merpati sebagai pelampiasan rasa sedih. Istri saya hanya diam dan membiarkan,” kata pria kelahiran Klaten, 16 Agustus 1977.
Meski dirinya sedih kehilangan Anugrah, namun merpatinya sempat menghasilkan anak pertama dan meneruskan trah kehebatannya. Bahkan anak Anugrah tersebut, kata Yudi, telah menghasilkan trah keturunan yang berkualitas.
“Trah keturunan Anugrah, dijual Rp 15 juta per ekor. Ini yang piyik ya. Sedang maskot team yang lain seperti Black Sweet, Dewi Sri, Suman, dan lain-lain dijual untuk trah keturunannya pada kisaran yang sama. Kalau untuk maskot, memang tidak saya jual, meski ditawar berapapun. Black sweet pernah ditawar Rp 750 juta, tidak saya lepas. Black Sweet sudah memenangkan puluhan motor dan mobil,” ungkap bapak satu anak ini.
Diakui Yudi, hadiah tersebut ia dapatkan setelah mengikuti lomba hingga ke berbagai daerah, ke Jabodetabek dan pantura eks Karesidenan Pekalongan. Di Pekalongan ada tempat untuk latihan khusus. “Sejak tahun 2016 hingga 2018 ada rumah khusus disana, biar merpati siap bertarung. Pertarungan di pantura cukup berbeda dengan Magelang dan sekitarnya. Pantura kecepatan angin dan cuaca berbeda, sehingga merpati harus beradaptasi dengan baik. Wilayah pantura dikenal sebagai kandangnya lomba merpati,” tuturnya.
Kini, dirinya berhasil membeli lahan yang dibangun untuk peternakan merpati khusus trah maskot teamnya. Selain itu, dirinya mempunyai empat orang perawat khusus merpati.
“Ada tiga rumah peternakan merpati. Kalau di rumah pertama, rumah utama, ada kandang untuk merpati lomba atau tempat maskot. Rumah kedua untuk peternakan trah maskot, rumah ketiga ada peternakan merpati juga. Total ada ribuan merpati berkualitas,” ungkapnya.
Yudi mengaku, untuk menghasilkan merpati pemenang lomba tidak hanya faktor merpatinya, namun ada kesabaran dan keikhlasan dalam mencetak juara. Karena itu, merpati harus melalui perawatan, latihan keras, makanan yang baik, serta jamu.
“Melatih merpati harus ikhlas karena bisa jadi merpati akan hilang dan tidak kembali. Saya juga tidak terhitung, berapa ratus merpati yang hilang. Karena saat di lapak (lapangan kolong merpati), 5 persen adalah keinginan kita dan 95 persen adalah keinginan merpatinya. Jadi merpati dengan kita dan pasangan betinanya, harus menyatu,” ujarnya.
Yudi mengaku, melalui merpati, dirinya mendapat banyak teman dan pendapatan tinggi. Meski begitu, kata Yudi, awalnya memang harus mengeluarkan uang cukup banyak saat mengikuti lomba dan mencetak juara.
“Kalau dihitung, untuk mengurus merpati mencapai Rp 1 miliar lebih dikeluarkan. Belum ditambah banyak burung yang hilang akibat terbang. Dulu awalnya saya kan kicau mania, main murai. Murai selalu juara, selalu menang, ditawar laku Rp 175 juta. Lalu uangnya buat modal awal terjun di merpati. Sampai sekarang tetap kicau mania, tapi lebih ke merpati. Selain itu, saya konsentrasi pada usaha saya, toko onderdil mobil dan motor. Merpati biar anak-anak (anak buah, red) yang mengurus,” tutupnya sambil tertawa. (had/ida/bas) Editor : Agus AP