Antusiasme masyarakat muslim tampaknya tidak terpengaruh oleh pandemi Covid-19. Sejak beberapa hari lalu, pasar meningkat. Orang berjubel berebut bahan kebutuhan pokok. Harganya melonjak. Emak-emak bakul sayur ikut memprovokasi. “Beli sekarang saja daripada besok kehabisan barang,” kata bakul sayur langganan saya. Kemarin, mestinya saya hanya membeli kebutuhan untuk sahur. Akhirnya berbelanja juga untuk berbuka.
Hari ini bakul sayur berencana tidak berjualan. Ingin menikmati hari pertama puasa Ramadan. Peran bakul sayur digantikan dengan para penjual makanan jadi. Banyak pedagang musiman menjelang berbuka. Tidak sedikit bermunculan pasar kaget. Para remaja meramaikannya dengan berjualan takjil. Pembelinya berjubel.
Ramadan membawa berkah bagi semua. Mereka yang nonmuslim pun ikut merasakan. Yang tidak berpuasa juga ikut berbahagia. Apalagi mereka yang berpuasa. Mereka mendapat kebahagiaan saat berbuka, dan saat bertemu Tuhan nanti. Kebahagiaan saat berbuka itulah yang mendorong mereka berebut bahan kebutuhan pokok dan makanan jadi.
Di mana-mana harga bahan kebutuhan pokok melonjak. Justru saat umat Muslim berpuasa. Ironis. Mestinya kebutuhan makan berkurang 30 persen. Makan yang semula tiga kali sehari berkurang menjadi dua kali sehari. Kenyataannya kebutuhan justru meningkat 30 persen. Kondisi ini rutin terjadi setiap bulan puasa.
Esensi puasa mestinya pelajaran untuk mengerem hawa nafsu. Khususnya untuk memenuhi kebutuhan fisik. Makan, minum, dan hubungan seksual. Agar masyarakar muslim bisa merasakan penderitaan sesama. Dari masa ke masa tetap banyak orang hidup di bawah garis kemiskinan. Bisa makan dua kali sehari sudah Alhamdulillah. Banyak orang yang menggantungkan makannya hari itu dengan bekerja hari itu juga.
Kalau bisa mewujudkan esensi puasa itu saja sebenarnya sudah hebat. Karena kewajiban puasa memang hanya tidak makanan, tidak minum, dan tidak berhubungan badan dari dari subuh sampai maghrib. Sedangkan amalan-amalan lain yang juga dilaksanakan dengan gegap gempita sebenarnya hanya sunnah (bila dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak berdosa).
Saya tidak ahli agama. Namun banyak kiai yang berfatwa makanlah selagi lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Atau isilah sepertiga perutmu dengan makanan dan sepertiga dengan minuman. Kosongilah sepetiganya. Itu bukan hanya ajaran agama. Tetapi, badan menjadi sehat. Akan kontra, rasanya, apabila orang rajin bertarawih tetapi rajin juga makan.
Coba nanti maghrib perhatikan meja makanan. Apakah ada es dawet, es sirup, es doger, es campur, dan es-es lainnya? Apakah juga ada kurma, kolak, kue, gorengan, dan makanan takjil lainnya? Hitung juga lauknya. Kalau Anda makan melebihi yang tersaji setiap hari, berarti nafsu makan Anda tinggi.
Agaknya puasa dalam arti sebenarnya perlu dijadikan gerakan. Gerakan berbuka dan sahur tidak melebihi makan sehari-hari sebelum puasa. Yang mendengungkan bukan hanya para kiai di masjid-masjid dan musala, tetapi oleh kita semua. Ibu-ibu yang menyajikan makanan setiap hari berperan besar. Bahkan seharusnya lebih besar dari para kiai. (*) Editor : Baehaqi