RADARSEMARANG.ID, Semarang— Kapan qunut witir mulai dibaca untuk kalangan Nahdlatul Ulama (NU) pada Ramadan ini?
Bagaimana pula bacaan doa qunut witir sesuai sunnah yang pada bulan puasa ini dikerjakan setelah salat tarawih berjamaah?
Baca Juga: Aturan Besarnya Zakat Fitrah 2025, Nilai Fidyah dan Zakat Mal dari Baznas RI
Menjelang akhir Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk semakin memperbanyak ibadah, termasuk dalam pelaksanaan salat tarawih dan witir.
Salah satu amalan yang biasa dilakukan di malam-malam terakhir bulan suci ini adalah membaca doa qunut witir.
Doa ini menjadi pelengkap salat witir yang dikerjakan setelah tarawih, khususnya pada separuh terakhir Ramadan.
Baca Juga: 14 Ide Jualan Es Takjil untuk Berbuka Puasa Ramadan, Modal Kecil Untung Gedhe
Doa qunut terbagi menjadi tiga jenis, masing-masing dengan fungsinya sendiri dalam ibadah umat Islam.
Pertama, qunut nazilah, yang dibaca saat terjadi musibah besar atau peristiwa genting.
Doa ini biasanya dipanjatkan setelah rukuk (iktidal) pada rakaat terakhir dalam sholat.
Kedua, qunut dalam salat subuh, yang menjadi perbedaan di antara mazhab.
Mazhab Syafi’i menganggapnya sebagai sunnah ab’adh, sehingga jika terlupa disarankan melakukan sujud sahwi.
Mazhab Maliki juga menganjurkan qunut Subuh, tetapi dibaca secara pelan.
Sementara itu, mazhab Hanafi dan Hambali tidak mensyariatkan qunut dalam salat Subuh.
Ketiga, qunut dalam salat witir, yang pelaksanaannya juga berbeda-beda.
Menurut mazhab Syafi’i, doa ini dianjurkan setelah rukuk pada paruh terakhir Ramadan.
Mazhab Hambali juga menghukumi sunnah qunut setelah ruku, sedangkan mazhab Maliki tidak memasukkannya sebagai bagian dari salat witir.
Baca Juga: Bolehkah Sahur Dalam Keadaan Junub? Apakah Sah Puasanya Dalam Kondisi Junub? Begini Penjelasannya
Sementara itu, mazhab Hanafi menetapkan bahwa qunut witir dilakukan sebelum rukuk pada rakaat ketiga setiap kali shalat witir.
Doa qunut sunnah dilakukan pada malam ke-15 atau pertengahan bulan Ramadan.
Hal ini berdasarkan pendapat ulama Mazhab Syafi’i.
Imam As-Syafi’i berkata terkait qunut witir:
Artinya:
“Jangan qunut (witir) kecuali pada seperdua bulan Ramadhan, yang demikian karena perilaku Ibnu Umar”.
Diketahui, 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari 2026.
Baca Juga: Daftar 6 Negara dengan Waktu Puasa Ramadan 2026 Terlama di Dunia, Ada yang Sampai 18 Jam
Dengan demikian, qunut Ramadan tahun ini yang dimulai pada malam ke-15 Ramadan bertepatan dengan malam tanggal 5 Maret 2026.
Imam al-Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar menegaskan Imam asy-Syafi’i menganjurkan pembacaan doa qunut pada rakaat terakhir salat witir setelah tarawih.
Adapun doa qunut ini dibaca setelah ruku’ atau pada saat i’tidal sebelum melakukan sujud.
Hal ini juga dikonfirmasi oleh Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar yang menyebutkan bahwa:
Ulama kalangan madzhab Syafi’i menganjurkan pembacaan doa qunut saat witir dilakukan di separuh terakhir bulan Ramadan.
Berikut bacaan doa qunut witir
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّمَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
Allahummah dinii fii man hadaits, wa ‘aafiinii fii man ‘aafaits, wa tawallanii fii man tawallaits, wa baarik lii fii maa a’thaits, wa qi nii syarra maa qaddlaits, fa innaka taqdli wa laa yuqdlaa ‘alaik, wa innahuu laa yadzil-lu man waalaits, tabaarakta rabbana wa ta’aalaits.
Baca Juga: 10 Manfaat Salat Tarawih di Bulan Ramadan bagi Kesehatan, Ini Kata Ahli Hadis dan Para Dokter
Artinya:
“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan. Dan berilah kesehatan kepada kami sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesehatan.
Dan peliharalah kami sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan.
Dan berilah keberkahan kepada kami pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan.
Baca Juga: Tips Pola Makan untuk Ibu Hamil Saat Berpuasa Ramadan 2026
Dan selamatkan kami dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan.
Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan terkena hukum. Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin.
Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau.
Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan.” (fal)
Editor : Baskoro Septiadi