RADARSEMARANG.ID – Setiap muslim yang beriman tentu memendam satu harapan yang sama ketika bulan Ramadhan tiba bertemu dengan malam paling mulia sepanjang tahun, Lailatul Qadar.
Malam yang tidak sekadar istimewa, tetapi malam yang nilainya melampaui usia manusia pada umumnya.
Lailatul Qadar hadir hanya sekali dalam setahun, tersembunyi di antara sepuluh malam terakhir Ramadhan, namun dampaknya mampu mengubah arah kehidupan seorang hamba untuk selamanya.
Tidak mengherankan jika para ulama dan orang-orang shalih terdahulu begitu bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan,
karena mereka memahami bahwa satu malam ini lebih berharga dibandingkan ribuan malam lainnya.
Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa dalam Islam, terjadi satu kali dalam setahun selama bulan Ramadan. Malam ini diyakini sebagai "malam kemuliaan" yang lebih baik daripada seribu bulan.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai Lailatul Qadar berdasarkan hasil pencarian :
Pengertian dan Keutamaan
Lebih Baik dari 1000 Bulan: Ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya setara dengan ibadah selama lebih dari 83 tahun (1000 bulan lebih).
Malam Penurunan Al-Qur'an: Lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur'an dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia (Baitul Izzah).
Ampunan Dosa: Barangsiapa yang menghidupkan malam ini dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Turunnya Malaikat: Malaikat, termasuk Malaikat Jibril, turun ke bumi dengan membawa rahmat dan kebaikan.
Kapan Terjadinya Lailatul Qadar 2026?
Malam ini dirahasiakan oleh Allah, namun diyakini terjadi pada 10 malam terakhir bulan Ramadan.
Fokus pencarian dianjurkan pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan).
Pada tahun 2026, berdasarkan prediksi, malam-malam ini diperkirakan jatuh pada pertengahan Maret 2026, khususnya di sekitar tanggal 15-17 Maret 2026.
Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar
Berdasarkan hadis, beberapa tanda alam munculnya malam Lailatul Qadar meliputi:
Suasana malam terasa tenang, damai, dan sejuk, tidak terlalu panas maupun dingin.
Langit cerah, tidak awan tebal, dan tidak ada hujan.
Pagi harinya, matahari terbit dengan cahaya yang lembut, tidak menyengat, dan tampak kemerah-merahan
Dalam hitungan hari, Ramadan akan berlalu. Tidak ada yang bisa memastikan apakah kita akan bertemu lagi dengannya tahun depan.
Namun, yang bisa kita lakukan adalah mengisi hari-hari terakhir ini dengan sebaik mungkin dan berpisah darinya dengan penuh penghormatan.
Berada di penghujung bulan Ramadan adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri. Ini menjadi momen yang tepat untuk merefleksikan amalan yang telah kita lakukan selama bulan suci ini.
Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu terbaik untuk meningkatkan amal ibadah dengan lebih sungguh-sungguh. Sebab, di dalamnya terdapat malam yang sangat mulia dan berkah, ia lebih baik daripada seribu bulan yaitu Lailatul Qadar.
Malam istimewa ini menjadi momen yang paling dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia.
Kepastian serta keutamaan malam ini tertuang dalam firman Allah SWT, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar.
Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 1-3)
Berikut beberapa keistimewan dari malam Lailatul Qadar :
1- Lailatul Qadar adalah waktu diturunkannya Al Qur’an
Ibnu ‘Abbas dan selainnya mengatakan, “Allah menurunkan Al Qur’an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia.
Kemudian Allah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut secara terpisah sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 403).
Ini sudah menunjukkan keistimewaan Lailatul Qadar.
2- Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan
Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3). An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341).
Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. (Zaadul Masiir, 9: 191). Ini sungguh keutamaan Lailatul Qadar yang luar biasa.
3- Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhon: 3).
Malam penuh berkah ini adalah malam ‘lailatul qadar’ dan ini sudah menunjukkan keistimewaan malam tersebut, apalagi dirinci dengan point-point selanjutnya.
4- Malaikat dan juga Ar Ruuh -yaitu malaikat Jibril- turun pada Lailatul Qadar.
Keistimewaan Lailatul Qadar ditandai pula dengan turunnya malaikat. Allah Ta’ala berfirman,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4)
Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya barokah (berkah) pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.
Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membacakan Al Qur’an, mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis dzikir -yaitu majelis ilmu-.
Dan malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena malaikat sangat mengagungkan mereka. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407)
Malaikat Jibril disebut “Ar Ruuh” dan dispesialkan dalam ayat karena menunjukkan kemuliaan (keutamaan) malaikat tersebut.
5- Lailatul Qadar disifati dengan ‘salaam’
Yang dimaksud ‘salaam’ dalam ayat,
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر
“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadr: 5) yaitu malam tersebut penuh keselamatan di mana setan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain.
Demikianlah kata Mujahid (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407). Juga dapat berarti bahwa malam tersebut, banyak yang selamat dari hukuman dan siksa karena mereka melakukan ketaatan pada Allah (pada malam tersebut). Sungguh hal ini menunjukkan keutamaan luar biasa dari Lailatul Qadar.
6- Lailatul Qadar adalah malam dicatatnya takdir tahunan
Allah Ta’ala berfirman,
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan: 4). Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (12: 334-335) menerangkan bahwa pada Lailatul Qadar akan dirinci di Lauhul Mahfuzh mengenai penulisan takdir dalam setahun, juga akan dicatat ajal dan rizki.
Dan juga akan dicatat segala sesuatu hingga akhir dalam setahun. Demikian diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhohak dan ulama salaf lainnya.
Namun perlu dicatat -sebagaimana keterangan dari Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (8: 57)– bahwa catatan takdir tahunan tersebut tentu saja didahului oleh ilmu dan penulisan Allah.
Takdir ini nantinya akan ditampakkan pada malikat dan ia akan mengetahui yang akan terjadi, lalu ia akan melakukan tugas yang diperintahkan untuknya.
7- Dosa setiap orang yang menghidupkan malam ‘Lailatul Qadar’ akan diampuni oleh Allah
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan bahwa yang dimaksud ‘iimaanan’ (karena iman) adalah membenarkan janji Allah yaitu pahala yang diberikan (bagi orang yang menghidupkan malam tersebut).
Sedangkan ‘ihtisaaban’ bermakna mengharap pahala (dari sisi Allah), bukan karena mengharap lainnya yaitu contohnya berbuat riya’. (Lihat Fathul Bari, 4: 251)[1]
Ya Allah, mudahkanlah kami meraih keistimewaan Lailatul Qadar dengan bisa mengisi hari-hari terakhir kami di bulan Ramadhan dengan amalan sholih.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi