RADARSEMARANG.ID – Umat Muslim di seluruh dunia kembali menatap datangnya bulan suci Ramadan dengan hati yang penuh rindu.
Di berbagai penjuru negeri, dari kota besar hingga pelosok desa, percakapan tentang Ramadan mulai terdengar.
Ada yang mulai menghitung hari, ada yang menata ulang target ibadah, ada pula yang diam-diam berdoa agar Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk kembali bertemu bulan yang penuh rahmat ini.
Ramadan bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Hijriyah. Ia adalah musim kebaikan. Bulan yang membawa maghfirah, limpahan barakah, dan janji pembebasan dari api neraka.
Dalam bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu
Tidak heran jika hati seorang mukmin selalu bergetar ketika mendengar namanya disebut.
Namun di balik kerinduan itu, tersimpan kesadaran yang mendalam: tidak ada jaminan seseorang akan kembali bertemu Ramadan berikutnya.
Setiap tahun kita menyaksikan ada yang tahun lalu masih bersama kita dalam tarawih dan sahur, kini telah lebih dahulu menghadap Allah.
Kesadaran inilah yang membuat doa menyambut Ramadan bukan sekadar tradisi, tetapi kebutuhan ruhani.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW membaca doa ketika melihat hilal, termasuk hilal Ramadan.
Doa tersebut diriwayatkan dalam hadits hasan oleh Imam Tirmidzi. Lafaznya berbunyi
“Allahumma ahillahu ‘alaina bil-yumni wal-iman, was-salamati wal-islam. Rabbi wa rabbukallah.”
Artinya: “Ya Allah, terbitkanlah bulan sabit itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3451)
Doa ini sangat dalam maknanya.
Pertama, permohonan keberkahan. Ramadan bukan otomatis menjadi berkah tanpa kesungguhan.
Ia menjadi berkah ketika diisi dengan iman dan amal shalih.
Kedua, permohonan keimanan.
Sebab yang diuji dalam Ramadan bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi konsistensi hati.
Ketiga, keselamatan lahir dan batin.
Dan keempat, penegasan tauhid bahwa bulan hanyalah makhluk Allah yang tunduk kepada-Nya.
Sebagian kaum Muslimin terbiasa membaca doa jauh sebelum Ramadan tiba, seperti doa:
“Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana.”
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah umur kami pada bulan Ramadan.”
Riwayat ini memang dinilai dhaif oleh sejumlah ulama hadits.
Namun isinya adalah doa yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat, sehingga boleh diamalkan tanpa meyakininya sebagai sunnah yang kuat.
Di sisi lain, ada doa yang diriwayatkan dari kalangan ulama salaf seperti Yahya bin Abi Katsir:
“Allahumma sallimni li Ramadhana, wa sallim Ramadhana li, wa tasallamhu مني mutaqabbalan.”
Artinya: “Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadan, dan antarkanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadan.”
Doa ini memiliki tiga permohonan besar yang sering tidak kita sadari.
Pertama, memohon agar kita dipertemukan dengan Ramadan.
Artinya kita mengakui bahwa umur adalah rahasia Allah.
Kedua, memohon agar Ramadan benar-benar “datang” kepada kita dalam keadaan kita siap beribadah, bukan sekadar lewat tanpa makna. Ketiga, memohon penerimaan amal.
Karena inti ibadah bukan banyaknya, tetapi diterimanya.
Banyak orang mampu berpuasa, tetapi belum tentu puasanya diterima. Banyak yang mampu tarawih, tetapi belum tentu qiyamnya bernilai di sisi Allah.
Maka doa penerimaan amal menjadi inti dari seluruh persiapan.
Ramadan sejatinya bukan tentang menahan lapar. Jika hanya menahan lapar, maka orang yang diet pun melakukannya.
Ramadan adalah latihan pengendalian diri. Ia mendidik mata agar menunduk dari yang haram, telinga agar tidak mendengar ghibah, lisan agar tidak melukai, hati agar tidak dipenuhi iri dan dengki.
Karena itu, para ulama mengingatkan bahwa menyambut Ramadan harus disertai persiapan nyata. Taubat nasuha adalah langkah pertama.
Bagaimana mungkin kita berharap ampunan, sementara hati masih nyaman dengan dosa yang belum ditinggalkan?
Ramadan adalah wadah suci. Ia layak diisi oleh hati yang sedang berusaha dibersihkan.
Langkah berikutnya adalah melunasi utang puasa. Jangan sampai Ramadan baru tiba sementara tanggungan lama belum diselesaikan tanpa alasan syar’i.
Selain itu, membekali diri dengan ilmu fiqih puasa sangat penting agar ibadah tidak sekadar semangat, tetapi juga benar sesuai tuntunan.
Rasulullah SAW dikenal sebagai manusia paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin meningkat saat Ramadan.
Ini menjadi pelajaran bahwa Ramadan bukan hanya ibadah individual, tetapi juga momentum kepedulian sosial.
Sedekah, memberi makan orang berbuka, membantu fakir miskin, semuanya menjadi ladang pahala yang berlipat.
Persiapan fisik pun tidak boleh diabaikan. Menjaga kesehatan sebelum Ramadan adalah bagian dari ikhtiar agar ibadah optimal.
Begitu pula membiasakan tilawah Al-Qur’an sejak bulan Sya’ban agar ketika Ramadan tiba, lisan sudah akrab dengan ayat-ayat Allah.
Lebih dari itu semua, doa menyambut Ramadan sejatinya adalah pengakuan kelemahan seorang hamba. Kita sadar bahwa tanpa pertolongan Allah, kita tidak mampu istiqamah
Tanpa taufik-Nya, kita tidak sanggup menjaga niat. Tanpa rahmat-Nya, kita tidak layak berharap surga.
Ketika seorang Muslim menengadahkan tangan dan memohon agar dipertemukan dengan Ramadan, sesungguhnya ia sedang mengetuk pintu langit dengan penuh harap.
Ia berharap keluar dari bulan itu dalam keadaan lebih bersih dari dosa, lebih lembut hatinya, lebih kuat imannya, dan lebih dekat kepada Rabb-nya.
Ramadan adalah kesempatan yang terus berkurang. Setiap tahun yang berlalu adalah satu peluang yang tidak kembali.
Maka menyambutnya dengan doa, ilmu, dan persiapan adalah bentuk kesungguhan.
Semoga ketika Ramadan benar-benar tiba, tidak hanya menjadi orang yang menahan lapar, tetapi menjadi hamba yang benar-benar berubah.
Karena hakikat keberhasilan Ramadan bukan pada meriahnya suasana, bukan pada banyaknya hidangan berbuka, tetapi pada sejauh mana hati kita kembali kepada Allah.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi