RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pantauan hilal penentuan Ramadhan 1447 Hijriyah tak terlihat dari Planetarium UIN Walisongo Semarang.
Tim Hisab Ru’yah Kementerian Agama memastikan hilal tidak mungkin terlihat pada pemantauan yang dilakukan 29 Sya’ban, pasalnya saat dilihat pada 18.04 WIB atau ketika matahari terbenam, belum terjadi konjungsi.
Anggota Tim Hisab Ru’yah Kementerian Agama, Slamet Hambali, menjelaskan secara astronomis posisi bulan masih belum memenuhi kriteria visibilitas.
“Tentu saja hari ini hilal tidak akan terlihat. Ya, enggak apa-apa, walaupun enggak terlihat, tapi ini sebuah keahlian untuk memastikan apakah hilal terlihat atau tidak,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (17/2/2026).
Ia menegaskan, salah satu penyebab hilal tidak terlihat adalah karena konjungsi belum terjadi saat matahari terbenam. Ia membeberkan hasil pantauan.
"Yang pertama, ijtimak belum terjadi, konjungsi belum terjadi. Konjungsi terjadi baru nanti pukul 19.08 WIB. Sehingga ini bisa dipastikan bahwa bulan terbenam lebih dulu dari matahari,” jelasnya.
Menurut dia, kondisi serupa juga terjadi di Arab Saudi. Dimana bulan juga mendahului terbenam.
Ia mengartikan dengan kondisi itu pantauan bulan di Arab Saudi juga masih negatif.
Sehingga bisa diprediksikan bahwa Arab Saudi dan Indonesia tidak ada kemungkinan bersamaan.
Berdasarkan perhitungan tersebut, ia memprediksi awal Ramadhan akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
“Bahwa satu Ramadhan akan jatuh pada hari Kamis tanggal 19 Februari 2026,” katanya.
Terkait adanya perbedaan awal Ramadhan dengan Muhammadiyah, Slamet menjelaskan bahwa organisasi tersebut menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
“Muhammadiyah menggunakan KGTK atau kalender hijriah global tunggal. Artinya ketika di seluruh dunia dimanapun berada, ada satu tempat yang tinggi bulan sudah mencapai 5, elongasi mencapai 8 derajat, maka itu masuk tanggal masuknya Ramadhan,” paparnya.
Ia menambahkan, kriteria tersebut terpenuhi di wilayah bujur barat Amerika mendekati 180 derajat bujur.
“Dan itu terjadi di bujur barat Amerika yang sangat barat mendekati bujur 180. Oleh karena itu maka Muhammadiyah menetapkan bahwa Rabu itu tanggal 1. Jadi KGTK kalender hijriah global tunggal. Gimanapun ada yang tinggi mencapai 5 dan elongasi mencapai 8, masuk tanggal,” tegasnya.
Atas perbedaan itu, Dosen Ilmu Falak di UIN Walisongo ini lantas mengajak masyarakat untuk menjaga toleransi atas perbedaan yang terjadi.
“Pesan kami tentu saja, walaupun ada perbedaan, kita harus jaga toleransi. Kita harus saling menghormati. Jangan sampai ada saling mengacek, saling merendahkan, saling menyalahkan, enggak perlu. Karena ini sangat tidak, sangat-sangat memungkinkan terjadi perbedaan,” ujarnya.
Ia mencontohkan, perbedaan bisa saja terjadi dalam satu keluarga maupun lembaga pendidikan.
"Dalam satu keluarga saja ada perbedaan. Misalnya ketika mondok di Pesanten Al Irshad ini akan cenderung ikut Al Irshad. Ormasnya di Muhammadiyah akan cenderung ikut Muhammadiyah. Jadi tetap harus toleransi, menghormati, saling menghormati," tandasnya.
Dalam pantauan ini, Planetarium UIN Walisongo menggunakan empat teleskop. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi