RADARSEMARANG.ID — Tradisi mandi di sungai sudah ada sejak masa kerajaan Mataram Kuno.
Pertama-tama, padusan dikenal dengan sebutan "amertabhujangga" yang berasal dari bahasa Sansekerta.
Artinya adalah mandi di air suci.
Baca Juga: Sejarah Padusan, Tradisi Masyarakat Jawa Tengah dan Jogja Jelang Puasa Ramadan
Dalam masa pemerintahan kerajaan, tradisi ini dilakukan oleh para raja dan bangsawan agar tubuh tetap sehat dan suci.
Air yang digunakan harus berasal dari sumber air yang dianggap memiliki manfaat untuk menyembuhkan.
Selain berupaya menjaga kesehatan dan kesucian, tradisi ini juga dianggap sebagai bagian dari upacara keagamaan yang bertujuan meminta berkat dari para dewi dan dewa.
Setelah masa kerajaan berakhir, tradisi tersebut tetap dipertahankan oleh masyarakat Jawa Tengah.
Baca Juga: Jelang Puasa Ramadan 2026: 30 Tempat Padusan di Semarang Hingga Yogyakarta
Meski mula-mula hanya dilakukan oleh keluarga bangsawanan, seiring berjalannya waktu tradisi ini mulai diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat.
Pada masa kolonial, tradisi padusan perlahan mulai memudar, tetapi masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Barulah setelah Indonesia merdeka, padusan mulai mendapat perhatian yang lebih besar.
Bahkan, pemerintah Indonesia menganggap padusan sebagai bentuk budaya yang patut dijaga dan dilestarikan.
Dalam perkembangannya, tradisi ini pernah mengalami beberapa perubahan.
Beberapa wilayah mengganti air yang digunakan untuk mandi dengan air yang dicampuri bahan-bahan herbal seperti jahe, kunyit, atau bunga melati.
Hal itu dilakukan agar meningkatkan manfaat kesehatan.
Meski ada perubahan dan pergeseran dalam tradisi padusan, diharapkan melalui tradisi ini generasi muda bisa belajar tentang warisan budaya yang bernilai dan memperkuat hubungan persaudaraan dalam kerangka keberagaman Indonesia.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana budaya bisa menjadi sarana untuk menghubungkan orang-orang dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
Padusan adalah salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk mempersiapkan tibanya bulan Ramadan.
Lalu, apa arti tradisi padusan itu?
Baca Juga: Jadwal Imsakiyah 2026 Kota Semarang dan Doa Berbuka Puasa Lengkap 1 Bulan Puasa Ramadan 1447 H
Sebagai salah satu tradisi, padusan mencerminkan kebudayaan Indonesia yang sangat beragam.
Bagi orang-orang beragama Islam, bulan Ramadan adalah bulan yang suci, sehingga sebaiknya dipersiapkan secara khusus.
Untuk itu, masyarakat Indonesia di berbagai daerah biasa melangsungkan berbagai kegiatan dalam menyambut datangnya bulan Ramadan.
Jika dilihat dari maknanya, padusan berasal dari kata "adus" dalam bahasa Jawa yang berarti mandi.
Tradisi padusan adalah kebiasaan yang diwariskan oleh leluhur dan dilakukan dari generasi ke generasi.
Saat bulan Ramadan mendekat, masyarakat Jawa biasanya melakukan padusan dengan berendam atau mandi di sumur-sumur serta sumber mata air lainnya.
Tujuannya adalah supaya dalam bulan Ramadan, seseorang dapat menjalankan ibadah puasa dalam keadaan tubuh dan jiwa yang suci.
Jika kita mencari tahu lebih dalam, arti padusan sebenarnya lebih dari sekadar itu.
Padusan memiliki arti yang dalam, yaitu untuk melakukan pemikiran mendalam dan melihat kembali perbuatan yang pernah dilakukan di masa lalu serta kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.
Oleh karena itu, sebaiknya tradisi ini dilakukan sendirian di tempat yang tenang. Mengapa demikian?
Di tempat yang sepi diharapkan bisa membuat seseorang lebih mengenali diri sendiri dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Baca Juga: Sejarah Padusan, Tradisi Masyarakat Jawa Tengah dan Jogja Jelang Puasa Ramadan
Dalam situasi yang tenang, akan timbul kepercayaan dan kesadaran untuk memasuki bulan suci Ramadan dengan kondisi yang suci baik secara lahiriah maupun batin.
Namun, baru-baru ini terjadi perubahan nilai terhadap tradisi padusan ini.
Mandi atau berendam bersama di satu sumber air yang sebelumnya dilakukan sendiri, kini dilakukan bersama-sama sehari sebelum menjalankan ibadah puasa. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi