Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Gus Baha Ungkap Kebiasaan Ini saat Berbuka Puasa Bersama Keluarga Maupun di Pondok Pesantren

Baskoro Septiadi • Selasa, 4 Maret 2025 | 20:02 WIB
Gus Baha (kanan) dan Rektor Unissula Drs Bedjo Santoso MT PhD. (Istimewa)
Gus Baha (kanan) dan Rektor Unissula Drs Bedjo Santoso MT PhD. (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID - KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha menceritakan kebiasaan berbuka puasa.

Kebiasaan berbuka puasa di keluarga dan pesantrennya dia ceritakan saat dialog bersama Prof Muhammad Quraish Shihab dan Najwa Shihab.

Menurut Gus Baha, dalam tradisinya yaitu memberikan kebebasan memilih makan halal yang diinginkan. Hal tersebut disampaikannya.

"Karena mereka para santri masih anak-anak, harus diservis dengan longgar, akhirnya orang tua juga ikut longgar. Longgar dalam maksud, mau makan apa saja boleh. Bukan longgar dalam arti makan berlebihan," katanya.

Menurut Gus Baha, tradisi yang dilakukan di keluarga dan pesantrennya merupakan ajaran dari ayahnya KH Nursalim dan gurunya bernama KH Maimoen Zubair.

Bagi orang saleh, kata Gus Baha, pilihan makanan apapun ketika buka puasa akan dikembalikan ke Allah maka nyaman.

Di balik kelonggaran ada kearifan lain, yaitu bisa memakmurkan pedagang selama Ramadhan karena ada pembeli dagangannya.

"Tradisi bapak saya dan Kiai Maimoen Zubair yaitu longgar tentang menu makanan. Karena tahu Allah yang maha kaya tidak akan miskin. Allah Maha baik, tidak apa-apa menikmati nikmat-Nya," imbuh Gus Baha.

Gus Baha lalu menjelaskan, tradisi kelonggaran dalam memilih makanan ini jika dipandang secara ushul fiqih memiliki tujuan yang mendalam. Para ulama di Indonesia tahu bahwa di dunia ini banyak maksiat.

Perlawanan besar dari para kiai yaitu melatih masyarakat menikmati sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah, seperti makan makanan yang halal.

Maka tak heran, tokoh agama dari pesantren dan para kiai itu longgar dalam bercanda, duduk santai, makan karena manusia berpotensi maksiat.

Dalam kitab Bukhari, kata Gus Baha, ada kisah tentang Nabi Ayub, setelah dihukum Allah lalu jadi kaya lagi.

Nabi Ayub melihat belalang dari emas, lalu mengambil banyak sekali. Lalu ditegur Allah, kenapa mengambil sebanyak itu padahal sudah kaya. Nabi Ayub menjawab, siapa yang bisa kenyang dengan rahmat-Mu.

"Jika dipandang dalam ushul fiqih, ada kenikmatan bersama yang tidak perlu dilakukan lewat maksiat. Menikmati taat, diharapkan tidak mencari kesenangan lewat jalur maksiat. Jadi longgar dalam makanan ini bukan maksudnya longgar dalam berlebihan," ungkapnya.

Gus Baha menambahkan, tradisi selanjutnya yang dilakukannya sebelum dan sesudah buka puasa yaitu merasa lemah di depan Allah ketika lapar.

Lalu bersyukur kepada Allah ketika sudah kenyang. Anjuran bersyukur ini menurut Gus Baha adalah ajaran nabi seperti dalam hadits riwayat Imam Bukhari. (*/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#najwa shihab #KH Ahmad Bahauddin #puasa #Gus Baha