RADARSEMARANG.ID - Nugroho, 48, memiliki kisah yang cukup pelik dalam meraih kedamaian hidup. Saat memilih menjadi mualaf membuatnya dibenci, diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga (KK).
Ya Nugroho memiliki latar belakang Nasrani yang kuat. Ia bahkan bersekolah di Seminari dan menjadi calon pastor. Tetapi, hatinya bergejolak, saat mendalami Alkitab.
Nugroho lantas belajar Alquran, meskipun tidak mempelajari isinya. Tetapi semakin mendalami Alquran, ia semakin tertarik mendalaminya.
Dari situ, Nugroho kemudian semakin tertarik untuk menjadi muslim. Dua tahun lalu ia semakin mendalami dan mempelajari Islam, seperti salat dan apa saja mengenai Islam, meskipun belum bersyahadat.
"Akhirnya ketahuan sama istri dan keluarganya, saya pas di luar kota, pulang-pulang ketahuan ada sajadah di rumah. Saya diberi pilihan keluarga atau Agama Islam, dengan pertimbangan, saya meninggalkan isteri karena tidak mau saya ajak," jelasnya.
Nugroho kemudian lari ke orang tuanya, lebih parahnya saat ia bercerita hendak mualaf, Nugroho dicoret dari Kartu Keluarga (KK). Berbekal uang saku dan baju apa adanya, Nugroho meninggalkan rumahnya di Kota Semarang menuju ke Yogyakarta.
"Menurut kata hati, saya berkelana dari satu masjid ke masjid lainnya di Yogyakarta, saya masih bisa menginap di hotel," jelasnya.
Baca Juga: Libur Sekolah Ramadan Sampai Kapan? Simak Jadwalnya Sesuai SEB 3 Menteri
Setelah hidup mengelana selama empat bulan, Nugroho pulang ke Kota Semarang. Pada bulan ke lima, Nugroho kehabisan uang, kemudian tinggal di RSUP Kariadi.
Ia memilih tidur di ruang tunggu. Sembari berkomunikasi untuk bisa bergabung dengan Mualaf Center Indonesia.
"Waktu itu dengan Ustad Amru, saya cerita keadaan saya, sehingga saya ditemukan dengan Ustad Agus dari Mualaf Center Indonesia Semarang, saya dijemput dan dibawa ke Mualaf Center," jelasnya.
Setelah dijemput, Nugroho disyahadatkan di Mualaf Center Indonesia. Ia ditampung di Mualaf Center Indonesia sejak lima bulan lalu.
Saat ini, Nugroho memegang layanan ambulance di Mualaf Center Indonesia. Banyak pengabdian kepada masyarakat yang dijalani.
"Gaya hidup juga berubah, saya merasa lebih baik, Islam harga mati, tidak ternilai. Bahkan orang tua saya tinggalkan," jelasnya.
Hingga saat ini, keluarganya masih menolak kehadiran Nugroho. Bahkan, pihak gereja masih mencari keberadaannya. Karena dulu ia misionaris.
"Anak-anak muda dan masyarakat mari belajar agama Islam yang benar dan Istiqomah, serta semangat. Saya sudah tua masih semangat belajar Islam," ujarnya. (fgr/fth)
Editor : Baskoro Septiadi